<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5746649461231290204</id><updated>2011-07-28T22:03:07.019+07:00</updated><category term='uneg-uneg'/><category term='Para Puisi'/><category term='Self Contemplation'/><title type='text'>Mencari Makna</title><subtitle type='html'>Yang kuyakini hakekat hidup ini adalah pencarian makna.
Makna yang akan menentukan persepsi kita terhadap kehidupan. Pertanyaan yang akhirnya membawa kita mengenal Tuhan. Dengan kata lain, "Mencari Makna" adalah tugas kita di Dunia...</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Adhitya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13803213516125201732</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_y6MPqq5kf9o/SP1iBud8aFI/AAAAAAAAAAU/S6qVzwAoXto/S220/100_0085.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>48</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5746649461231290204.post-4204089406185987021</id><published>2009-05-20T00:45:00.002+07:00</published><updated>2009-05-20T00:48:04.035+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Para Puisi'/><title type='text'>dengan menyebut namamu Tuhan,</title><content type='html'>&lt;em&gt;kupanjatkan doa padamu Tuhan,&lt;br /&gt;disepertiga helai malam terakhir&lt;br /&gt;sekelumit pemikiran kini ramai berbicara&lt;br /&gt;tidurkanlah kalbu hambamu yang resah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kubacakan ayat-ayat sucimu Tuhan&lt;br /&gt;disela air mata yang berkisah  &lt;br /&gt;meriwayatkan risalah kegelisahan&lt;br /&gt;dalam jiwa senyap yang merayap diwaktu &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kucoba menyibak jelaga dengan menyebut namamu Tuhan,&lt;br /&gt;mencari poros masalah yang mengembun sesakkan dada&lt;br /&gt;adakah ini naluri rindu yang menusuk memburu mimpi,&lt;br /&gt;Sebuah isyarat yang Engkau selipkan dimalam, agar aku terbangun?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5746649461231290204-4204089406185987021?l=adhityamencarimakna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/feeds/4204089406185987021/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5746649461231290204&amp;postID=4204089406185987021&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/4204089406185987021'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/4204089406185987021'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/2009/05/dengan-menyebut-namamu-tuhan.html' title='dengan menyebut namamu Tuhan,'/><author><name>Adhitya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13803213516125201732</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_y6MPqq5kf9o/SP1iBud8aFI/AAAAAAAAAAU/S6qVzwAoXto/S220/100_0085.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5746649461231290204.post-1035590250019683391</id><published>2009-05-20T00:45:00.000+07:00</published><updated>2009-05-20T00:46:15.992+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Para Puisi'/><title type='text'>bila puisi menari</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;bila puisi menari &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(kamu bisa memberi tanpa mencintai tapi tidak bisa mencintai tanpa memberi)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka bilang puisi takkan menari&lt;br /&gt;Jika tidak ada kekasih yang menyanyikan&lt;br /&gt;Hati membiru kala ramu bait kata dari telaga rasa&lt;br /&gt;Lalu apa artinya pesan jika tidak disampaikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka bilang puisi datang memelas rasa&lt;br /&gt;Jika harapan terkapar tak berkesesuaian nyata&lt;br /&gt;Rindu menangis di malam yang membisukan makna&lt;br /&gt;Lalu apa artinya rasa jika hati tak mampu mengungkapkannya &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka bilang puisi memperkosa cinta&lt;br /&gt;Jika pujangga menodong pujaan hati dalam bait rayu&lt;br /&gt;Berharap syair menumbuhkan rindu dihatinya&lt;br /&gt;Lalu apa artinya secarik kertas penuh romantisme kata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, dan mereka terus bilang bahwa aku gila&lt;br /&gt;Tentu saja puisiku takkan bernyawa, ia hanya kata !!!&lt;br /&gt;Syair yang tertangkap pena dari sisa luka angin malam&lt;br /&gt;Lalu apa artinya menumpuk perih karena cinta tak berbalas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untukmu para pujangga pencari cinta hakiki&lt;br /&gt;Berhenti sembunyikan nyanyianmu hanya karena doa itu tak bersambut&lt;br /&gt;Persembahkan syair dan usaplah pamrih itu dari mukamu&lt;br /&gt;Buat apa memperumit gelora dengan kata, cinta takkan sembuh tanpa luka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5746649461231290204-1035590250019683391?l=adhityamencarimakna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/feeds/1035590250019683391/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5746649461231290204&amp;postID=1035590250019683391&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/1035590250019683391'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/1035590250019683391'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/2009/05/bila-puisi-menari.html' title='bila puisi menari'/><author><name>Adhitya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13803213516125201732</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_y6MPqq5kf9o/SP1iBud8aFI/AAAAAAAAAAU/S6qVzwAoXto/S220/100_0085.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5746649461231290204.post-2595550518882301149</id><published>2009-05-20T00:40:00.000+07:00</published><updated>2009-05-20T00:44:14.326+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Para Puisi'/><title type='text'>h u j a n</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;h u j a n&lt;br /&gt;Cinta adalah pilihan, nafsu adalah emosi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta itu tak terdefinisi seperti hujan yang mendinginkan bumi. Rintik airnya memendarkan kesejukan pada tanah yang menangis meratapi musim kemarau. Lihatlah pada awan mendung, disana ada danau tempat cinta merenungi matahari yang membiaskan panas pada laut. Wahai angin, kemana takdir membawa hujan pergi. Dimana rintik-tintik air harus meluapkan rindu pada bumi dan pohon-pohon. Lihatlah disitu bumi telah mati, terkubur menjadi gurun. Sementara ditempat lain hujan menjadi badai dan bumi menjadi banjir&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;Angin, tanah, dan embun. Kalian sering membasuhi cahaya pagi dengan janji malam. Padahal gelap malam itu sering membawa kesesatan pada harapan. Jangan biarkan mimpi itu merayumu pada kata-kata berbau surga. Cinta itu hujan, dan awan itu membawa rindu pada angin. Panjatkanlah doa pada langit agar hujan menurunkan kembali kesejukan. Duhai tuhan, jangan kau tutupi hati dengan kemalangan. Sesungguhnya tanah sudah gersang, doa merindukan hujan. &lt;br /&gt;Namun bukan hujan yang memabukan, agar jiwa tidak banjir merana terlalu menampung cinta. Bukan hujan bergemuruh datang atas nama badai, bersambut kilat membakar hati. Dan sekejap hilang sisakan genangan becek yang tak lama menjelma gersang. Tapi hujan yang diberkati surga. Datang atas nama jawaban doa, tumbuh di hati memaknai jalan rindu. Dan hidup tak lagi sesepi diamnya malam, lengkingan harapan pun melunturkan satir yang selalu hinggap disudut bibir. Tak ada paksaan, hanya ucap syukur tanpa jeda&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Sekarang bumi telah basah, jiwa telah tumbuh tanaman yang selalu bermunajat atas nama cinta. Air, semua bernyawa dalam balutannya. Udara, ruang tempat angin berenang bebas mengejar rindu. Semua berlaku sesuai kodratnya. Seperti manusia yang berfikir tentang cinta... cinta yang ranum menjadi makna pembicaraan hati yang berderai&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5746649461231290204-2595550518882301149?l=adhityamencarimakna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/feeds/2595550518882301149/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5746649461231290204&amp;postID=2595550518882301149&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/2595550518882301149'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/2595550518882301149'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/2009/05/h-u-j-n.html' title='h u j a n'/><author><name>Adhitya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13803213516125201732</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_y6MPqq5kf9o/SP1iBud8aFI/AAAAAAAAAAU/S6qVzwAoXto/S220/100_0085.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5746649461231290204.post-4234450702027790360</id><published>2009-05-09T14:43:00.001+07:00</published><updated>2009-05-20T00:40:50.340+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Self Contemplation'/><title type='text'>Katakan cukup [pada ketamakan]</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Akan ada selalu orang yang lebih berkecukupan darimu, akan ada orang yang lebih mampu darimu. Oleh karena itu katakanlah cukup, cukupkan nafsumu. Jangan terlalu mengumbar nafsumu ingin memiliki segala keinginan didepan matamu. Jangan mengiri berlebihan sehingga malah membuatmu terobsesi. Ingatlah keinginan itu tidak akan berhenti sampai disitu saja. Setelah terpenuhi satu akan ada lagi yang lain dan lain lagi. Oleh karena itu cukupkan semua untuk yang terpenting saja. Aku tidak mengatakan memiliki keinginan itu salah, hanya saja coba pikirkanlah terlebih dahulu.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Orang itu cenderung akan selalu merasa kurang, merasa hidup itu tidak adil ketika melihat (membandingkan) keadaannya dengan keadaan orang lain yang lebih baik dan cenderung untuk akan bersyukur ketika melihat kehidupan orang lain yang berada dibawah keadaannya. Sabarkanlah nafsumu, tundukan pandangan dan berendah hatilah. Apapun keadaanmu, akan masih ada orang lain yang memiliki keadaan lebih buruk darimu, bahwa Tuhan telah menciptakan kita dengan keadaan yang berbeda-beda, bukan untuk membuat kita tersiksa tetapi agar kita mampu memahami nilai, bahwa setiap manusia itu berbeda dan ujian hidup itu pasti datang kepada siapapun orangnya. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Bahwa makna dan pelajaran yang berharga itu hanya bisa disaring dan direnungkan setelah kita lulus dari ujian hidup. Pengalaman itu baru didapat setelah kita bisa mengatasi persoalan hidup, oleh karena itu pengalaman itu unik bagi setiap manusia dan membandingkan isi kantongmu dengan kantong orang lain sebenarnya sungguh tidak bijaksana. Karena itu berarti kita mengingkari nikmat yang telah ada dalam genggaman kita, melupakannya demi meraih nikmat yang ada ditangan orang lain. Sungguh egois!&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Jangan menjadi silau dengan harta, karena harta tidak bisa menyelamatkanmu dari kesedihan, kekosongan dan kesakitan. Harta sejatinya hanya sarana, alat untuk membantumu menuju impianmu. Tetapi sebagai alat, jangan mengangkatnya menjadi tuan. Ketika kita mulai gila-gilaan bekerja dan memeras tenaga demi meningkatkan harta, seolah-olah hartalah tolak ukur kebahagiaan kita. Bahwa semakin banyak harta yang dapat kita kumpulkan semakin bahagia kita. Jangan menjadi salah kaprah dengan role model yang kita lihat di layar kaca atau di kehidupan sehari hari. Orang-orang seperti kerabat dan orang tua mencontohkan untuk bekerja demi menghimpun uang. Menabung sebagian dan membelanjakan sebagian lainnya. Begitu seterusnya. Bukan berarti itu salah, tentu saja seperti itulah roda kehidupan, namun bukan berarti itu adalah tujuan. Kamu harus miliki hidupmu sendiri, bekerjalah karena kamu suka dengan pekerjaan itu, hiduplah dengan menjadi bermanfaat bagi orang lain dan sempatkanlah untuk menikmati pemandangan sekitar. Jangan jadikan hidupmu budak untuk mencari uang, yang akhirnya hanya uang sajalah yang kamu miliki. Jadikanlah hidupmu berarti, dengan mencari makna hidupmu sendiri dan matilah tanpa meninggalkan penyesalan.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Life has its own irony, ketika muda memiliki banyak impian tetapi tidak bisa memilikinya karena tidak memiliki harta. Ketika tua harta sudah terkumpul banyak, tetapi keinginan-keinginan masa muda dulu menjadi usang tergantikan kekosongan hidup, kesehatan yang semakin menurun dan hidup yang diambang batas. Apakah seperti itukah hidup yang kamu inginkan? Apa bedanya dengan kerbau. Bekerja, makan, bekerja, makan... hidup itu seharusnya memiliki tujuan yang lebih mulia. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;Apakah esensi kehidupan itu? Apakah dengan pemenuhan rasa haus akan keinginan kita berarti kita telah mencapai hakikat hidup? Apakah dengan pemenuhan lapar mata dan iri hati dapat dikatakan  kita telah memiliki kepuasan hidup? Jika segala sesuatu yang mudah dicapai tidak dapat dinikmati, apakah segala sesuatu yang sulit dicapai itu berharga? Jika kita mati tidak membawa apa-apa kecuali dosa dan pahala, pentingkah masih mengejar rupa  dunia dan perhiasannya? Dan jika semuanya pasti berakhir, salahkah jika kita hanya menonton dari tribun tanpa harus memulai langkah pertama ke perlombaan menuju akhir itu?&lt;br /&gt;Jika kamu masih berfikir hidup untuk dunia, pikiranmu hanya terjebak kepada konsumtifisme –persis seperti yang pengiklan-pengiklan dimedia inginkan- hanya sesaat, lalu kemanakah akhirnya arah yang kamu tuju setelah pemenuhan-pemenuhan ego itu tercapai? Hanya ruang kosong di dada. Seongok cita-cita materi yang akhirnya tidak bisa membawamu kepada kebahagian sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misi&lt;br /&gt;Aku percaya tuhan tidak mengijinkan kita lahir di dunia hanya untuk mati dengan pelajaran hidup yang tidak ada artinya. Kita adalah spesial, mahluk yang diberi anugerah terbesar dibanding semua mahluk yang ada : kehendak bebas!! Kebebasan memilih dan kebebasan berbuat. Jangan sia-siakan hidup ini hanya untuk mengisinya dengan kesedihan, ambisi materi dan hal-hal lain yang tidak bertahan selamanya. Aku percaya, kita, kamu dan aku adalah manusia-manusia yang dilahirkan dengan misi. Misi yang teramat penting untuk dilupakan dan teralihkan dengan tawaran-tawaran dunia yang semu. Misi itu berbeda beda untuk setiap kita, namun secara garis besar, menjunjung dan memelihara nilai-nilai kemanusiaan adalah misi kita yang sudah tertanam (fitrah) untuk kita amanatkan. Apapun agama suku dan rasnya, setiap manusia memiliki empati yang sama ketika melihat  nilai-nilaii kemanusiaan dinjak-injak oleh kepentingan sepihak, untuk kemudian berjuang untuk mempertahankan kemanusian itu. Setiap manusia sewajarnya memikirkan pentingnya nilai keluarga diatas kepentingan pekerjaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5746649461231290204-4234450702027790360?l=adhityamencarimakna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/feeds/4234450702027790360/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5746649461231290204&amp;postID=4234450702027790360&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/4234450702027790360'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/4234450702027790360'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/2009/05/katakan-cukup-pada-ketamakan.html' title='Katakan cukup [pada ketamakan]'/><author><name>Adhitya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13803213516125201732</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_y6MPqq5kf9o/SP1iBud8aFI/AAAAAAAAAAU/S6qVzwAoXto/S220/100_0085.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5746649461231290204.post-1970833440508281980</id><published>2009-05-09T14:30:00.000+07:00</published><updated>2009-05-09T14:43:18.090+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Para Puisi'/><title type='text'>Telat</title><content type='html'>Akirnya, nasib akan mengejar mereka yang lari darinya....&lt;br /&gt;Seperti waktu yang tak bisa lari dari kodratnya, untuk selalu berganti&lt;br /&gt;Aku justru memilih bersembunyi dibalik cahaya, layaknya bayangan &lt;br /&gt;Menjadi pengecut terhadap ketakutan kegagalan yang belum tentu terjadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berharap mampu menunda, dan terus menunda, hingga tak terelakan lagi&lt;br /&gt;Menangguhkan janji demi cicilan waktu luang yang sepertinya menyenangkan&lt;br /&gt;Baru kini kusadari, penyesalan itu tidak datang terlambat&lt;br /&gt;Ia datang selalu disaat yang tepat, bagi jiwa yang telah terlambat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya aku ingin seperti air yang terus berkelana, selusuri langit dan bumi&lt;br /&gt;Tapi air tak mampu melelehkan kodratnya untuk selalu berubah wujud&lt;br /&gt;Lalu aku ingin seperti angin yang ringan, tak berwujud nan pergi sekehendak hati&lt;br /&gt;Tapi angin tak bisa memegang, merenggang waktu yang mendorongnya kesana kemari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini kusadari, semua jalan pasti bercabang, semua pilihan selalu ada resiko&lt;br /&gt;Kita hidup tak bisa melawan hukum alam, memanfaatkannya atau terlindas karenanya&lt;br /&gt;Wahai takdirku, maafkan jiwaku yang lemah mewarnai jalan hidupku&lt;br /&gt;Bantu aku menemukan jalanku kembali, mengejar masa depan tinggalkan penyesalan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5746649461231290204-1970833440508281980?l=adhityamencarimakna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/feeds/1970833440508281980/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5746649461231290204&amp;postID=1970833440508281980&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/1970833440508281980'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/1970833440508281980'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/2009/05/telat.html' title='Telat'/><author><name>Adhitya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13803213516125201732</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_y6MPqq5kf9o/SP1iBud8aFI/AAAAAAAAAAU/S6qVzwAoXto/S220/100_0085.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5746649461231290204.post-3131730911360765725</id><published>2009-03-23T22:09:00.000+07:00</published><updated>2009-03-25T18:42:22.996+07:00</updated><title type='text'>kebersamaan</title><content type='html'>&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5746649461231290204-3131730911360765725?l=adhityamencarimakna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/feeds/3131730911360765725/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5746649461231290204&amp;postID=3131730911360765725&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/3131730911360765725'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/3131730911360765725'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/2009/03/kebersamaan.html' title='kebersamaan'/><author><name>Adhitya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13803213516125201732</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_y6MPqq5kf9o/SP1iBud8aFI/AAAAAAAAAAU/S6qVzwAoXto/S220/100_0085.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5746649461231290204.post-8353249100736839701</id><published>2009-03-23T20:08:00.004+07:00</published><updated>2009-03-23T22:08:30.890+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='uneg-uneg'/><title type='text'>Kenapa aku ingin menulis</title><content type='html'>“Menulis bukan tentang berpikir, melainkan tentang menumpahkan perasaan”&lt;br /&gt;Melatih diri kita untuk menulis membantu kita berkomunikasi dengan diri kita sendiri, dengan menulis (terutama mengenai pemikiran dan uneg-uneg kita) kita membuka pintu dialog dengan hati kita, yang berisi akumulasi pengalaman, keinginan dan suara-suara lirih yang sering kita hiraukan dalam hingar-bingar kehidupan yang bernama intuisi. Jika kemampuan berbicara melatih diri untuk berkomunikasi dengan orang lain, menulis selain juga bisa digunakan untuk bertukar ide dan pemikiran, tapi menurutku juga bisa digunakan untuk sarana berkeluh kesah kepada diri sendiri. Karena satu-satunya yang tidak bisa kita bohongi adalah hati kita, maka dengan menulis membantu kita menselaraskan keinginan antara hari dan pikiran, itulah sebabnya banyak orang menulis diary.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain sebagai sarana untuk berkontemplasi, menulis juga mengasah otak untuk mengkomunikasikan ide dalam susunan tata bahasa yang baik, yang bisa dimengerti orang dan bisa mempengaruhi orang lain. Karena dunia ini digerakan dengan pemikiran, bukan gravitasi. Manusia merevolusi cara pemikirannya dengan bantuan karya tulis. Itulah sebabnya mengapa Membaca (tulisan orang lain) adalah jendela dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba pikirkan, Kekuatan apa yang dapat merubah manusia dalam jangka panjang? Kekuasaan, Wilayah yang dikuasai, Pamor, Kontroversi ? Satu-satunya yang dapat merubah manusia di jangka panjang adalah karya tulis, manusia yang paling dikenang dan berpengaruh bukanlah yang memiliki daerah kekuasaan terluas, kemampuan militer yang tangguh, kekejaman atau lainnya. Lihatlah Alexander the great, wilayah yang setengah mati ditaklukannya akhirnya hanya dikenang lewat buku sejarah, lihatlah Adolf Hitler, meskipun ia menganggap kebangkitan bangsanya akan dicatat sejarah pada akhirnya ideologinya dikecam dan menjadi ikon kebutralan. Coba bandingkan dengan aristoteles, ibnu sina, Newton, Darwin, dsb. Mereka hanyalah manusia yang memiliki keterbatasan fisik dan kekuasaan tetapi dalam jangka panjang pemikiran mereka merubah cara kita memandang kehidupan, membawa perubahan dan perkembangan. Itulah sebabnya para Nabi sebagai utusan tuhan yang diwahyukan kitab suci kepadanya cenderung membawa dampak yang sangat besar pada kemanusiaan. Lihatlah Nabi Muhamad, Isa Almasih dan Musa. Mereka membentuk tiga agama besar yang dianut sebagian besar masyarakat dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba ingat para pahlawan kita, seberapa banyak dari mereka yang benar-benar dikenang jasa-jasanya? Bukankah hanya segelintir orang yang nama dan wajahnya dikenal oleh orang banyak? bagaimana dengan para pahlawan yang tak dikenal namanya, bukankah mereka juga sama-sama berjuang mempertaruhkan namanya demi bangsa? Kenapa kematian seribu prajurit takkan dikenang dunia sebagai pahlawan, tetapi kematian seorang jendral yang maju perang dengan gagah berani akan dikenang. Bukankah prajurit sama-sama berjuang mati-matian bersama jendralnya?, bukankah prajurit itu harusnya juga patut dikenang setiap individunya? Tapi mengapa hanya jendralnya saja? Menurutku itu karena seribu prajurit hanyalah pion yang digerakkan. Mereka tidakkan bermakna jika tidak ada satu orang yang mengkomando, dengan pemikirannya mengenai strategi perang untuk memenangi peperangan. Coba lihat juga orang-orang yang berjasa bagi perkembangan dunia. Bahkan jika seorang manusia menyumbangkan nyawanya demi kebaikan dunia, masa depan tidakkan mencatatnya sebagai pejuang kemanusiaan jika tidak ada bukti tertulisnya. Tetapi seberapa besar sumbangsih pemikirannya lah yang akhirnya dapat merubah cara pandang manusia ke tingkat yang lebih maju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu takkan ku biarkan uneg-uneg pemikiranku ini hilang dan mati bersamaku. Biarkan aku menulis, tak peduli bermanfaat atau tidak. Tak peduli apa yang aku tulis sudah ada sebelumnya atau tidak. Tak peduli apakah ada orang yang akan membacanya atau tidak. Setidaknya ada sesuatu yang aku sumbangkan kepada dunia. Meskipun ini hanya retorika saja, semoga dunia menjadi tempat yang lebih baik dimasa depan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5746649461231290204-8353249100736839701?l=adhityamencarimakna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/feeds/8353249100736839701/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5746649461231290204&amp;postID=8353249100736839701&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/8353249100736839701'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/8353249100736839701'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/2009/03/kenapa-aku-ingin-menulis.html' title='Kenapa aku ingin menulis'/><author><name>Adhitya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13803213516125201732</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_y6MPqq5kf9o/SP1iBud8aFI/AAAAAAAAAAU/S6qVzwAoXto/S220/100_0085.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5746649461231290204.post-1410322406822460417</id><published>2009-03-23T19:13:00.001+07:00</published><updated>2009-03-23T20:08:04.178+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='uneg-uneg'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Self Contemplation'/><title type='text'>Arti Menunggu</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;    Aku pernah menulis bahwa kadang hal yang baik itu pantas untuk ditunggu (The Power of Cinta). Namun ucapan Mario Teguh semalam membangunkan aku dari lamunanku. Beliau berkata, hal hal yang baik datang bagi yang menunggu, tetapi tidak bagi yang menunggu terlalu lama. Yang aku sadari, mungkin aku terlalu lama menunggu sesuatu yang absurd, terlalu abstrak untuk diharapkan. Yang kuakui, apa yang kulakukan selama ini hanyalah menunggu dan berharap. Seperti kebanyakan masyarakat indonesia diluar sama yang telah kekenyangan menonton sinetron yang menjual mimpi. Aku sadari, aku telah jengah akan mimpi. Mimpi dan penundaan itu tidak bisa hidup dalam satu hati, mimpi dan penungguan itu tidak bisa disamakan dengan kata sabar, ia hanyalah alasan, alasan untuk mencekoki pikiran gundah ini dengan pil ekstasi yang bernama lamunan.&lt;br /&gt;    Seperti kata pak mario, Melakukan atau tidak, memulai atau menunda, kedua-duanya menggunakan waktu, tapi hanya satu yang memiliki kesempatan untuk berhasil.  Semanis apapun kita mendefinisikannya, mimpi itu selamanya hanya lamunan omong kosong bagi jiwa yang enggan keluar rumah berkeringat menjemputnya. Gagal atau tidak dalam mendapatkannya, sebenarnya tidak masalah. Karena keberuntungan itu lebih berpihak kepada yang kurang pandai tetapi banyak mencoba daripada kepada mereka yang pandai tetapi tidak bertindak apa-apa.  Jika kita merasa takut dengan kegagalan dan penolakan, maka seharusnya janganlah berani untuk bermimpi. Jalani saja kehidupan yang membosankan ini dan matilah dalam penungguan hingga tidak ada orang lain yang menganggapmu penting.&lt;br /&gt;     Fakta bahwa kita berani memimpikannya, seharusnya menyadarkan kita bahwa kehidupan yang disajikan dihadapan kita saat ini tidak memuaskan keinginan kita, bahwa ada sesuatu diluar daya upaya kita yang ingin kita miliki, namun saat ini belum bisa kita dapatkan karena suatu sebab diluar kehendak kita. Dari sini seharusnya menggugah kita untuk berharap dan melangkah keluar rumah mencari impian tersebut. Disinilah tempat aku terjelembab berulang kali. Aku sering marah pada diriku sendiri terhadap waktu yang kuhamburkan sia-sia dalam penantian yang terlalu lama, bahwa aku gagal meresapi pelajaran “membuat kesalahan dan bahkan gagal dalam melakukan sesuatu yang berguna adalah lebih baik daripada tidak pernah salah karena tidak melakukan apapun”. Menjadi perfeksionis itu tidak masuk akal, sepertinya aku lupa pelajaran dari tulisanku sendiri. &lt;br /&gt;    Bagaimanapun juga, kita tidak pantas mengharapkan sesuatu yang besar jika kita tidak berbuat yang pantas untuk menyambutnya. Arti menunggu itu akan menjadi benar jika kita juga mengupayakannya dengan usaha, bukan berpangku tangan mengharu biru dalam doa. Seperti peribahasa&lt;br /&gt;“To accomplish great things, we must not only act, but also dream, not only plan, but also believe”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5746649461231290204-1410322406822460417?l=adhityamencarimakna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/feeds/1410322406822460417/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5746649461231290204&amp;postID=1410322406822460417&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/1410322406822460417'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/1410322406822460417'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/2009/03/arti-menunggu.html' title='Arti Menunggu'/><author><name>Adhitya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13803213516125201732</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_y6MPqq5kf9o/SP1iBud8aFI/AAAAAAAAAAU/S6qVzwAoXto/S220/100_0085.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5746649461231290204.post-3650156790750571152</id><published>2009-03-23T09:10:00.005+07:00</published><updated>2009-03-23T19:55:49.544+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='uneg-uneg'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Self Contemplation'/><title type='text'>Im Back to Reality !!</title><content type='html'>Ahh, ternyata membangun komitmen itu tidak gampang. Dulu aku bertekad untuk menulis blog setiap dua hari sekali, lalu menjadi seminggu sekali, lalu menjadi kalau sempat, lalu menjadi lupa sama sekali. Alasan, alasan, alasan... Selalu mencari alasan pembenar, siapa sebenarnya yang coba aku tipu? Aku hanya menipu diri sendiri, membangun cita-cita(untuk menulis) melalui penundaan, toh akhirnya akan tergilas oleh waktu sendiri, Dan akhirnya aku harus membangun momentum itu mulai dari awal. Aku membangun blog ini dengan idealisme dan terpuruk karena idealismeku sendiri. Seandainya dunia ini diatur dengan Idealisme niscaya akan ada banyak dunia-dunia kecil yang saling berbenturan satu dengan lainnya, karena masing-masing manusia ingin membangun impian idealismenya sendiri-sendiri,yang akhirnya akan terbentur dengan idealisme orang lainnya yang bernama, Realitas... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realitas itu takkan terelakkan dengan idealisme dan mimpi semata. Kita semua melihat hidup ini dengan mata kepala dan hati yang bernama perspektif. Warna yang sama akan terlihat berbeda oleh dua orang yang berbeda, begitulah kehidupan manusia memandang kehidupan. Toh pada akhirnya dunia ini penuh berisi "apa yang aku pikirkan" dan "apa yang penting bagiku". Sebuah sari individualisme yang tabu di negeri sosialisme (indonesia). Aku memberi judul tulisan ini "Im back to reality", sekedar ingin mengingatkan diriku sendiri, bahwa semanis apapun impian kita, semulya apapun harapan kita, seindah apapun niat kita, semua itu hanya retorika. Omong kosong yang menguap tak berbekas kedalam realitas kehidupan. Karena pada akhirnya, semua cita-cita itu harus dieksekusi, dijalankan. Membicarakan impian tanpa tindakan artinya hanya menertawakan nasib baik yang sudah menunggu didepan pintu kehidupan kita. Kita semua berhak untuk untuk bermimpi, tetapi hanya ada sedikit dari kita yang mau membayar keringat untuk menebus secarik mimpi itu ke realitas, oleh karena itu, "We should back to reality"...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, aku mencoba untuk menulis kembali, tertinggal waktu satu bulan lebih, kini ingin membangun momentum kembali. Semoga tulisan-tulisanku bisa menginspirasi teman-teman.&lt;br /&gt;Aku sadari aku bukan motivator atau orang berpengaruh, dan sering kali kata-kata dari orang biasa sering diacuhkan atau dianggap skeptis. Tapi itu seharusnya kan tidak menghambat seseorang untuk berbuat kebaikan? Apakah kita harus menunggu kita menjadi orang hebat dulu baru mulai menebar kebaikan?&lt;br /&gt;Jika kita ingin berbuat kebaikan mengapa harus membuat suatu syarat dan kondisi tertentu? Jika orang lain tidak menerima kebaikan kita lantas apakah pantas bagi kita untuk menyesali itu dan berhenti berbuat kebaikan? Bukankah itu artinya kita pamrih, mengharap pujian dan balasan (walaupun itu manusiawi)? Aku sendiri menganggap, toh Tuhan Yang Maha Melihat itu tahu tujuanku dan ada pepatah yang mengatakan "tidak ada balasan selain kebaikan bagi orang yang meberi kebaikan". Kurasa itu saja cukup bagiku untuk mulai menulis lagi...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5746649461231290204-3650156790750571152?l=adhityamencarimakna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/feeds/3650156790750571152/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5746649461231290204&amp;postID=3650156790750571152&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/3650156790750571152'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/3650156790750571152'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/2009/03/im-back-to-reality.html' title='Im Back to Reality !!'/><author><name>Adhitya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13803213516125201732</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_y6MPqq5kf9o/SP1iBud8aFI/AAAAAAAAAAU/S6qVzwAoXto/S220/100_0085.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5746649461231290204.post-7210929978606279974</id><published>2009-02-11T22:50:00.000+07:00</published><updated>2009-02-11T22:51:39.398+07:00</updated><title type='text'>Yang tertunda</title><content type='html'>Menjadi besar hanyalah lagu lama&lt;br /&gt;Ketika penundaan ini melelapkan&lt;br /&gt;Mempertaruhkan harapan pada penantian&lt;br /&gt;Yang menjemukan,  omong kosong...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ada yang lain, katamu...&lt;br /&gt;Tapi berhenti melakukan yang seharusnya&lt;br /&gt;Akhirnya tidak gegas menjemput masa depan&lt;br /&gt;Malah mencari alasan tutupi penyesalan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berapa syair yang kau buat percuma&lt;br /&gt;Tak ada yang datang cuma-cuma&lt;br /&gt;Semua perjuangan dan doa&lt;br /&gt;Tak ada yang sia-sia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, waktu itu tak berpihak&lt;br /&gt;Umur itu membunuhmu perlahan&lt;br /&gt;Hingga ucap penyesalan atau syukur&lt;br /&gt;Menutup mulutmu selamanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepenggal kisah menerangi perjalanan&lt;br /&gt;Menginspirasi atau menakuti&lt;br /&gt;Musim berganti tumpang tindih &lt;br /&gt;Tetap saja tidak ada yang bisa menerka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana akhir cerita&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5746649461231290204-7210929978606279974?l=adhityamencarimakna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/feeds/7210929978606279974/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5746649461231290204&amp;postID=7210929978606279974&amp;isPopup=true' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/7210929978606279974'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/7210929978606279974'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/2009/02/yang-tertunda.html' title='Yang tertunda'/><author><name>Adhitya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13803213516125201732</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_y6MPqq5kf9o/SP1iBud8aFI/AAAAAAAAAAU/S6qVzwAoXto/S220/100_0085.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5746649461231290204.post-2634281285678036506</id><published>2009-02-11T22:48:00.001+07:00</published><updated>2009-02-11T22:50:23.901+07:00</updated><title type='text'>Yang tak terselesaikan</title><content type='html'>(Puisi kepada penyesalan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah arti kata mencintaimu&lt;br /&gt;Jika aku tak bisa persembahkan yang terbaik&lt;br /&gt;Apa maksud hati merindu padamu&lt;br /&gt;Jika menuntunmu kembali saja tak mampu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin saja kita terlalu banyak berandai&lt;br /&gt;Tentang makna kasmaran, tentang arti kodrat&lt;br /&gt;Atau kita terlalu menyederhanakan persoalan&lt;br /&gt;Seolah waktu akan meluruhkannya begitu saja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika saja dunia ini dibuat dengan kata seandainya&lt;br /&gt;Niscaya ku kiaskan semua yang indah bagimu&lt;br /&gt;Semua yang bisa ku miliki diperuntukan atas namamu&lt;br /&gt;Tapi bukankah itu palsu, dan kita masih disini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku begitu menggebu mencintaimu...&lt;br /&gt;Melebihi akal sehat menasehatiku&lt;br /&gt;Aku begitu bernafsu menginginkanmu&lt;br /&gt;Melangkahi keterbatasan kemampuanku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin aku salah menafsirkan raut muka&lt;br /&gt;Sehingga kemurnian hati tercerai murka&lt;br /&gt;Aku mengerti, kita masih belajar meraba cinta&lt;br /&gt;Memperjuangkan sesuatu yang bernilai itu memang tak mudah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang aku mengerti, niat itu hanya omong kosong&lt;br /&gt;Jika tak dilakukan, jika tak diperjuangkan&lt;br /&gt;Sampai akhir zaman, khayalan tetap mengawang&lt;br /&gt;Kenyataan selamanya adalah tempat kita bernafas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga kamu mengerti,  buah simalakama ini&lt;br /&gt;Kenyataan itu bisa pahit dan manis&lt;br /&gt;Tergantung bagaimana kamu mensikapinya&lt;br /&gt;Masa sulit itu pasti datang, cepat atau lambat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pupuskan sembab muka itu, aku masih disini&lt;br /&gt;Jika asa itu sirna, berdua mari kita nyalakan lagi &lt;br /&gt;Peganglah tanganku dan melangkahlah bersama&lt;br /&gt;Dimana kita menggambar peta kehidupan,&lt;br /&gt;... sedikit demi sedikit ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang tak terselesaikan jadikanlah ladang &lt;br /&gt;Yang kita semai benih harapan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5746649461231290204-2634281285678036506?l=adhityamencarimakna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/feeds/2634281285678036506/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5746649461231290204&amp;postID=2634281285678036506&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/2634281285678036506'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/2634281285678036506'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/2009/02/yang-tak-terselesaikan.html' title='Yang tak terselesaikan'/><author><name>Adhitya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13803213516125201732</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_y6MPqq5kf9o/SP1iBud8aFI/AAAAAAAAAAU/S6qVzwAoXto/S220/100_0085.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5746649461231290204.post-7928275447217443405</id><published>2009-02-03T22:37:00.003+07:00</published><updated>2009-02-04T00:26:40.413+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Self Contemplation'/><title type='text'>Arti syukur</title><content type='html'>Apa itu arti syukur? Bila diterjemahkan secara bebas berarti berterima kasih terhadap apa yang terjadi di diri kita. Tapi bukankah kita cenderung bersyukur ketika bahagia dan cenderung menyalahkan ketika tertimpa musibah? Lalu bagaimana syukur itu bisa masuk dan mengobati kesedihan? Hari ini aku baru saja pulang dari njagong di Graha Saba UGM. Makanannya memang kelas atas dan undangannya majemuk sekali. Aku lihat ada manusia yang mengambil makanan sebanyak-banyaknya seperti makanan terakhirnya. Ada yang sedikit seolah makanan itu racun, dan lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kuperhatikan, hubungannya dengan topik ini adalah ada orang yang menerima kehidupannya seperti take it for granted, alon alon waton kelakon, urip koyo banyu mili. Bagi sebagian orang makanan gratis adalah kesempatan mengeruk sebanyak-banyaknya. Ada juga yang menganggap orang lain adalah serigala, baik dimuka tetapi menusuk dibelakang sehingga selalu curiga. Dan ada juga yang lainnya.... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa manusia ingin mengeruk melebihi besar sendoknya? Mengunyah melebihi kapasitas mulutnya, mengambil melebihi tangkupan tangannya. Bukankah akhirnya sia-sia? Kalau dipikirkan, semua demi nafsu. Ya, nafsu yang selalu jika terus dituruti akan menjerumuskan kita dalam jurang penyesalan. Selalu ingini lebih, padahal apa yang sudah dimiliki belum tentu habis digunakan dengan maksimal. Jawabannya Cuma satu. Kurang rasa bersyukur !!!. syukur ibarat rem nafsu. Menyelamatkan diri dari kehampaan jiwa sekaligus memberi rasa aman pada hati. Aman dari rasa kompetisi nafsu sesama manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa syukur berbeda dengan pasrah. Pasrah berarti menerima dengan tidak berdaya. Syukur berarti mensyukuri berkah maupun musibah. Keduanya mempunyai kesamaan, yaitu rasa ikhlas. Tetapi yang satu menerima dengan berterima kasih dan yang satu menerima karena tidak ada pilihan lain. Jika harus memilih, manakah yang kau ambil? Setiap orang punya opini berbeda. Dan tidak ada yang salah dengan itu. Sejujurnya, tidak mudah untuk bersyukur, apalagi atas sesuatu yang tidak berkenan, sesuatu yang diluar ekspektasi kita sebelumnya. Butuh proses yang pasti, tetapi semua itu harus diawali dengan mengingat satu fakta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua yang terjadi atas diri kita adalah kehendak yang diatas, sesuatu yang sudah ditulis dalam kalam. Dan Tuhan tidak pernah salah, maka apa yang terjadi atas diri kita adalah memang untuk diri kita, bukan kejadian kebetulan atau sedang apes atau mujur. Semua sudah digariskan. Sekarang tinggal bagaimana kita menyikapinya, itu saja....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mengingat fakta ini, maka iringilah dengan bersikaplah positif. Semua yang terjadi pada kita adalah ujian, dan Tuhan sendirilah saksinya. Jika ujian ini terasa nikmat maka nikmatilah dengan sewajarnya. Jika itu tidak nikmat maka tetaplah berusaha untuk menikmatinya, anggap sebagai proses yang harus dialami setiap manusia. Bahwa kita bukanlah manusia termalang saat ini. Bahwa ada orang lain yang tidak seberuntung kita. Maka lihatlah kebawah, jangan menengadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang tidak mudah, katakanlah ini hanya teori. Sebuah retorika omong kosong dari orang yang berlagak bijaksana. Tapi bukan berarti tidak mungkin tho?. Semua itu bisa terjadi asalkan kita MAU mengusahakannya. Sebenarnya tidak ada yang mudah di dunia ini, bahkan untuk bayi keluar dari kandungan sampai sakaratul mautpun tidak ada yang mudah. Dan disitulah muncul tantangan dan harapan. Karena manusia cenderung pemalas, jika tidak ada hambatan tidak akan berusaha maka cobalah sedikit demi sedikit. Genggamlah air niscaya itu akan terlepas dari tanganmu, tapi cobalah menciduknya dengan tanganmu. Bukankah esensinya sama, hanya pendekatannya saja yang berbeda, begitu pula dengan syukur.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5746649461231290204-7928275447217443405?l=adhityamencarimakna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/feeds/7928275447217443405/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5746649461231290204&amp;postID=7928275447217443405&amp;isPopup=true' title='9 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/7928275447217443405'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/7928275447217443405'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/2009/02/arti-syukur.html' title='Arti syukur'/><author><name>Adhitya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13803213516125201732</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_y6MPqq5kf9o/SP1iBud8aFI/AAAAAAAAAAU/S6qVzwAoXto/S220/100_0085.jpg'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5746649461231290204.post-1322536203680014185</id><published>2009-02-03T22:29:00.000+07:00</published><updated>2009-02-03T22:37:23.582+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Para Puisi'/><title type='text'>Puisi kepada malam</title><content type='html'>Kutitipkan puisi ini pada selembar malam&lt;br /&gt;Desau angin bercampur pekat awan&lt;br /&gt;Yang tersisa padaku hanyalah rindu&lt;br /&gt;Ku berharap engkau kelak merasa&lt;br /&gt;I think I miss you&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah sesal atau harap&lt;br /&gt;Aku akui hasrat tak padam&lt;br /&gt;Meski semalaman menghitung bintang&lt;br /&gt;Dan masih terlelap memimpikanmu&lt;br /&gt;I think I love you&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I`m falling in love with you&lt;br /&gt;Meski satu kisah belum tuntas&lt;br /&gt;Aku menungguimu dibalik bulan&lt;br /&gt;Agar dapat nyanyikan lagu tidur&lt;br /&gt;Ingin datang padamu seperti hujan&lt;br /&gt;Menumpahkan semuanya dalam satuan&lt;br /&gt;Agar engkau tahu air di awan adalah untukmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah bagian terindah&lt;br /&gt;Dalam mozaik hidupku&lt;br /&gt;Mencintaimu selama waktu&lt;br /&gt;Maka pinjami aku kesempatan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5746649461231290204-1322536203680014185?l=adhityamencarimakna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/feeds/1322536203680014185/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5746649461231290204&amp;postID=1322536203680014185&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/1322536203680014185'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/1322536203680014185'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/2009/02/puisi-kepada-malam.html' title='Puisi kepada malam'/><author><name>Adhitya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13803213516125201732</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_y6MPqq5kf9o/SP1iBud8aFI/AAAAAAAAAAU/S6qVzwAoXto/S220/100_0085.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5746649461231290204.post-6377977862623897668</id><published>2009-02-03T22:21:00.001+07:00</published><updated>2009-02-03T22:29:22.045+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Para Puisi'/><title type='text'>hidup ini</title><content type='html'>hidup ini...&lt;br /&gt;Hanya sekelumit desah&lt;br /&gt;Mengelupasi pikiran&lt;br /&gt;Dari malam-malam&lt;br /&gt;Sesunyi perkuburan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita masih tak mengerti&lt;br /&gt;Arti kehidupan&lt;br /&gt;Sesempit petak sel &lt;br /&gt;Seluas gugus bintang atau&lt;br /&gt;Mungkin di antaranya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesederhana ketidaktahuan&lt;br /&gt;Menjadi acuh atau ricuh&lt;br /&gt;Ada apa di sana?&lt;br /&gt;Menengadah pada jagat luas&lt;br /&gt;Menunduk pada sebutir pasir&lt;br /&gt;Semuanya begitu misteri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selembar waktu, frekuensi, gelombang dan partikel&lt;br /&gt;Satu kaki pada kebodohan dan kaki satunya pada logika&lt;br /&gt;Menjadi tersesat pada misteri, terhisap pada lumpur hidup&lt;br /&gt;Bernama rasa ingin tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kembali pada lembar kusam kitab-kitab agama&lt;br /&gt;Ada sesuatu di luar nalar, sekeras dan segigih apapun&lt;br /&gt;Hanya ada tanya, kemudian tanya. Falsafah matahari...&lt;br /&gt;Untuk mengerti kamu tidak bisa langsung melihatnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya tersisa satu. Apa arti hidup ini&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5746649461231290204-6377977862623897668?l=adhityamencarimakna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/feeds/6377977862623897668/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5746649461231290204&amp;postID=6377977862623897668&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/6377977862623897668'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/6377977862623897668'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/2009/02/hidup-ini.html' title='hidup ini'/><author><name>Adhitya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13803213516125201732</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_y6MPqq5kf9o/SP1iBud8aFI/AAAAAAAAAAU/S6qVzwAoXto/S220/100_0085.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5746649461231290204.post-3204630658442063878</id><published>2009-02-03T22:19:00.003+07:00</published><updated>2009-02-11T23:00:31.947+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Para Puisi'/><title type='text'>Kamu</title><content type='html'>Ada kamu digemericik hujan &lt;br /&gt; Jatuh menggelayut dari labirin kisah &lt;br /&gt; Ada kamu di atas bulan sabit &lt;br /&gt; Redup membasahi jalan gelap  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Walau hati kita terhenti dalam kisah&lt;br /&gt; Mungkin lapuk tertutupi waktu &lt;br /&gt; Kamu masih menjadi tema  &lt;br /&gt; Kini membuatku kepalang  &lt;br /&gt; Dan segala kebencianmu atas diriku &lt;br /&gt; Tak mengapa, asal ada kamu...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5746649461231290204-3204630658442063878?l=adhityamencarimakna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/feeds/3204630658442063878/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5746649461231290204&amp;postID=3204630658442063878&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/3204630658442063878'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/3204630658442063878'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/2009/02/kamu.html' title='Kamu'/><author><name>Adhitya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13803213516125201732</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_y6MPqq5kf9o/SP1iBud8aFI/AAAAAAAAAAU/S6qVzwAoXto/S220/100_0085.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5746649461231290204.post-3779951066287062451</id><published>2009-02-03T22:14:00.002+07:00</published><updated>2009-02-03T22:19:16.741+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Para Puisi'/><title type='text'>Seandainya</title><content type='html'>Seandainya aku terlahir kembali&lt;br /&gt;Kuingin menjadi hujan, agar dapat &lt;br /&gt;mempersatukan dua jiwa yang&lt;br /&gt;saling memandang, namun tak kuasa bertemu&lt;br /&gt;Antara bumi dan awan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya pun tak terlahir kembali&lt;br /&gt;Kuingin menulis jalan tak berujung&lt;br /&gt;Agar dapat menjelajahi&lt;br /&gt;Dua hati di pelosok bumi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimanakah sebenarnya kamu bersembunyi?&lt;br /&gt;wahai permata hati.......&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5746649461231290204-3779951066287062451?l=adhityamencarimakna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/feeds/3779951066287062451/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5746649461231290204&amp;postID=3779951066287062451&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/3779951066287062451'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/3779951066287062451'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/2009/02/seandainya.html' title='Seandainya'/><author><name>Adhitya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13803213516125201732</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_y6MPqq5kf9o/SP1iBud8aFI/AAAAAAAAAAU/S6qVzwAoXto/S220/100_0085.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5746649461231290204.post-4933184925192931988</id><published>2009-02-03T22:05:00.003+07:00</published><updated>2009-02-03T22:13:02.953+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Para Puisi'/><title type='text'>Puisi Cinta yang Tak Selesai</title><content type='html'>Ajari aku&lt;br /&gt;Membuang jelaga&lt;br /&gt;Dengan senyummu&lt;br /&gt;Duhai bintang malamku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajari aku&lt;br /&gt;Mengeja cinta&lt;br /&gt;Dengan tatapanmu&lt;br /&gt;Duhai bulan hatiku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sungguh jatuh hati padamu&lt;br /&gt;Benerang wujudmu menyiangi pekatku&lt;br /&gt;Sementara bayangmu melebur dalam angan&lt;br /&gt;Menyisakan hari yang teramat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkala hadirmu&lt;br /&gt;Membesuk mimpiku&lt;br /&gt;Mengucap salam&lt;br /&gt;Sambil tersenyum&lt;br /&gt;Lalu berdansa&lt;br /&gt;Menyisik awan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini aku meringkuk &lt;br /&gt;dalam kegamangan&lt;br /&gt;sewindu berlalu &lt;br /&gt;tak sekalipun kujumpa dirimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;malam ini wajahmu menghantui &lt;br /&gt;seperti siluman abadi&lt;br /&gt;tapi berparas bidadari&lt;br /&gt;turun ke bumi, renangi jiwa ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bermain riak yang terlanjur tenang&lt;br /&gt;Lihatlah ke sana, ada lembah air mata.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5746649461231290204-4933184925192931988?l=adhityamencarimakna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/feeds/4933184925192931988/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5746649461231290204&amp;postID=4933184925192931988&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/4933184925192931988'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/4933184925192931988'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/2009/02/puisi-cinta-yang-tak-selesai.html' title='Puisi Cinta yang Tak Selesai'/><author><name>Adhitya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13803213516125201732</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_y6MPqq5kf9o/SP1iBud8aFI/AAAAAAAAAAU/S6qVzwAoXto/S220/100_0085.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5746649461231290204.post-7405532566030476540</id><published>2009-02-03T22:02:00.000+07:00</published><updated>2009-02-03T22:05:04.112+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Para Puisi'/><title type='text'>pecundang picisan</title><content type='html'>Berapa banyak duka&lt;br /&gt;Yang kau sebar di sepanjang jalan&lt;br /&gt;Mengaisi setiap puntung dupa&lt;br /&gt;Mengumpulkan asapnya&lt;br /&gt;Kemudian menelannya&lt;br /&gt;Satu masa berganti&lt;br /&gt;Mengapa membuang hidup&lt;br /&gt;Mengemis hujan, menangisi tanggalan&lt;br /&gt;Mengikis harapan dan menyembah nisan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engkau menjumput yang tersisa&lt;br /&gt;Dari pelataran makam&lt;br /&gt;Sambil berkerudung hitam&lt;br /&gt;Memurungi nasib&lt;br /&gt;Sambil berbaju hitam&lt;br /&gt;Berharap mati namun tak bernyali menenggak racun&lt;br /&gt;Awan hitam menyangkut di desahmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tiba suatu masa&lt;br /&gt;Saat tubuhmu retak&lt;br /&gt;Oleh kesedihan dan derita&lt;br /&gt;Saat nyawa di ujung mata&lt;br /&gt;Engkau masih berharap&lt;br /&gt;Mengulangi masa&lt;br /&gt;Dan mentari tetap saja &lt;br /&gt;Terbit dari barat&lt;br /&gt;Tak menggubrismu&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5746649461231290204-7405532566030476540?l=adhityamencarimakna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/feeds/7405532566030476540/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5746649461231290204&amp;postID=7405532566030476540&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/7405532566030476540'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/7405532566030476540'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/2009/02/pecundang-picisan.html' title='pecundang picisan'/><author><name>Adhitya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13803213516125201732</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_y6MPqq5kf9o/SP1iBud8aFI/AAAAAAAAAAU/S6qVzwAoXto/S220/100_0085.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5746649461231290204.post-2662768066271872233</id><published>2009-02-03T22:01:00.001+07:00</published><updated>2009-02-03T22:01:56.782+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Para Puisi'/><title type='text'>Cermin</title><content type='html'>Siapa yang mengajari?&lt;br /&gt;Aku hanya meniru&lt;br /&gt;Segenap lakumu&lt;br /&gt;Akulah cermin&lt;br /&gt;dan juga bayangan&lt;br /&gt;mengikuti tubuhmu&lt;br /&gt;dan setiap lakumu&lt;br /&gt;padaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jangan mengaduh&lt;br /&gt;pula menyumpah&lt;br /&gt;aku tak mengerti&lt;br /&gt;apa dibalik tirai kalbu&lt;br /&gt;aku hanya meniru&lt;br /&gt;lakumu padaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lantas mengapa marah&lt;br /&gt;jiwamu resah&lt;br /&gt;pada lakuku&lt;br /&gt;tak mengertikah&lt;br /&gt;baik burukmu&lt;br /&gt;pasti kembali padamu&lt;br /&gt;membelai atau menamparmu&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5746649461231290204-2662768066271872233?l=adhityamencarimakna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/feeds/2662768066271872233/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5746649461231290204&amp;postID=2662768066271872233&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/2662768066271872233'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/2662768066271872233'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/2009/02/cermin.html' title='Cermin'/><author><name>Adhitya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13803213516125201732</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_y6MPqq5kf9o/SP1iBud8aFI/AAAAAAAAAAU/S6qVzwAoXto/S220/100_0085.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5746649461231290204.post-1790933069692140437</id><published>2009-02-03T21:59:00.001+07:00</published><updated>2009-02-03T21:59:24.637+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Para Puisi'/><title type='text'>abangan</title><content type='html'>Ke mana ayat pernikahan&lt;br /&gt;Yang dulu kerap kau mantra&lt;br /&gt;Di perhelatan dua setakdir&lt;br /&gt;Saat ucap janji mengayuh bersama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini bias, kita sedang menari topeng&lt;br /&gt;Kala Cinta di ujung ubun&lt;br /&gt;segumul madu belum matang&lt;br /&gt;terenggut atas nama kasih sayang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mana mukamu,&lt;br /&gt;Dalam sepertiga malam terakhir&lt;br /&gt;Masih bersujud atau tergeletak&lt;br /&gt;Kini aku tagih janjimu !!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesucianmu pupus dalam gerimis&lt;br /&gt;Tak tersisa kaummu setia mendengar khotbahmu&lt;br /&gt;Mengapa tak hentikan saja kepalsuan&lt;br /&gt;disela jemari berzikir, siapa peduli&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak sadarkah engkau?&lt;br /&gt;Kini hujan dosa !!!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5746649461231290204-1790933069692140437?l=adhityamencarimakna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/feeds/1790933069692140437/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5746649461231290204&amp;postID=1790933069692140437&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/1790933069692140437'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/1790933069692140437'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/2009/02/abangan.html' title='abangan'/><author><name>Adhitya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13803213516125201732</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_y6MPqq5kf9o/SP1iBud8aFI/AAAAAAAAAAU/S6qVzwAoXto/S220/100_0085.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5746649461231290204.post-5581967574247466510</id><published>2009-02-03T21:54:00.001+07:00</published><updated>2009-02-03T21:57:26.950+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Para Puisi'/><title type='text'>bumiku hambar</title><content type='html'>Ku renungi setiap lorong gelap&lt;br /&gt;Dalam kereta cepat mengejar matahari&lt;br /&gt;Yang terlanjur terpapas pergi&lt;br /&gt;Ditelan hingar bingar kemajemukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mulai jengah pada pena&lt;br /&gt;Menulis dalam gelap, meraba yang tak terbaca&lt;br /&gt;Meski penuh, meski utuh&lt;br /&gt;Aku seperti menulis buku tanpa judul&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap lembar usang kuratapi&lt;br /&gt;Kini aku terhenti pada sebuah koma&lt;br /&gt;Aku kehabisan kata !, Tak tahu apa lagi apa yang harus ku tulis&lt;br /&gt;Sementara kereta terus melaju tak peduli&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pekat menyumbat nafas, ingin berteriak tapi adakah yang peduli?&lt;br /&gt;Semua membisu, terbungkam menghitung pundi kehidupan&lt;br /&gt;Resah pada akhir perjalanan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5746649461231290204-5581967574247466510?l=adhityamencarimakna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/feeds/5581967574247466510/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5746649461231290204&amp;postID=5581967574247466510&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/5581967574247466510'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/5581967574247466510'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/2009/02/bumiku-hambar.html' title='bumiku hambar'/><author><name>Adhitya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13803213516125201732</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_y6MPqq5kf9o/SP1iBud8aFI/AAAAAAAAAAU/S6qVzwAoXto/S220/100_0085.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5746649461231290204.post-6798912928080464426</id><published>2009-02-03T21:53:00.000+07:00</published><updated>2009-02-03T21:54:06.765+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Para Puisi'/><title type='text'>*fajar*</title><content type='html'>Suatu fajar tumbuh merekah membuka pagi&lt;br /&gt;Menggeliatpun tidak kala dingin menggedor di luar selimut&lt;br /&gt;Orang tua berkata rezekimu hilang dipatok ayam&lt;br /&gt;Kau seperti masih menikmati tetes terakhir mimpi di ujung bibir&lt;br /&gt;Ternyata awang telah memberimu dosis surga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhatilah kala tersadar, candunya pasti luruh tersiram getir&lt;br /&gt;Bangun !!, nafasmu sia-sia menguap di atas bantal&lt;br /&gt;Masih banyak waktu tuk meneruskan di rumahmu kelak di petak perkuburan&lt;br /&gt;Dan saat duha datang, kau masih sibuk mengemasi mimpi mengumpulkan nyawa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lihatkah cangkangmu yang mulai tergerus&lt;br /&gt;Jadilah manusia memandang jalan&lt;br /&gt;Usaikan saja menatap awan&lt;br /&gt;Pergerakannya lambat dan membuaimu hilang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya penyesalan, hanya tersisa penyesalan.....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5746649461231290204-6798912928080464426?l=adhityamencarimakna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/feeds/6798912928080464426/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5746649461231290204&amp;postID=6798912928080464426&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/6798912928080464426'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/6798912928080464426'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/2009/02/fajar.html' title='*fajar*'/><author><name>Adhitya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13803213516125201732</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_y6MPqq5kf9o/SP1iBud8aFI/AAAAAAAAAAU/S6qVzwAoXto/S220/100_0085.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5746649461231290204.post-4072140495276394602</id><published>2009-02-03T21:51:00.000+07:00</published><updated>2009-02-03T21:53:30.614+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Para Puisi'/><title type='text'>aku bukan nabi</title><content type='html'>Aku tak bisa menulis&lt;br /&gt;Tentang dosa, tentang kelahiran&lt;br /&gt;Aku tak bisa mengeja&lt;br /&gt;Tentang sabda, tentang kematian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat aku, masih abu-abu&lt;br /&gt;Tanyakan bumi, ku bukan kanvas putih&lt;br /&gt;Jangan katakan tuk sabar menunggu&lt;br /&gt;Tahukah engkau kesabaran hanyalah kesepian tiada akhir ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat banyak mengarungi waktu kau akan mengerti &lt;br /&gt;Dunia ini relatif, hanya waktu yang meluruskan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu hanya perulangan&lt;br /&gt;Pagi, siang, sore, malam&lt;br /&gt;Detik, menit, jam, hari, bulan, tahun &lt;br /&gt;Lahir, merangkak, berjalan, berlari, kemudian mati&lt;br /&gt;Kita masih hidup di bumi yang sama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memuja &lt;br /&gt;Memburam, &lt;br /&gt;Terhembus puisi yang dibacakan angin&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5746649461231290204-4072140495276394602?l=adhityamencarimakna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/feeds/4072140495276394602/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5746649461231290204&amp;postID=4072140495276394602&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/4072140495276394602'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/4072140495276394602'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/2009/02/aku-bukan-nabi.html' title='aku bukan nabi'/><author><name>Adhitya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13803213516125201732</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_y6MPqq5kf9o/SP1iBud8aFI/AAAAAAAAAAU/S6qVzwAoXto/S220/100_0085.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5746649461231290204.post-3530810235978253734</id><published>2009-02-03T21:45:00.000+07:00</published><updated>2009-02-03T21:51:02.915+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Para Puisi'/><title type='text'>Maafkan aku</title><content type='html'>entah, cinta mana kini engkau genggam&lt;br /&gt;di debar dadamu keping kisah berjatuhan&lt;br /&gt;sementara di getar bibirmu kata menghunusku dalam&lt;br /&gt;apakah lakuku atau engkau sudah muak padaku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;entah, apa yang bergemuruh dipikiranmu&lt;br /&gt;tapi dari pandangan mata engkau bertutur&lt;br /&gt;dan dari nada bicara kutangkap banyak pesan&lt;br /&gt;begitu burukkah aku dimatamu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;entah, Masih ingatkah pada wajah lugu dan gelak tawa&lt;br /&gt;Belum genap sembilan bulan hanya untuk merangkak&lt;br /&gt;Atau ketika latah meniru satu kata, tanpa mengerti makna&lt;br /&gt;tahukah engkau betapa repot mengeja ibu dengan pikiran tak mengerti bahasa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatlah aku hanya seorang anak&lt;br /&gt;Bukan miniatur orang dewasa terkungkung dalam tubuh yang kecil&lt;br /&gt;aku bukan anak ikan, begitu lahir langsung bisa berenang.&lt;br /&gt;Aku juga bukan anak ayam, begitu menetas langsung belajar berjalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku banyak membuat kesalahan,&lt;br /&gt;Dan engkau masih saja meluruskannya untukku&lt;br /&gt;Mungkin engkau tak menyadari,&lt;br /&gt;tapi di situlah aku terbata-bata mengeja kasih sayangmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;entah, cinta mana kini engkau genggam&lt;br /&gt;di gelas yang hanya terisi setengah&lt;br /&gt;atau mungkin kosong separuhnya lagi&lt;br /&gt;aku tak dapat menebak bagaimana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hardiklah keras jika engkau mau&lt;br /&gt;Atau sekalian pecahkan saja gelasnya&lt;br /&gt;Tapi jangan engkau buang yang tersisa&lt;br /&gt;Dari kasih sayang dan cinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan saat amarahmu padam&lt;br /&gt;Ingatlah aku masih menyayangimu jauh di dalam&lt;br /&gt;Karena ku tak ingin berakhir di persimpangan jalan&lt;br /&gt;Sementara pintu surga masih terkunci di telapak kakimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;maka maafkan aku jika engkau masih sudi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pesan  moral:&lt;br /&gt;membuat kesalahan adalah hal yang biasa&lt;br /&gt;tidak belajar dari kesalahan adalah sebuah kebodohan&lt;br /&gt;tetapi memutuskan untuk tidak meminta maaf adalah kesalahan terbesar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita melampiaskan 99% kemarahan justru kepada orang yang paling kita&lt;br /&gt;cintai. Dan akibatnya sering kali adalah fatal".&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5746649461231290204-3530810235978253734?l=adhityamencarimakna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/feeds/3530810235978253734/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5746649461231290204&amp;postID=3530810235978253734&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/3530810235978253734'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/3530810235978253734'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/2009/02/maafkan-aku.html' title='Maafkan aku'/><author><name>Adhitya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13803213516125201732</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_y6MPqq5kf9o/SP1iBud8aFI/AAAAAAAAAAU/S6qVzwAoXto/S220/100_0085.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5746649461231290204.post-3095002388280367925</id><published>2009-02-03T20:23:00.003+07:00</published><updated>2009-02-03T21:45:24.720+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Self Contemplation'/><title type='text'>Paradigma Penentu</title><content type='html'>Aku tulis renungan ini bukan berarti aku telah sampai pada tujuan itu, selayaknya banyak pegarang buku cepat kaya yang belum tentu sudah kaya. Kenyataannya kita semua masih belajar memahami diri sendiri untuk meraba masa depan. Ada begitu banyak rujukan tentang cara sukses di toko buku dan di internet bila kita mau melihatnya.  Tetapi mengapa dari dulu selalu hanya ada sedikit orang yang sukses? Mengapa masyarakat yang peduli pada masa depannya belum mencapai kesuksesan seperti rujukan buku dan tulisan yang dibacanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak motifator yang sukses menjual omongannya, tetapi sedikit yang sukses membawa penontonnya kepada kesuksesan yang dibicarakannya. Apakah karena perbedaan definisi kesuksesan? Ataukah para penonton itu lebih senang dibuai oleh motifasinya kemudian kembali larut dalam masalah kehidupan sehari-harinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apapun alasannya, kita memang perlu selalu dimotifasi. Karena perjalanan hidup itu tidak mulus,  banyak kerikil yang membuat kaki kita sakit, kita harus terus selalu disemangati agar bisa terus maju, alih-alih terus mengeluh kesakitan dan menyalahkan nasib.  Daripada menyalahkan nasib, mengapa tidak merubahnya? Dari sinilah ingin kurangkai kutipan para motifator tenar dan kutambahkan dengan pemahamanku, semoga bisa menginspirasi untuk berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jim Rohn, salah satu motifator terkenal mengatakan bahwa “Nasibmu tidak berubah oleh keadaanmu tetapi berubah oleh pilihanmu”. Nasib kita tidak ditentukan oleh keadaan yang melingkupi kita tetapi oleh pemahaman kita tentang keadaan”, begitu pula kata Zig Ziglar. Nasib Kamu tidak ditentukan oleh apa yang terjadi pada diri Kamu (What ON) tetapi oleh apa yang terjadi di dalam diri Kamu (what IN)”, demikian kesimpulan John C. Maxwell. Kita bereaksi menurut apa yang kita pikirkan, bukan berdasarkan kenyataan itu sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;We see the world as we are, not as it is. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akar segala sesuatu adalah cara kita melihat. Cara kita melihat mempengaruhi apa yang kita lakukan, dan apa yang kita lakukan mempengaruhi apa yang kita dapatkan. Stephen Covey pernah mengatakan: "Kalau Kamu menginginkan perubahan kecil dalam hidup, garaplah perilaku Kamu, tapi bila Kamu menginginkan perubahan-perubahan yang besar dan mendasar, garaplah paradigma Kamu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara kita melihat masalah sesungguhnya adalah masalah itu sendiri. Karena itu, untuk mengubah kehidupan, yang perlu Kamu lakukan cuma satu: Ubahlah cara Kamu melihat masalah. John Gray, pengarang buku Men Are From Mars and Women Are From Venus mengatakan, "Semua kesulitan sesungguhnya merupakan kesempatan bagi jiwa kita untuk tumbuh." Kegagalan dalam usaha bukanlah pilihan (choice), melainkan konsekuensi yang tidak bisa dipilih (not free to choose). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu kan boleh memilih, tentulah tak ada satu pun manusia di dunia ini yang memilih kegagalan. Semua orang pastilah akan memilih keberhasilan. Prakteknya membuktikan, “We are the law of ourselves.” Artinya kita adalah apa yang kita persepsikan mengenai diri kita sendiri, oleh karena itu Mario teguh pun berpesan, Jika kamu ingin menjadi orang sukses, maka pantaskan usahamu agar bisa seperti orang sukses dan berperilakulah sepertinya. Robert Kiyosaki menyimpulkan bahwa kegagalan itu akan menjadi penghancur (demotivator, destroyer) bagi orang kalah (losers) tetapi akan menjadi inspirasi maju bagi para pemenang (winners). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, Les Brown berpesan: “Jangan biarkan opini negatif orang lain tentang dirimu menjadi kenyataan di dalam dirimu.” Dihina orang lain tidak ‘capable’ kalau kita iyakan (kita gunakan sebagai demotivator) akan menjadi kenyataan di dalam diri kita tetapi kalau kita tolak (kita jadikan motivator untuk menjadi capable) tentu ini setidaknya akan mengantarkan kita menjadi capable, meskipun tidak semudah orang membalik tangan. Eleanoor Rosevelt berkesimpulan: “Tidak ada orang yang sanggup membuat Kamu down tanpa izin dari Kamu.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penutup, apapun yang kita lakukan dalam upaya membangun keberhasilan tidak akan terlepas dari mengambil resiko. Semakin banyak resiko yang kita ambil, semakin besar peluang kita untuk belajar dan tumbuh. Ini adalah puisi yang menginspirasikanku untuk berubah. Aku mendapatkan puisi ini dari salah satu buku motifasiku, semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tertawa beresiko tampak bodoh&lt;br /&gt;Mengisak beresiko tampak sentimentil&lt;br /&gt;Menggapai orang lain beresiko keterlibatan&lt;br /&gt;Mengekspresikan perasan beresiko tidak sesuai harapan&lt;br /&gt;Menempatkan banyak ide dan impian didepan umum beresiko kehilangan hal-hal itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup beresiko kematian&lt;br /&gt;Baeharap beresiko patah harapan&lt;br /&gt;Mencoba beresiko gagal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun resiko harus diambil karena bahaya terbesar dalam hidup&lt;br /&gt;Adalah tidak mengambi resiko&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang tidak mengambil resiko tidak memiliki apa-apa&lt;br /&gt;Dan bukan siapa – siapa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mungkin menghindari penderitaan dan kesedihan,&lt;br /&gt;Namun ia hidup tidak dapat belajar, merasa, berubah, tumbuh maupun hidup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dirantai oleh ketidakpastiannya, ia adalah budak&lt;br /&gt;Ia telah mengorbankan kebebasaanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya orang yang memiliki resikolah yang bebas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;____________________&lt;br /&gt;Daftar Pustaka :&lt;br /&gt;dikutip dari berbagai sumber&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5746649461231290204-3095002388280367925?l=adhityamencarimakna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/feeds/3095002388280367925/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5746649461231290204&amp;postID=3095002388280367925&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/3095002388280367925'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/3095002388280367925'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/2009/02/paradigma-penentu.html' title='Paradigma Penentu'/><author><name>Adhitya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13803213516125201732</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_y6MPqq5kf9o/SP1iBud8aFI/AAAAAAAAAAU/S6qVzwAoXto/S220/100_0085.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5746649461231290204.post-5220791354865707387</id><published>2009-02-03T19:47:00.003+07:00</published><updated>2009-02-03T20:23:53.256+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='uneg-uneg'/><title type='text'>Cerita tentang Keterpurukanku di suatu waktu</title><content type='html'>Apa terhenyuk saat kulihat kesalahanku telah menampar mukaku keras. Di kala itu, dengan keteledoranku mobilku terjatuh kedalam sungai. Bukan sungai yang dangkal, sungai itu sedang deras-derasnya, berdinding curam dan dalamnya lebih dari 2m, bagaimana cara mendereknya?. Mobilku pun terhanyut, benar-benar terhanyut seperti kain yang setengah mengapung dipermukaan. Waktu itu entah bagaimana perasaanku, satu-satunya yang kuinginkan saat itu adalah ini sekedar mimpi, mimpi buruk sekali. Setengah jam aku memandangi mobil itu yang terhanyut kemudian tersangkut dibawah jembatan, menggumam tidak jelas. Sudah jelas itu adalah kesalahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu, seperti badai gurun yang menghantam menyapu harapan dimukaku saat kejadian itu jelas jelas mempertontonkan semuanya. Aku malu. Dipermalukan oleh setiap pasang mata yang menoleh pada seongkok daging bernama aKu. Apa pikir mereka ?, benakku. Bodoh sekali yang mengendarainya. Dan mungkin seratus pemikiran negatif lainnya terpikir olehku seakan otakku seperti spon yang menyerap habis semua air dalam gelas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bergemuruhlah isi kepala dan dada ini dengan berbagai pemikiran yang mencoba memahami keadaan yang sebenarnya, seperti mengurai kemacetan lalu lintas yang terlanjur parah. Kurasa yang ada di kepala hanyalah ruang bagi penyesalan, tempat bermukimnya kaum pecundang, tempat dimana negatif adalah nikotin yang menggerogoti setiap sel paru agar merasa diterima. Entah mengapa, untuk kesekian kali keteledoran menamparku keras dengan penyesalan. Its my bad habit, i admid it. Setiap langkah, setiap detik pikiranku melayang dan membentur yang terlihat. Berulangkali. Kala itu tak ada yang bisa diguyonkan dari peristiwa ini, kesalahan seperti ini tidak mungkin lagi kujadikan bahan lelucon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keteledoran yang harusnya terpikirkan, menguap setelah berlalu. Aku tidak mencari pembenaran. Aku salah, dan penyesalan menagihku seperti bayangan. Mengikuti kala siang dan membekapku dalam setiap desah nafas malam. Aku tersiksa. Bukan karena verbal abuse cemoohan orang lain, tapi karena perulangan demi perulangan yang mengiang dikepalaku. Secuil demi secuil kejadian perih itu membentang di benakku seperti layar tancap. Aku tergerogoti setiap detiknya dengan inferioritas, kegelisahan dan kemalangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah buku mengatakan aku sedang menyiksa diri sendiri dengan belati waktu yang tak pernah berkesudahan, dan aku tak punya kuasa untuk melarikan diri darinya. Aku berharap dengan penyiksaan diri sendiri ini dapat mengurai rasa bersalahku, namun kenyataannya tidak demikian. Penyesalan yang berlebihan ini hanya menjadi lubang hitam yang menghisap habis nafas hidupku kedalam pusaran grafitasi kesedihan. Akupun merasa terpenjara sendiri dalam ruang akalku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala itu, yang bisa menyelamatkanku dari keterpurukan adalah meditasi. Setelah mobil akhirnya bisa diderek dan dibawa ke bengkel, setelah semua kerumunan massa itu habis menyisakan aku dan mobilku akhirnya aku baru bisa sedikit tenang. Aku merenung dalam kesepian malam, diantara sajadahku dan derik melodi malam. Aku mengambil sisa-sisa semangat dari hati kecilku dan kukumpulkan dalam tangan yang memanjatkan doa. Tidak mudah memang, berkomunikasi dengan diri sendiri dimana semua kebohongan bisa terlihat, tetapi menurutku hal ini adalah satu langkah maju dari pada harus merajuk hati sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buddha pernah berkata, kebahagian datangnya harus dari diri sendiri. Jika engkau tidak menemukannya maka engkaupun tidak akan menemukannya dimanapun didunia ini. Semua penundaan, semua penyesalan dan semua kekagagalan ada dalam setiap jengkal arteri takkan berubah menjadi kebaikan jika hanya membayangkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, aku takkan menulis cerita ini jika tanpa moral lesson apa-apa. Apapun intrepertasinya bagimu, tapi buatku inilah kesimpulannya:&lt;br /&gt;__________________________________________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku La tazan dikatakan, dunia ini selalu diliputi pertentangan. Tuhan selalu menciptakan dua jenis segala sesuatu yang saling bertentangan di jagad ini. Ada baik buruk, positif negatif, gelap terang, pria wanita, dll. Diatas itu semua, didunia ini akan lebih banyak tampak penderitaan dan cobaan dibanding kebahagian dan impian. Maksudku, dari semua hal yang terjadi memang kesialan selalu lebih banyak. Akan tetapi Tuhan juga mengisyaratkan bahwa dalam Kitab Suci lebih banyak ayat tentang harapan, janji, dan kabar gembira dibanding ayat tentang ancaman, duka dan kabar buruk. Artinya apa? Itu artinya kebahagiaan itu sebetulnya lebih banyak jika kita bisa mencarinya, memutuskannya. Meskipun di dunia ini tampak lebih banyak kesedihan dan kesengsaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah buku lain berpendapat, pikiran (mind) seperti pesawat radio. Jadi sebenarnya pikiranmulah yang menyetel frekuensi negatif berulang ulang. Didunia ini walau sedikit namun masih ada kebahagian sejati dan itu semua bisa diperoleh dengan mengganti saluran ke saluran positif. Thats what you must do. Abaikan kabar buruk. Bad news is not good news!! Buang koran dan matikan chanel berita. Bacalah buku positif dan dengarkanlah orang positif, setidaknya begitulah orang-orang sukses bersikap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M. Marcus. A, filsuf dan kaisar Roma dalam tulisannya, Meditation, menyatakan hidup kita adalah bagaimana pikiran kita mewujudkannya. Jadi, berfikir positif adalah cara membuat hidup menjadi positif atau melihat segala sesuatu yang lebih memberikan motivasi. Akan tetapi, berfikir positif bukan berarti memiliki keyakinan berlebihan yang tanpa menggunakan perhitungan, namun di sini lebih ditekankan pada cara menilai kembali segala sesuatu dengan menekankan pada segi yang positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hhmmm, sepertinya kita jadi jauh dari topik utama diatas ya? Wes lha rapopo. Anyway, dibuku lainnya aku ingat ada perkataan “Isi pikiran melahirkan tindakan. Tindakan melahirkan kebiasaan. Kebiasaan melahirkan karakter. Karakter melahirkan “nasib”. Hubungannya, kalau dalam lima tahun ke depan kita masih tetap menemui orang yang bermodel sama atau membaca buku yang isinya sama, maka nasib kita otomatis akan sama. Tanpa harus kita kasta-kastakan sendiri sebetulnya hukum alam ini sudah membuat semacam pengkastaan berdasarkan kualitas kelompok manusia yang oleh para pakar ilmu pengetahuan disebut Hukum Asosiasi (The Law of Association) yang kira-kira bisa dijabarkan bahwa kita secara naluri akan berkelompok dengan orang yang sejenis atau setara kualitasnya dengan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;end note :&lt;br /&gt;“Lingkungan memang tidak bisa mencetak diri kita, tetapi lingkungan yang kita pilih mencerimankan siapa diri kita”. Pendapat demikian sudah klop dengan petuah leluhur yang berwasiat: “Jika kau ingin mengetahui profil seseorang, tak usah kau tanya langsung kepada yang bersangkutan tetapi lihatlah lingkungan seperti yang dia masuki.”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5746649461231290204-5220791354865707387?l=adhityamencarimakna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/feeds/5220791354865707387/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5746649461231290204&amp;postID=5220791354865707387&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/5220791354865707387'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/5220791354865707387'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/2009/02/cerita-tentang-keterpurukanku-di-suatu.html' title='Cerita tentang Keterpurukanku di suatu waktu'/><author><name>Adhitya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13803213516125201732</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_y6MPqq5kf9o/SP1iBud8aFI/AAAAAAAAAAU/S6qVzwAoXto/S220/100_0085.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5746649461231290204.post-1906408780769723815</id><published>2009-02-02T23:52:00.005+07:00</published><updated>2009-02-03T00:39:21.699+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='uneg-uneg'/><title type='text'>Why It Must Be Plagiatism ?</title><content type='html'>Sekedar uneg-uneg saja. Dijaman Internet ini semua informasi sudah jauh lebih mudah dan praktis didapatkan dibandingkan jaman dulu. Segi positifnya, informasi mudah didapat,negatifnya orisinalitas menjadi menurun. Banyak yang cuma copy-paste materi di internet tanpa diolah lagi. Hasilnya, kapan intelektualitas seseorang bisa maju ?&lt;br /&gt;Memang benar bila kita tidak bisa mengelak untuk meniru ide orang lain untuk berkembang. Tetapi mengapa hanya meniru, itukan hanya membuat kita menjadi masyarakat peniru. Mengapa tidak mengolah tiruan itu dan menggabungkan dengan ide kita agar menjadi orisinil agar karya kita sulit ditiru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tantangan bagi setiap orang adalah bagaimana membuang ide lama yang menghalangi realisasi ide baru bukan bagaimana menggagas ide baru”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sendiripun banyak terinspirasi oleh tulisan orang lain di internet, tapi untuk menyadurnya begitu saja kedalam blogku itu persoalan lain. Blog itukan sebenarnya juga alat untuk melatih kemampuan kita mengolah informasi dan kecakapan menulis. Jadi kenapa harus mengesankan pembaca dengan kecanggihan tulisanmu bila itu saduran tulisan orang lain ? Perbaiki sedikit demi sedikit, walau jelek tapi orisinil. Permasalahan lain akan terselesaikan dengan sendirinya seiring pengalaman mengajari kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada perkataan yang aku pelajari dari buku. Katanya, masalah adalah kesempatan untuk belajar sesuatu yang baru. Kita tak bisa lari dari masalah selama nafas masih meniup ruh kita. Katanya lagi, masalah adalah kebalikan kebahagiaan. Cepat lambat, dimanapun, siapapun manusia itu pasti memiliki masalah. Ibarat roda kehidupan, kadang kita diatas kadang dibawah. Percaya atau tidak, pola berpikir menentukan bagaimana masalah itu diselesaikan. Karena itu, tidak ada orang sukses di dunia ini yang tanpa masalah begitu pula dengan orang-orang super kaya(ya setidaknya dia kan punya masalah bagaimana cara menghabiskan uangnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku kira segini dulu.... tobe continued ?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5746649461231290204-1906408780769723815?l=adhityamencarimakna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/feeds/1906408780769723815/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5746649461231290204&amp;postID=1906408780769723815&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/1906408780769723815'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/1906408780769723815'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/2009/02/why-it-must-be-plagiatism.html' title='Why It Must Be Plagiatism ?'/><author><name>Adhitya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13803213516125201732</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_y6MPqq5kf9o/SP1iBud8aFI/AAAAAAAAAAU/S6qVzwAoXto/S220/100_0085.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5746649461231290204.post-712538148814031156</id><published>2009-02-02T23:27:00.004+07:00</published><updated>2009-02-03T19:22:27.532+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Self Contemplation'/><title type='text'>Monkey See Monkey Do</title><content type='html'>Kadang ketika seseorang yang dekat di kehidupan kita mengecewakan kita, reaksi kita biasanya langsung marah, naik pitam bahkan memaki-maki dalam hati. Yang tidak kita sadari adalah bahwa dilain waktu ketika kita masih marah terhadap seseorang itu, seseorang tersebut secara tidak disangka-sangka menyenangkan hati kita, entah dengan pujian, perkataan atau perbuatan. Disitulah kita seharusnya mengerti, bahwa suatu hubungan tidak dapat dibayangkan hanya berisi cerita-cerita indah dan pengalaman yang menyenangkan saja. Ada kalanya  hubungan tersebut dapat merenggang bahkan retak. Di titik inilah kita sering ceroboh mengambil keputusan, mempersangkakan yang tidak benar dan menyakiti lebih dari yang pantas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu kuanggap aku reaktif terhadap orang, pada kenyataannya bukankah kita semua demikian ?. Orang ibarat cermin yang berdiri dihadapan kita. Seperti kata pepatah "monkey see, monkey do". Apapun tindakan yang kita lakukan didepan cermin selalu memantul kembali ke diri kita, begitu pula dengan manusia. Ketika kita tersenyum pada seseorang yang tidak dikenal, kemungkinan besar reaksi orang tersebut adalah tersenyum kembali meski tak mengenal kita. Bila kita memarahi seseorang, reaksi yang dapat ditebak adalah orang tersebut juga terbawa emosi. Keuntungannya adalah, kita bisa mengendalikan perasaan kita untuk mengendalikan perasaan orang lain.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita ingin seseorang bersikap baik kepada kita, cobalah memulai lebih dulu dengan bersikap ramah, lalu perhatikan apa yang terjadi. Secara natural lawan bicara kita pun akan meniru. Tunjukan niat baik kamu secara tulus tanpa embel-embel. &lt;br /&gt;Memang aturan ini tidak berlaku untuk setiap kasus karena harus melihat kondisi-kondisi yang mempengaruhinya. Namun setidaknya demikianlah yang berlaku pada umumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Martin Luther Jr. Mengatakan “Api tidak bisa dipadamkan dengan api, hanya air yang bisa. Begitu pula rasa benci, tidak ada yang bisa mengurangi rasa benci kecuali cinta”.&lt;br /&gt;Yang kusadari adalah kadang kita terlalu terbawa emosi sesaat dalam menghakimi hubungan kita dengan seseorang. Kesalahan dalam bersikap itulah yang sering membawa kita pada pertengkaran yang sebetulnya tidak perlu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang benar perkataan Rasul bahwa didalam jiwa yang sedang marah, setan berteriak keras kedalam otak kita sehingga menuntun kita melakukan sesuatu yang kelak kita sesali. Setan begitu halus menjerumuskan kita, seolah-olah itu kehendak bebas kita. Karena Marah itu tidak dapat dihindari selayaknya emosi lainnya, maka karena itu Rasulpun mencontohkan, bila sedang marah, beliau pun berhenti berbicara sejenak kemudian mengambil nafas dalam. Jika masih belum reda, Beliau mengambil wudzu dan solat sunnah. Oleh karena itu dikenal oleh para sahabat bahwa bila rasul sedang marah maka Beliau diam, berhenti berbicara sampai reda bukan memaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika suatu hubungan merenggang, otomatis yang kita ingat dari orang tersebut hanyalah kejelekannya semata, berprasangka buruk, mengakibatkan rasa benci yang meracuni akal sehat kita. Dan kita pun sering mengambil kesimpulan bodoh. Memang tidak mudah melakukannya, untuk sekedar mengatakan jangan langsung terbawa emosi, tenangkan pikiran kita baru mengambila keputusan. Karena itu contoh yang dilakukan Rasul itu patut dicoba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulannya, sadarilah bahwa kita sedang berhubungan dengan manusia, bukan dengan mesin. Manusia punya perasaan seperti kata Seurius "rocker juga manusia", teman akan merasa sakit bila kita sakiti dan akibatnya dia akan balik menyakiti diri kita dan bahkan akan menanggalkan kata pertemanan ke tong sampah. Berilah waktu untuk berpikir, tapi jangan terlalu lama. Jika kita yang salah, mengapa kita tidak mengambil langkah untuk meminta maaf, jika dia yang salah, mengapa tidak kita dulu yang meminta maaf. Buat apa mengakibatkan dia terus marah. Begitu berhargakah kemarahan kita bila ditukarkan dengan persahabatan itu?&lt;br /&gt;Bukankah setiap orang memiliki ego? Dan ego seseorang takkan turun jika dilawan dengan ego kita, karena ego tidak ada batasnya maka turunkanlah ego kita, dengan demikian maka (normalnya) teman tersebut juga akan menurunkan egonya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;end note :&lt;br /&gt;Ini adalah kutipan inspirasional yang kuambil dari salah satu adegan di serial smallvile. Renungkanlah maknanya dan temukan nilai persahabatan itu kembali....&lt;br /&gt;"Someone is not your last conversation you with but the whole relationship you have been through with them". &lt;br /&gt;-Jermen Rilke&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5746649461231290204-712538148814031156?l=adhityamencarimakna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/feeds/712538148814031156/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5746649461231290204&amp;postID=712538148814031156&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/712538148814031156'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/712538148814031156'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/2009/02/monkey-see-monkey-do.html' title='Monkey See Monkey Do'/><author><name>Adhitya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13803213516125201732</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_y6MPqq5kf9o/SP1iBud8aFI/AAAAAAAAAAU/S6qVzwAoXto/S220/100_0085.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5746649461231290204.post-7349970770979838525</id><published>2009-02-01T14:33:00.004+07:00</published><updated>2009-02-03T19:22:18.636+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Para Puisi'/><title type='text'>Writing Unconditional Love</title><content type='html'>awalnya aku ingin menulis, agar melupakan waktu&lt;br /&gt;tak bersyarat, bukan berarti tak bermaksud&lt;br /&gt;menginginkan sesuatu tetapi setengah berusaha&lt;br /&gt;akhirnya sia-sia, terlupakan waktu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;memperumit kata, katanya demi kepuasan sendiri&lt;br /&gt;lantas buat apa menikam pena didada&lt;br /&gt;jika tak ada yang memuji diri ?&lt;br /&gt;Waktu tak bersahabat bagi mereka yang berharap keajaiban&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tiga baris paragraf dikemas rapi,layaknya penjual mengharapkan pembeli&lt;br /&gt;menunggu dan menunggu, sekedarnya saja melontarkan harapan&lt;br /&gt;lantas apa? Jangan biarkan keinginan abstrak menjajah hati &lt;br /&gt;memilih untuk terus menulis, atau berhenti disini saja....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti simpanan waktu, bagi yang tekun mempersiapkannya, keajaiban datang dengan sendirinya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5746649461231290204-7349970770979838525?l=adhityamencarimakna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/feeds/7349970770979838525/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5746649461231290204&amp;postID=7349970770979838525&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/7349970770979838525'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/7349970770979838525'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/2009/02/writing-unconditional-love.html' title='Writing Unconditional Love'/><author><name>Adhitya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13803213516125201732</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_y6MPqq5kf9o/SP1iBud8aFI/AAAAAAAAAAU/S6qVzwAoXto/S220/100_0085.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5746649461231290204.post-2769438337476242425</id><published>2009-02-01T14:08:00.004+07:00</published><updated>2009-02-03T19:22:02.379+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='uneg-uneg'/><title type='text'>Kesempurnaan itu Absurd (kritik terhadap iklan)</title><content type='html'>Absurd....&lt;br /&gt;Mencari Kesempurnaan dalam hidup itu konyol. Sebuah kemustahilan karena kita diciptakan dengan sempurna namun juga tidak sempurna. Ada batas-batas dalam hidup yang tidak mungkin kita tembus (seperti ide untuk hidup abadi atau kembali ke masa lalu). Orang yang mengejar kesempurnaan pada akhirnya akan kelelahan dan menemukan dirinya masih jauh dari sempurna. Jika Kesempurnaan itu ada, ia hanya membatasi kita untuk selalu menemukan hal baru, belajar dari kegagalan, merenungkan kebijaksanaan kemudian hanya menjadikan kita congkak, hidup dalam tempurung. Akan selalu ada langit diatas langit, berhenti disatu lapisan, melihat kebawah dan mendeklarasikan inilah puncaknya hanya akan mengurung akal kita untuk melihat kemungkinan apa yang ada di atas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesempurnaan itu seharusnya bukan patokan keberhasilan, melainkan suatu ukuran untuk menentukan kapasitas diri kita sendiri. Bahwa hanya ada satu zat yang pantas menyandang kata kesempurnaan, yaitu Tuhan. Yang dapat kita lakukan adalah untuk senantiasa menjadi lebih baik, lebih pintar, lebih bijaksana. Dengan itulah kita bisa memecahkan misteri dunia terbesar, hidup untuk belajar. Akan selalu ada bahan baru yang tersedia di dunia ini untuk kita pelajari, keingintahuan adalah modal terbesar bagi seorang pembelajar dan kemauan adalah tangga untuk mencapainya. Dengan menjadi tidak sempurna akan ada ruang bagi hasrat untuk mengembangkan minatnya, oleh karena itu bersyukurlah dilahirkan tidak sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Takdir manusia adalah selalu ingin tahu, sifat bawannya adalah mempertanyakan segala sesuatu. Kadang manusia terbawa gairah untuk selalu belajar dan menemukan sesuatu yang mungkin tampak tidak ada artinya. Tapi jauh dibalik itu, manusia hanyalah ingin memuaskan rasa keingintahuan akan segala sesuatu, bukan hanya tampak mencari jalan menuju kesempurnaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas mengapa manusia memuja kesempurnaan, atau setidaknya tampak seperti itu bila dilihat di televisi?&lt;br /&gt;Menurutku itu hanya propraganda iklan, mekanisme cuci otak yang dibuat sedemikian rupa oleh para kapitalis sehingga dunia kita tak terelakkan lagi darinya. Iklan membuat seolah-olah manusia tampil tidak sempurna, dan akan menjadi sempurna jika memakai ini-itu. Dan lebih buruk lagi, karena iklan itu sedemikian rupa jenisnya dan masing-masing mempropagandakan caranya sendiri-sendiri, penonton seolah-olah dibuat untuk terus menerus merasa kekurangan, tidak percaya diri dan kecanduan bila tidak memiliki produk tertentu. Bukankah itu menyesatkan? Karena pada dasarnya kesempurnaan fisik dan akal itu sebenarnya tanpa dimanipulasipun sudah demikian cukupnya. Yang diperlukan adalah rasa percaya diri dan keyakinan akan kemampuan diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;end note :&lt;br /&gt;aku menulis seperti ini bukan karena anti kemapanan atau anti kapitalis, ini hanya keprihatinanku pada gempuran iklan di media yang tak henti-henti. Menjaga penampilan dan mencintai keindahan itu memang wajar, tetapi jika tidak dibatasi oleh kesadaran diri sendiri akan menjadi liar, konsumtif, hedonis dan materialistik.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5746649461231290204-2769438337476242425?l=adhityamencarimakna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/feeds/2769438337476242425/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5746649461231290204&amp;postID=2769438337476242425&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/2769438337476242425'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/2769438337476242425'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/2009/02/kesempurnaan-itu-absurd-kritik-terhadap.html' title='Kesempurnaan itu Absurd (kritik terhadap iklan)'/><author><name>Adhitya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13803213516125201732</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_y6MPqq5kf9o/SP1iBud8aFI/AAAAAAAAAAU/S6qVzwAoXto/S220/100_0085.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5746649461231290204.post-8424712963982156774</id><published>2009-02-01T13:48:00.004+07:00</published><updated>2009-02-03T19:16:08.685+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Self Contemplation'/><title type='text'>Takdir</title><content type='html'>Takdir. Satu kata yang selalu diperdebatkan peranannya dalam garis hidup manusia. Ia seperti diamnya waktu yang mengalir melewati kita, ia seperti butanya dewi fortuna saat menghampiri manusia, ia seperti tulinya kematian ketika manusia merengek untuk diberi satu lagi kesempatan. Kita selalu menyalahkan takdir namun di lain waktu juga selalu mensukurinya, kita kadang tidak paham bagaimana Tuhan merangkai kata takdir dan selalu salah mengartikan maksud kata tersebut. Kita hanya mengerti bahwa kekuasaan takdir ada padaNYA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita memang tidak akan mampu merubah apa yang telah terjadi, tetapi kita tetap berkuasa penuh atas apa yang dapat kita lakukan, untuk menjadikan apapun yang terjadi sebagai alasan bagi upaya-upaya terbaik kita. Itu bisa saja itu tidak mudah, tetapi toh ada saja orang yang mampu melakukannya, jadi mengapa kita tidak. Satu fakta yang tidak bisa terbantahkan adalah, setiap orang bertanggungjawab terhadap dirinya masing-masing. Orang yang bertanggungjawab terhadap dirinya adalah orang yang mengendalikan takdir hidupnya. Orang yang selalu menyalahkan takdir adalah orang yang akan selalu mengulangi takdir yang sama. Untuk itulah mengapa kita belajar sejarah, salah satunya agar kita bisa belajar dari para pendahulu kita, agar tidak mengulangi salah yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Agama diajarkan Takdir itu absolut, tapi kita bisa memilih jalan mana menyambut takdir tersebut. Benar bahwa semua yang ada di dunia ini sudah ditakdirkan garis hidupnya, sudah ada sistem yang mengaturnya. Tapi kita sebagai khalifah dimuka bumi dianugerahi anugerah terindah yang tidak dimiliki mahluk apapun. “Kehendak bebas dari akal”. Kita bisa memilih jalan mana yang mau kita tempuh, mau berdiri atau duduk, mau berlari atau berjalan. Takdir yang menanti di garis finish kita pun sudah tersedia, dalam lauful mahfudz, tinggal menunggu untuk kita jemput. Baik itu baik atau buruk, segala kemungkinan takdir itu sudah menunggu kita, persoalaannya adalah jalan (takdir) mana yang kita maui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa memilih pasrah dan menerima nasib (takdir), atau bangkit dan berusaha maju. Semua terserah kita. Namun ada satu garis besar yang tidak mampu dilalui bahkan oleh mahluk seperti malaikat, yaitu kita tidak mungkin keluar dari sistem. Karena takdir itu adalah sistem. Kita bisa memilih jalan mana yang mau kita tempuh, tetapi kita tidak mungkin mendahului waktu. Kita bisa memilih mau berdiri atau duduk tapi tidak mungkin mengingkari gravitasi yang selalu mengikat kita ke bumi. Kita pun bisa memilih mau berlari atau berjalan tetapi tidak bisa membelah ruang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Takdir yang menanti di garis finish kita sudah tersedia apapun pilihan kita saat ini. Analogi gampangya, kita yang ada saat ini adalah hasil dari apa yang kita lakukan berulang-ulang pada masa lalu. Apabila kita ingin merubah takdir kita saat ini, maka kita harus mengubah apa yang kita lakukan berulang-ulang (kebiasaan) saat ini. Logikanya, bila kita ingin masa depan tertentu, itu artinya kita harus menyesuaikan dan mendekatkan diri kita dengan upaya-upaya untuk bisa meraih masa depan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Takdir itu seperti gravitasi dan berjalannya waktu,  maka setiap hukum fisika yang berlaku adalah takdir, sebuah kekuasaan maha dahsyat yang dipelihara dengan sempurna oleh Tuhan. Kita sebagai manusia hanya buang-buang nafas untuk mencari celah mengingkari sistem yang tidak mungkin ditiru oleh mahluk. Satu-satunya hal yang mungkin dapat kita lakukan adalah membelokkan sistem tersebut. Membengkokkan sistem, bukan melanggarnya. Contohnya, takdir setiap manusia adalah melalui kehidupan kemudian menjemput kematian. Ini tidak mungkin dirubah, tetapi ada hal yang bisa kita bengkokkan misalnya, menunda kematian dengan ilmu pengobatan, mensegerakan kematian dengan senjata api, dll. Apabila kita tidak melakukan apa-apa pun (hanya menunggu takdir), takdir itu juga akan mendatangi kita. Tetapi bukan takdir yang kita harapkan. Takdir yang kita harapkan tersebut tetap ada, hanya saja tidak kita pilih. Singkat kata, jika Takdir itu sistem, maka pilihan kita itu adalah peluang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka jangan berkata “karena aku tidak mempunyai apa-apa maka aku pasrah saja, tetapi katakanlah karena aku hidup terbatas maka aku ingin maju, ingin merasakan hidup yang lebih baik lagi”. Jadikanlah keterbatasanmu kini sebagai alasan terkuat untuk perubahanmu. Itu jika kamu inginkan perubahan. Tetapi dalam setiap perubahan yang kita inginkan, berhentilah untuk menggapai perubahan demi mencapai kesempurnaan. Kesempurnaan itu hanya hayalan iklan dan imajinasi film. Faktanya tidak ada kesempurnaan hakiki di bumi ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5746649461231290204-8424712963982156774?l=adhityamencarimakna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/feeds/8424712963982156774/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5746649461231290204&amp;postID=8424712963982156774&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/8424712963982156774'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/8424712963982156774'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/2009/02/takdir.html' title='Takdir'/><author><name>Adhitya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13803213516125201732</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_y6MPqq5kf9o/SP1iBud8aFI/AAAAAAAAAAU/S6qVzwAoXto/S220/100_0085.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5746649461231290204.post-3296485005415980184</id><published>2009-01-29T08:19:00.006+07:00</published><updated>2009-01-29T10:09:30.903+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Self Contemplation'/><title type='text'>A hollow Soul</title><content type='html'>Pagi hari ini kubuka kelopak mata dengan jiwa yang terasa kosong, seperti selongsong peluru yang telah ditinggalkan dari tubuh senjata, kehilangan tujuan setelah diusir pelatuk dan terjatuh di tanah dingin di negeri antah berantah seakan dilupakan begitu saja oleh peradaban. Akupun bertanya, Sia-siakah selama ini nafasku terumbar memburu angin liar kehidupan, kemanakah sesungguhnya penaklukan waktu ini membawaku ? Aku tak henti-henti menghela nafas mencari petunjuk dalam kamus hati ini hanya untuk menemukan diriku telah tersesat...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku sadari pagi ini tak ada bedanya dengan pagi-pagi lainnya. Begitu pula dengan kehampaan ini, pernah kurasakan sebelumnya. Hanya saja kala itu aku memutuskan untuk lari menjauh, menenggelamkan kendi kekosongan itu kedalam rutinitas menjemukan seolah-olah tak pernah terjadi. Hanya kemudian menyadari bahwa kehampaan itu tak terpengaruh dengan gravitasi, kembali mengambang terbawa arus kemudian di sungai waktu. Apa yang salah dengan jiwaku ini? Mengapa dada ini seperti berlubang menganga hingga tembus kebelakang, seolah-olah tak dikenal lagi organ hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah arti ini semua? Mungkinkah ini pertanda dari Sang Maha, untuk mencari kerinduan yang hilang dari kalender kehidupan? Untuk kembali mempertanyakan tujuan kehidupan, mencari makna keberadaan diri sendiri yang seolah takterjawabkan oleh waktu? Sampai saat ini hidupku hanya disusun oleh bata-bata persepsi, asumsi yang mendefinisikan kenyataan didepan mataku. Konsep menjalani kehidupan yang kabur seperti masa depan yang tak tertebak. Begitu rapuhnya terguncang oleh fantasi dan prasangka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sendiri hanya berharap hidup ini (mungkin seperti manusia pada umumnya) dapat mencukupkan pengetahuanku, kebutuhan lahir batinku, kemudian bersyukur atas segala nikmat hingga aku dapat menaklukkan keinginan liarku sendiri. Aku berharap hidup ini dapat memberikan manfaat, bukan demi ucapan terima kasih tetapi agar aku bisa mengabdikan waktu ini tidak dengan sia-sia, karena aku sungguh kesepian bila semua keinginkan itu demi aku sendiri. Dan terakhir aku ingin mengenal Tuhan, sebaik beliau mengenalku. Bahwa kusadari hidup ini adalah anugerah terbaik, maka jangan terlalu terlena dengan keterpurukan sementara, masih ada cahaya benerang yang menanti diujung jalan jika kita masih percaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya tujuanku telah jelas kuikrarkan dahulu, namun kumerasa kehilangan arah dalam mencarinya. Tersesat dalam kebosanan waktu yang mengikis perlahan semangat.&lt;br /&gt;Setiap manusia harus memiliki tujuan, tujuan dalam kehidupan yang harus kita cari sendiri. Kita tidak bisa mengelak dari pencarian ini, sebagaimana kita tak bisa mengelak untuk bertambah tua. Karena tujuan inilah yang mendefinisikan eksistensi kita, kebahagian kita dan jati diri kita. Kita akan terus menerus merasa tak pernah benar-benar bermakna, tersesat mencari kebahagian semu, dan terombang-ambing pendapat orang lain jika tak menemukannya. Jika waktu yang dibentangkan kepada kita hanya satu arah, maka seharusnya tujuan itu harus bermakna, karena kita tidak punya cukup waktu untuk terus menerus mengejar kesia-siaan, seperti yang kadang didendangkan oleh kemalasan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena hidup ini hanya sekali, aku bersyukur Keabadian itu bukan milik dunia, karena sungguh kesepiannya menjadi abadi sementara yang lain tidak. Betapa membosankannya hidup jika harus menatap waktu yang terus berubah sementara kita tidak. Meskipun betapa mulianya keinginan menjadi abadi, hidup ini akan lebih bermakna bila kita cukup menjalaninya sekali saja, tidak berulang kali karena hanya membuat makna dan tujuan hidup kita murahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;End Note :&lt;br /&gt;Manusia cenderung baru mengerti pentingnya sesuatu ketika sesuatu itu telah direnggut darinya. Kita tak harus menunggu sampai benar-benar kehilangan untuk membuktikannya. Maka Tunjukkanlah kita benar-benar menghargainya dengan segera menemukannya kemudian setia padanya,&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5746649461231290204-3296485005415980184?l=adhityamencarimakna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/feeds/3296485005415980184/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5746649461231290204&amp;postID=3296485005415980184&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/3296485005415980184'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/3296485005415980184'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/2009/01/hollow-soul.html' title='A hollow Soul'/><author><name>Adhitya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13803213516125201732</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_y6MPqq5kf9o/SP1iBud8aFI/AAAAAAAAAAU/S6qVzwAoXto/S220/100_0085.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5746649461231290204.post-2023999956986872459</id><published>2009-01-25T17:40:00.004+07:00</published><updated>2009-02-03T19:16:08.686+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Self Contemplation'/><title type='text'>Logika Bunuh Diri</title><content type='html'>####################################################################&lt;br /&gt;Apakah esensi kehidupan itu…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika setiap mahluk yang telah dilahirkan itu ditakdirkan untuk mati, lantas buat apa kita hidup ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat apa kita diperkenalkan gegap gempita keindahan hidup ini jika pada akhirnya harus diakhiri dengan perpisahan yang menyedihkan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa maksud semua ini, kenyataan ini seperti mimpi indah bercampur  mimpi buruk yang tiba-tiba terpotong  ketika bangun tengah malam kemudian lupa ketika berusaha mengingat sedang mimpi apa barusan, dengan kata lain hidup ini hanya omong kosong ! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas jika beban kehidupan ini harus ku pikul sendirian sehingga ku tak sanggup menghadapinya, lantas buat apa ku harus memperpanjang hidup yang menyedihkan ini, buat apa ku harus menggantungkan harapanku pada sesuatu yang belum tentu datang. Mengapa tidak sekarang saja kuakhiri agar enyahlah sudah kepedihan ini dari hatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka demikianlah pembelaan manusia yang memutuskan mengakhiri hidupnya sendiri….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;####################################################################&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang butuh kesedihan dan keterpurukan yang luar biasa untuk sampai pada kesimpulan ini, tetapi  banyak dari kita secara tidak sadar pernah sampai pada titik ini meski tidak sampai berani menyatakan diri sendiri untuk mencoba mengakhiri kehidupan. Coba saja renungkan, pasti ada satu dua peristiwa dalam hidup kita yang membuat kita begitu kehilangan semangat hidup lantas mencoba memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi sebagian besar orang, bunuh diri adalah perbuatan yang tidak masuk akal, konyol, bodoh, tidak beriman, dan pengecut! Tapi toh ada saja orang yang bunuh diri meskipun ia seorang terpelajar maupun beragama. Pertanyaannya sekarang,  bukanlah mencoba memahami apa yang sedang dipikirkan oleh para pelaku “self destruction” itu, tetapi lebih kepada memahami bagaimana mencegah perilaku itu agar kita jangan sampai tertular keputus asaan serupa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memulainya, sebenarnya yang perlu dilakukan cukup sederhanya. Cukup bersyukur terhadap apapun yang terjadi dalam kehidupan kita. &lt;br /&gt;Keterpurukan kita, seburuk apapun itu akan menjadi kekalahan jika kita memutuskan untuk berhenti berharap, terus menganggap diri kita sebagai orang terburuk, tersial, tersedih diseluruh dunia. Mengasihani dan menyakiti diri sendiri dalam berbagai rupa sebagaimana yang dianggap banyak orang, justru tidak akan mendekatkan diri kita pada Perubahan nasib. Nasib itu tidak akan peduli, apakah kita merajuk ataupun bergembira. Sebetulnya, dunia beserta isinya inipun tidak akan peduli pada apapun yang kamu keluhkan. Satu-satunya orang yang bisa dimintai pertanggung jawaban adalah kamu sendiri, maka putuskanlah untuk peduli pada nasibmu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan pernah kita sampai pada kesimpulan untuk mengakhiri kehidupan tetapi terlalu takut untuk menghadapi kematian secara jantan, lantas memilih cara-cara pengecut seperti mempercundangi diri sendiri, mengasihani diri sendiri, atau mungkin hidup dengan cara seorang pecundang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan menyerah pada kehidupan ini, karena Tuhan pun tidak berhenti menyerah pada kita, meskipun manusia berbuat dosa yang tak terampuni  dan membantah kekuasaannya. Jika kamu termasuk manusia yang memenuhi panggilan Sang Maha lima kali sehari, Bukankah ketika kita sujud itu artinya kita mengakui kekerdilan diri kita dihadapan sang Maha, betapa tidak bermaknanya kekuatan kita dimata sang Maha, tetapi toh itu bukan berarti Tuhan tuhan tidak menganggap kehadiran kita tidak bermakna. Buktinya waktu terus mengalir dan kesempatan selalu datang memberkahi kita dengan kemungkinan-kemungkinan memperbaiki nasib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Logika bunuh diri. Apakah itu karena kita kurang memahami agama, sehingga pemikiran sempit itu menawarkan jalan pintas mengakhiri hidup ataukah kita terlalu "menghayati" keterpurukan itu sehingga tidak sadar akan keindahan dibaliknya. Seperti kata pepatah, "kamu bisa terus mengeluhkan mengapa mawar memiliki duri, ataukah bersyukur telah memiliki mawar"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan ini benar-benar menawarkan begitu banyak keindahan daripada kematian, karena kematian itu begitu misterius dan tak terduga sementara kehidupan itu nyata dan saat ini. Maka bergembiralah dalam kehidupan dan buka mata pada kesempatan. Setiap mahluk yang terlanjur hidup cepat atau lambat pasti akan mati, sebagaimana segala sesuatu yang memiliki permulaan pasti ada akhirnya. Yang menjadi tugas kita sebenarnya bukan mengeluhkan persoalan mengapa ada kehidupan atau kematian, melainkan adalah mengisi kehidupan yang telah dianugerahkan kepada kita untuk berbuat kebaikan, agar kelak dipenghujung nafas, kita tidak menyesal. Bukan menyesali kesalahan-kesalahan yang telah kita perbuat, tetapi lebih kepada penyesalan telah melewatkan banyak kesempatan untuk berbuat kebaikan yang bermanfaat bagi sesama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala permasalahan hidup kita sebetulnya sudah ada jawabannya pada saat permasalahan itu menghampiri kita. Yang perlu kita lakukan adalah membuka mata, mencarinya. Jangan terlalu serius memelototi permasalahan itu, seolah-olah akan hilang begitu saja dengan harapan kita...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5746649461231290204-2023999956986872459?l=adhityamencarimakna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/feeds/2023999956986872459/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5746649461231290204&amp;postID=2023999956986872459&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/2023999956986872459'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/2023999956986872459'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/2009/01/logika-bunuh-diri.html' title='Logika Bunuh Diri'/><author><name>Adhitya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13803213516125201732</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_y6MPqq5kf9o/SP1iBud8aFI/AAAAAAAAAAU/S6qVzwAoXto/S220/100_0085.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5746649461231290204.post-4625140704478871160</id><published>2009-01-25T16:17:00.004+07:00</published><updated>2009-02-03T19:21:18.153+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Self Contemplation'/><title type='text'>Memaafkan Seseorang</title><content type='html'>Setiap manusia pasti pernah mengecap rasa marah, baik kepada orang asing maupun pada orang yang dikasihi. Setiap orang juga pasti pernah memuntahkan rasa marah tersebut kepada si penyebab rasa marah yang biasanya dilakukan secara berlebihan dan kemudian menyadari bahwa menuruti nafsu marah itu justru membawa luka yang lebih dalam pada hubungan dengan orang tersebut. Lalu bagaimanakah sebaiknya mengelola rasa marah tersebut agar tidak kembali memukul kita dibelakang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Anda sering marah kepada orang yang seharusnya dikasihi, seperti pasangan atau orang tua? kemarahan yang begitu tak tertahankan karena penyebab kemarahan itu selalu diulang-ulang? Merasa tidak berdaya atas keadaan Anda, merasa tidak dianggap, kemudian frustasi dan melampiaskan kemarahan itu dengan kata-kata kasar berharap orang terkasih itu menjadi mengerti kekalutan hati Anda, namun yang terjadi biasanya justru sebaliknya. Kemarahan hampir selalu dibalas dengan kemarahan, kesedihan, kebencian, dan terburuk... rasa dendam!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melampiaskan bara kemarahan itu ibarat api yang melahap segala yang ada, hanya abu kehampaan dan penyesalan yang menanti. Tetapi menelan sendiri kemarahan itu hanya justru menyebabkan rasa semakin sesak di dada, meracuni kepala dengan imajinasi destruktif dan berpotensi menumbuhkan penyakit hati. Lantas apa yang bisa kita dilakukan? Menghindari rasa marah justru tidak mungkin, karena bahkan petapa yang hidup menyendiri di pegunungan juga bisa terkena rasa marah. Bersikap tidak peduli pada segala sesuatu juga tidak bisa membantu, karena rasa marah tidak bisa hilang dengan ketidakpedulian. Satu-satunya kekuatan yang bisa menaklukan rasa marah itu adalah rasa Cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah banyak lagu yang mengeksploitasi kata cinta, tetapi banyak dari kita yang selalu bersenandung syair cinta justru kalah ketika rasa cinta itu diuji dengan kemarahan. Sudah banyak pula dari kita yang merasakan anugerah Cinta sejati dan terheran-heran akan definisi cinta, namun ketika dihadapkan dengan kemarahan justru banyak dari kita kembali kesifat dasar kita yang selalu mementingkan diri sendiri diatas pengorbanan cinta kemudian bertekuk lutut pada amarah yang memburu. Sudah lupakah kita pada janji kita dulu pada diri kita sendiri, bahwa kita akan selalu memberikan yang terbaik bagi orang yang kita kasihi, mengabdikan waktu kita demi kebahagiaannya? Namun apa yang terjadi, semudah itukah kita menyerah kalah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak tahukah kita, bahwa bibit rasa marah yang ditanamkan di dada kita itu adalah bagian dari rencana Tuhan, sebagaimana hidup kita. Bahwa kehidupan kita dengan orang yang kita kasihi itu justru akan semakin berwarna apabila dengan rasa marah itu kita bisa lebih saling memahami, alih-alih saling menyalahkan. Bahwa dengan dengan rasa marah itu Tuhan ingin kita menyadari, seberapa tuluskah kita mengkasihi, seberapa jujurkah janji kita pada diri kita sendiri. Bahwa Tuhan itu sangat peduli pada kita dengan memberikan rasa marah itu. Karena Tuhan ingin kita menjadi orang yang hebat dalam kehidupan ini dengan menaklukan nafsu pelampiasan kemarahan itu. Bayangkan saja jika kekuatan cinta itu tidak diuji dengan kemarahan, tentu ia menjadi biasa saja dan sungguh membosankan bila hari-hari selalu monoton dengan kebahagiaan selamanya.&lt;br /&gt;(Meskipun "live happily ever after" itu selalu menjadi tema roman percintaan, namun pada prakteknya sungguh tidak masuk akal)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut lagi, memaafkan seseorang (termasuk orang yang kita cintai) tidak membuktikan bahwa kita dipihak yang salah, lemah, kalah, dan tidak berdaya. Karena apa yang dibisikan hati ketika kita marah adalah tidak benar karena cenderung sudah terkontaminasi dengan kekuatan negatif. Satu hal yang pasti, memaafkan orang yang kita cintai, meskipun itu tampaknya adalah perbuatan yang tak termaafkan membuktikan seberapa besar jiwa kita, seberapa lapang rasa ikhlas kita. Bukan demi orang yang kita kasihi, namun sebagai bukti bagi diri kita sendiri. Ada peribahasa bahwa Manusia akan menunjukan sifat aslinya ketika ia marah, karena itu buktikanlah pada diri kita sendiri, seberapa tangguhkah rasa cinta kita ketika diuji dengan kemarahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan manusia tersuci seperti Nabi Muhammad pun pernah marah, namun sejarah tidak pernah mencatat beliau pernah menyerahkan kemarahan itu pada bisikan syetan. Itu karena Beliau mengerti dan berharap kita bisa belajar darinya, bahwa kemarahan selayaknya rasa cinta dan kebahagian adalah bagian dari ujian kita di dunia. Jika kita berharap akan menjadi orang besar maka bersikaplah seperti orang besar, yang dikagumi orang lain akan kebesaran hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata, Memaafkan seseorang itu butuh jiwa yang besar, melampaui rasa marah dengan kasih sayang itu lebih sulit lagi, maka tidak banyak yang bisa melakukannya. Namun bagi yang mampu, Tuhan sudah menjanjikan baginya kehidupan yang lebih baik...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(aku tulis curahan hati ini setelah berhasil mengelola kemarahan luar biasa pada orang tuaku yang membuatku frustasi, yang hampir saja membuatku kehilangan akal terbaikku untuk menyerahkan mulut dan sikap pada bisikan jahat)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5746649461231290204-4625140704478871160?l=adhityamencarimakna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/feeds/4625140704478871160/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5746649461231290204&amp;postID=4625140704478871160&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/4625140704478871160'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/4625140704478871160'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/2009/01/memaafkan-seseorang.html' title='Memaafkan Seseorang'/><author><name>Adhitya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13803213516125201732</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_y6MPqq5kf9o/SP1iBud8aFI/AAAAAAAAAAU/S6qVzwAoXto/S220/100_0085.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5746649461231290204.post-987078537656830165</id><published>2009-01-14T21:04:00.002+07:00</published><updated>2009-02-03T19:16:08.686+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Self Contemplation'/><title type='text'>New Year Note ?</title><content type='html'>Sebenarnya buat apa sih kita selalu merayakan malam tahun baru? Apakah latah mengikuti trend seperti yang digembor-gemborkan di televisi atau mengikuti orang lain, seolah-olah tahun baru akan menghibahkan waktu baru bagi kita, awal baru, kesempatan baru, melupakan kesusahan-kesusahan yang terjadi di tahun yang lama. Ini adalah beberapa catatanku mengenai tahun baru :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Seharusnya kita mengisi tahun baru ini dengan semangat baru, harapan baru dan resolusi pribadi baru. Tapi apakah kita bisa mencapai tujuan-tujuan kita jika sikap dan perilaku kita masih lama? Lantas apakah sebenarnya tujuan kita di tahun yang baru ini? Bukankah masih sama dengan tahun yang lalu, seperti mengulang harapan yang lama di tahun yang baru. Berharap nasib akan menjodohkan asa kita dengan kenyataan. Lantas bila tidak terkabulkan maka kembali diulang ditahun baru berikutnya. Pantaskah kita merayakan malam tahun baru dengan eforia dan suka cita jika kita sendiri tidak mengerti apa yang sebenarnya kita inginkan di tahun yang baru?. Pantaskah kita menjejakkan kaki diwaktu yang baru dengan memanjatkan doa pada yang Maha, memohonkan kebaikan akan turun mengisi hari-hari kita, jika kita masih mengulangi kesalahan-kesalahan yang sama, mempertahankan kebodohan dan kemalasan kita dan terus memberikan alasan penundaan pada upaya memperbaiki nasib yang dibisikkan oleh hati kecil kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Tahun yang berlalu seharusnya ditutup dengan suatu pengalaman yang berharga. Bahwa kita telah melakukan apa yang harus kita lakukan, belajar dari kegagalan dan kesedihan kita, keluar dari keterpurukan diri dan bertekad mengisi waktu yang baru bukan dengan kesedihan yang sama. Tapi bagaimanakah kita bisa belajar dari kekalahan, kegagalan dan kesedihan itu jika kita terus menganggap apa yang terjadi pada tahun yang lalu sebagai kesialan, kesalahan nasib dan ketidakadilan sang Maha? Kita harus menurunkan gelas pemahaman kita, agar air pemahaman baru bisa mengganti air persepsi kita yang lama. Kita harus mau mengakui kekalahan kita, agar bisa melangkah dengan semangat baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Lantas apakah yang kau harapkan di tahun yang baru ini ? banyak orang memulai tahun baru dengan semangat baru, harapan baru, lantas menjadi lupa di bulan berikutnya dan kembali terpuruk di persoalan yang sama. Kenangan itu bukanlah album foto yang bisa kita lihat-lihat dan mengatakan dalam hati kata seandainya. Kenangan itu adalah kenyataan dimasa lalu, yang sesungguhnya bisa kembali terjadi dimasa kini dan masa yang akan datang, jika kita menolak untuk belajar dan mencoba hal yang baru. Seperti kata pepatah, “Seseorang yang tidak belajar dari sejarah, akan dikutuk untuk mengulangi hal yang sama di masa yang akan datang”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Tahun baru menghibahkan banyak hal. Tapi sebenarnya tahun baru itu sama seperti hari hari lainnya, ia hanya pengulangan hari saja, suatu peristiwa yang menjadi bermakna karena manusia memutuskan untuk merayakannya. Yang menentukan ia lebih bermakna adalah kita sendiri. Apakah di tahun baru ini kita memutuskan untuk “berubah” ataukah hanya mencari-cari alasan saja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat tahun baru…..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5746649461231290204-987078537656830165?l=adhityamencarimakna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/feeds/987078537656830165/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5746649461231290204&amp;postID=987078537656830165&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/987078537656830165'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/987078537656830165'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/2009/01/new-year-note.html' title='New Year Note ?'/><author><name>Adhitya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13803213516125201732</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_y6MPqq5kf9o/SP1iBud8aFI/AAAAAAAAAAU/S6qVzwAoXto/S220/100_0085.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5746649461231290204.post-8632704691567073032</id><published>2009-01-07T00:04:00.000+07:00</published><updated>2009-02-03T19:16:08.687+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Self Contemplation'/><title type='text'>Catatan Awal Tahun</title><content type='html'>Ini adalah beberapa hal yang kupelajari selama tahun 2008 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Keping Pertama : Takdir&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini aku mengharapkan takdir akan datang menjemputku, meminangku dan membawaku ketempat yang aku tuju. Di suatu masa di masa depan yang berkilau dan indah. Maka aku menunggu dan menunggu, atas nama harapan kutunggui takdirku didepan pintu asaku. Dan setelah bertahun-tahun ku tunggu, takdir itu tak kunjung datang membawa berita kedatangannya. Aku baru saja menyadari, bahwa apa yang kulakukan hanyalah lamunan seorang pemalas yang mengharapkan surga menghibahkan mukzizatnya didepan pintu rumahku tanpa harus ku keluar rumah disengat matahari terik. Dan aku menyesal, menyesali kebodohanku menunggui yang tak ada, menyembelih waktuku pada penantian yang percuma dan sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini aku belajar, dan baru menyadari arti kata pepatah : “kita harus melakukan apa yang kita harus lakukan, sampai takdir mengungkap jalannya”. Aku ingat kata-kata ini entah dari buku mana yang ku baca, namun baru kini aku menyelami maknanya. Sebetulnya aku sudah tahu bahwa takdir itu adalah lembaran kosong dalam waktu, dimana kita bebas menuliskan apa saja, mencoret-coretnya atau malah mendiamkannya (seperti yang telah kulakukan selama ini). Kita tidak pernah tahu bagaimana takdir dan nasib membentuk masa depan kita, dan karena itu pula kita juga tidak bisa mengharapkan yang terbaik selalu datang menjemput kita. Jika tak ada satupun manusia yang bisa memesan takdirnya di masa depan, maka perbuatan pasrah dan menunggu sebenarnya adalah perbuatan konyol, lebih konyol daripada peribahasa pungguk merindukan rembulan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya yang kita lakukan adalah mempersiapkan diri kita agar apapun takdir yang akan datang kehadapan kita, kita bisa lebih matang menghadapinya. Seperti kata Mario Teguh, kita pantas mendapatkan masa depan apapun yang kita inginkan, jika saja kita juga memantaskan diri kita menerima masa depan tersebut. Dalam agama ditegaskan bahwa kata pasrah itu menjadi halal dilakukan bila segala daya upaya telah kita upayakan untuk mengejar tujuan kita. Bersikap pasrah, menerima apa adanya takdir yang disajikan dihadapan kita tanpa berbuat sesuatu dalam persiapannya, menurutku adalah sikap yang tidak pantas bagi seseorang yang dalam setiap doanya memohonkan masa depan yang hebat, besar dan bersinar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini aku belajar, dan menyatakan pada diriku sendiri agar tidak boleh ada lagi lembar kosong yang terobek sia-sia oleh waktu tanpa kuisi dengan perbuatan yang berguna demi menjemput tadir yang kuingini. Semoga tekad ini bisa tetap kujaga kibarnya di waktu hidupku. Toh pada akhirnya, kita akan lebih menyesali perbuatan-perbuatan yang seharusnya kita lakukan tapi tidak kita lakukan, daripada menyesali perbuatan-perbuatan salah yang kita telah kita perbuat.  Waktu itu tidak terbatas, tapi waktu kita didunia ada batasnya. Karena itu sebaiknya kita pergunakan waktu yang kita tak tahu dimana akhirnya ini benar-benar berguna, agar tidak ada penyesalan lagi diujung nafas kita kelak (karena penyesalan sesudah itu tidak bisa kita perbaiki lagi begitu kita meninggalkan dunia fana ini).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Keping Kedua : Impian&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanakah kita mendefinisikan impian ? aku sendiri berpendapat, impian itu adalah batu bara yang membakar semangat kita, kompas yang menentukan arah langkah kita dan jangkar yang membuat kita tetap berlabuh ketika didera ombak-ombak cobaan kehidupan. Impian setiap orang itu pasti berbeda satu dengan lainnya, namun secara garis besar ia harus lebih besar dan lebih hebat daripada keadaan kita sekarang dan untuk mencapainya dibutuhkan perjuangan ekstra, bukan sekedar “walking in the park”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu seberapa jauhkah impianku kini membawaku? Bila kupikirkan lebih dalam maka jawabannya adalah “tidak kemana-mana”. Yang aku sadari kini impian-impian yang kutulis dengan tinta emas dalam lubuk hatiku dulu, kini masih sama, hanya saja semakin kusam tertutup berbagai persoalan hidup kemudian semakin tenggelam terlupakan waktu. Lalu apa yang telah kulakukan agar aku bisa menarik impian itu dari tidur malamku kedalam kesadaranku? Mungkin jawabannya adalah tidak ada!! Aku sedih dan menyesal, lalu merenungi apa salahku. Apakah impianku terlalu besar hingga tak kuat untuk digantungkan di langit malamku? Ataukah aku kurang berusaha membangun anak tangga guna menggapainya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang tidak kusadari mungkin adalah kekalahanku memegang teguh impianku dari kata hatiku sendiri, sehingga aku mudah terbuai dan terbujuk oleh alasan-alasan penunda keberhasilanku kemudian memasrahkannya pada takdir belaka. Aku mungkin terlalu mudah teralihkan, sehingga impianku sendiri menjadi terabaikan. Dan ketika impian-impian itu menagih janjinya padaku, yang ku utarakan hanyalah alasan demi alasan pemaaf mengapa aku belum bisa memulainya. Kemudian tanpa kusadari itu menjadi kebiasaan yang terlatih, sehingga akupun menutupi kekecewaanku itu dengan impian-impian lainnya dan begitu seterusnya. Dan akhirnya ia menjadi hilang tingkat kesakralannya, menguap menyisakan abu yang bernama “lamunan”, yang begitu mudahnya terbang bila tertiup angin semilir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini aku belajar, bahwa impian itu harus kongkrit, terarah dan tegas. Kita tidak bisa hanya mengatakan impianku adalah menjadi orang sukses. Menanamkan sugesti seperti itu hanya akan membuat hidup kita tidak terarah, karena ukuran sukses itu berbeda-beda dan multi tafsir. Sehingga pada akhirnya ketika tenggat waktu impian tersebut hampir habis, kita dihadapkan pada realitas yang membingungkan kita sendiri. Dan akhirnya kita diharuskan menerima kenyataan tersebut sebagai buah impian kita dulu, yang dalam hati kecil kita menganggap impian tersebut telah terwujud dalam skala “bonsai”, lalu kita pun beralasan, toh setidaknya impian tersebut sudah terwujud….. seperti itukah yang kita inginkan? Seberapa besar kita menginginkan impian kita itu terwujud menentukan seberapa jauh batas perbedaannya antara impian kita dan lamunan belaka. Jika Impian itu cenderung bersifat abstrak maka realisasinya pun dipastikan tidak kongkrit atau “tergantung suasana hati kita menginginkannya”. Oleh karena itu pula banyak impian-impian kita yang menjadi sekedar lamunan belaka, ketika kita menyadari gurun pasir beserta badainya yang harus kita lalui demi menebusnya. Dan akhirnya kita pun rela menukar impian mulia kita tersebut dengan ukuran yang lebih kecil, jauh lebih kecil sesuai dengan tingkat kenyamanan kita mencapainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Keping Ketiga : Tekad&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tekad adalah tangan-tangan yang menjalankan perintah impian-impian kita. Ia adalah api yang menyala dari hasrat impian kita untuk menerangi jalan gelap yang ada di depan kita. Tekad itu tidak berwujud bila kita sendiri tidak tahu apa yang kita inginkan. Sepanjang tahun 2008 ini aku telah memikirkan sejumlah kemajuan dibanding tahun sebelumnya, dan kesimpulannya adalah tidak jauh lebih bermutu dari tahun-tahun sebelumnya. Aku selalu terjebak dipermasalahan yang sama, yang sesungguhnya menjemukan untuk diceritakan karena begitu seringnya aku mengulangi kesalahan ini. Masalah itu adalah, apa tekad sejatiku dalam hidup ini? Suatu pertanyaan yang menjeratku berulang kali karena ada begitu banyak variasi jawaban yang sudah kukemukakan. Aku adalah ibarat seseorang yang pergi melaut dengan sebuah kapal, dan kemudian berhenti ditengah tengah untuk menemukan arti bahwa aku sebetulnya telah tersesat. Aku tersesat karena aku sendiri tidak mengetahui kemana tujuanku berada, aku hanya terombang ambing kesana kemari oleh ombak dan tidak mengerti membaca posisi. Bagiku impianku itu nyata dan ada diluar sana, namun ia begitu abstrak sehingga jalan yang harus kulalui itu aku sendiri tidak tahu ada dimana. Lalu kemanakah tekad ini harus membakar semangatku untuk mengayuh, dan bila kupikirkan lagi, bagaimana mungkin aku bisa tersesat jika aku sendiri tidak bisa mengetahui arah pelabuhan terdekat yang ingin kutuju. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup ini ibarat lautan lepas yang bisa mengayunkan berbagai kemungkinan. Dan jika kapal yang kita naiki ini adalah waktu hidup kita, alangkah sia-sianya hidup ini jika dihabiskan untuk terombang ambing mengikuti arus, yang pada akhirnya tidak membawa kita kemana-mana. Betapa sia-sianya jika kita tidak sempat melihat kehebatan petualangan-petualangan yang mampu ditawarkan oleh kehidupan ini, sehingga kelak kita bisa bercerita dengan mata berbinar-binar. Seperti kata pepatah, ”Bagi yang sedang tenggelam, gerakan apa pun selain gerakan tenggelam adalah pilihan yang lebih baik”.  Aku dan pilihanku sudah terbukti keliru. Aku terlalu banyak terlena oleh angin laut yang mengalihkan tujuanku dan begitu terbuai oleh ombak yang mendayu-dayu mengayunkan perahuku kekiri dan kekanan. Seharusnya aku sadar sedari dulu, bahwa jika aku terlalu santai menikmati kehidupan yang tersaji dihadapanku, maka aku takkan siap menghadapi badai yang sering datang tiba-tiba. Itulah sebabnya aku selalu tercebur dan nyaris tenggelam dalam setiap badai yang menerjang, kemudian bangkit dan selalu bertanya-tanya mengapa sampai tenggelam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tekad dalam hatiku menjadi lemah untuk diuji dengan pahit getir kehidupan, karena aku lebih sering mempertanyakan tujuan, beretorika dalam monolog batin, mengkonfrontir tujuan hidupku sendiri alih-alih segera keluar dari air dan segera mendayung perahu. Aku sering kali menertawakan dalam hati kecilku sebuah falsafah jawa yang berbunyi ”alon-alon waton kelakon”. Namun tanpa kusadari aku malah termakan filosofi itu. Seperti kata andri wongso, ”jika anda tidak keras terhadap kehidupan, kehidupan akan keras terhadap anda”. Aku sedari dulu mengerti arti kata itu, namun untuk menjabarkannya kedalam aksi ternyata lebih banyak pertentangannya dari dalam diri. Betapa memaksa diri untuk keluar dari ”comfort zone”, bertempur berdarah-darah untuk menemukan diri sendiri masih gagal itu sungguh lebih berat jika dibayangkan. Dan akhirnya, kita ( dan terutama aku) lebih sering mengabaikan nasehat-nasehat orang dengan dalih itu belum tentu bisa diterapkan. Aku sering lupa, bahwa menyibukkan diri menganalisis persoalan tidak memabawaku kemana-mana kecuali segera bergerak kemana saja dengan sisa tekad untuk segera keluar dari lubang masalah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini aku belajar, bahwa untuk mencapai impian kita itu tidak harus mengerti arah pasti yang harus dituju. Arah tujuan tidak harus sempurna dan perbuatan kita tidak harus sesempurna mungkin. Menjadi perfeksionis tanpa cela hanya menuntun kita untuk tidak berbuat apa-apa, menonton pertunjukan kehidupan dari sisi penonton lalu berkomentar ini-itu seolah-olah kita bisa melakukannya dengan lebih baik. Betul jika hidup itu harus hebat dan bersinar namun mengejar kepuasan dengan berbuat sesempurna mungkin sering kali membuat kita menderita, bukan saja karena kesalahan yang diperbuat, namun juga lebih karena kita merasa lebih sering berbuat kesalahan daripada yang benar. Lalu aku belajar, tahun ini aku akan berbuat lebih banyak, melakukan aksi lebih banyak tanpa khawatir jika kala-kalau seandainya. Berbuat kesalahan itu tidak lebih dari bergabung dengan umat manusia, dan mengambil pelajaran darinya adalah satu poin tambahan yang mampu mengangkat harga diri kita dan membedakan diri kita dengan sisa manusia lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Keping Keempat : Alasan Penunda&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menunda-nunda pekerjaan sama artinya menunda datangnya keajaiban kedalam kehidupan kita. Penundaan satu pekerjaan adalah pemotongan satu waktu senggang kita di esok hari. Penundaan adalah racun bagi semangat kita dan jelaga yang menutupi hati kita dari pengupayaan keberhasilan. Ada begitu banyak alasan untuk berhenti menunda-nunda namun mengapa banyak dari kita masih menyimpan kebiasaan ini dalam hati kita. Aku sendiri adalah salah satunya. Sedemikian akutnya penyakit ini menjangkit hatiku kini, hingga menjadi borok yang selalu mengalihkan perhatianku melihat kesempatan-kesempatan baru. Hingga kini selalu menjadi kambing hitam yang kupersalahkan ketika doa-doaku tak kunjung terjawab. Betapa aku muak dengan kebiasaan ini namun di sisi lain begitu susahnya membuangnya. Apakah ini sudah menjadi penyakit menahun yang kini membentuk jati diriku ataukah keenggananku sendiri adalah alasannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas, penundaan adalah biang keladi atas segala kerepotan yang menimpaku ketika tenggang waktu suatu pekerjaan semakin menghimpit. Penundaan adalah penyumbang terbesar atas kegagalanku dalam mencapai sesuatu dan mungkin merupakan kesalahan terbesarku sepanjang hidupku. Kadang akupun berseloroh, bahwa justru karena penundaan ditambah faktor deadline itulah yang membuat adrenalinku menyembur dan mengalirkan ide-ide yang sebelumnya buntu. Tentu ini benar jika dalam keadaan darurat, namun masalahnya jika untuk setiap urusan diharuskan melalui ritual penundaan ini, bukankah efeknya bisa seperti efek domino? Akhirnya aku juga yang menjadi kelelahan. Kadang aku berpikir bahwa penundaan itu ibarat waktu istirahat  sejenak yang dibayar dimuka, namun jika keterusan maka bunganya bisa mencekik dan bila sudah jatuh tempo tidak segera dikompensasikan bisa menyebabkan kolaps. Disitulah letak perangkapnya, jika jiwa sudah merasakan enaknya waktu senggang (waktu istirahat) sungguh sulit jika harus kembali bekerja, kemudian hatipun berkata “mengapa tidak berleha-leha dulu saja….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini aku belajar, bahwa untuk mengatasi sifat menunda-nunda ada dua kunci utama. Pertama adalah Tekad untuk berubah disertai akal yang selalu mengakar pada realitas, bahwa penundaan di masa sekarang adalah dua kali waktu sibuk di esok hari. Kedua adalah disiplin untuk selalu menunaikan urusan terlebih dahulu baru pantas mendapatkan waktu senggang / waktu istirahat. Melakukanlah sesuatu yang selama ini telah aku ketahui harus aku lakukan adalah bagian dari rasa tanggung jawab, dan penundaannya menjadikan aku merasa berhutang, merasa terlambat, dan telah membuat aku merasa tidak bertanggung-jawab, adalah bukti bahwa aku masih memiliki akal sehat untuk menalar suatu penundaan. Untuk itu diri ini perlu dipecut, perlu di paksa untuk tidak selalu menunda, perlu dilatih untuk tidak selalu melihat jam demi melihat kesempatan untuk menunda-nunda. Dan yang terpenting, meski memulai sesuatu yang baru itu sulit, namun melangkahkan kaki pertama itu tetap harus dilakukan bagaimanapun kita memikirkan cara lainnya yang lebih mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Keping Kelima : Ketidakpedulian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring bertambahnya usia, manusia cenderung bersikap tidak peduli terhadap lingkungan sekitarnya, tenggelam kedalam persoalan hidupnya dan persoalan pribadinya. Mungkin seperti Itulah yang kini sedang kurasakan. Berbagai permasalahan yang menghimpitku sepertinya mengalihkan pandanganku terhadap masalah sebenarnya yang seharusnya sudah kusadari. Berbagai peristiwa tahun lalu membentuk persepsiku akan realitas dan keyakinan memandang dunia. Betapa hidup ini ternyata begitu paradoks bila kita terus mempertentangkan satu hal dengan lainnya. Misalnya saja, semua manusia itu cenderung individualis (mementingkan dirinya sendiri) namun disisi lain juga membutuhkan untuk berkerumun membentuk suatu komunitas masyarakat. Apakah itu karena setiap manusia tidak bisa memenuhi kebutuhannya sendiri ataukah karena dengan kebersamaan memenuhi rasa aman dan bebas rasa curiga dengan sesama manusia lainnya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesenanganku dalam mempertanyakan pertanyaan filosofi ternyata tidak mendekatkanku pada jawaban yang kucari. Dan akhirnya kuterjebak pada kegaduhan argumen dalam otakku sendiri yang saling bersautan, aku pun menjadi pribadi yang tidak peduli justru pada persoalan yang hakiki. Menurutku Hidup ini tidak harus dijalani seperti mengalir begitu saja, karena kita hanya memiliki waktu sekali saja maka bukankah percuma jika Cuma dilewati dengan melakukan hal-hal yang biasa saja. Aku ingin melakukan hal-hal biasa dengan jalan yang luar biasa, agar aku tidak terjebak dalam rutinitas yang menjemukan. Tetapi sering kali pemenuhan keinginan itu cepat menjadi suatu hal yang biasa. Aku menjadi seorang pembosan yang tidak tahu apa hal yang paling diinginkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lainnya yang sering membuatku menjadi pribadi yang tidak peduli adalah persepsiku atas hubungan dengan orang lain. Aku mungkin terlalu terdogma dengan falsafah balas dendam: mata ganti mata, tangan ganti tangan. Sehingga dalam setiap sikapku adalah cerminan perilaku orang lain terhadapku. Mungkin ini sikap yang tidak dewasa, untuk membalas perliaku orang lain terhadapku dengan kadar yang sama, karena realitas dalam hidup ini bukan sekedar hitam dan putih, dan kita tidak selalu mendapatkan hal yang kita inginkan hanya dengan membalas perliaku yang sama. Menurutku Bersikap baik dan tersenyum adalah suatu keharusan dalam berinteraksi dengan orang lain, namun bila lawan bicara kita tidak menghargai dan berbuat sebaliknya, maka aku cenderung bersikap tidak peduli dan kembali membalasnya dengan perilaku yang sama. Sungguh kekanak-kanakan…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini aku belajar bahwa ketidakpedulianku terhadap sekitar justru telah membuatku acuh terhadap setiap pintu peluang yang melintas didepanku, sehingga membuatku selalu hilang kesempatan karena termakan rasa curiga. Ku sadari tidak jarang aku terjebak dalam reaksi-reaksi emosional jangka pendek terhadap masalah-masalahku, dan kehilangan pandangan rasionalitas pada keuntungan jangka panjang dari upaya memposisikan diri untuk tanggap kepada yang penting dan yang prioritas.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Keping Keenam :  Sikap&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap kita dalam memandang dunia menentukan bagaimana masa depan datang kepada kita. Kita akan terus merasa menderita, selama kita melihat diri kita menderita. Kita akan menjadi seorang pecundang, jika kita menerima kekalahan kita sebagai kewajaran, bukan sebagai tantangan untuk memperbaiki diri.  Jika sikap itu menentukan masa depan kita, maka sikap yang bagaimanakah yang harus kita miliki? Menurutku masing-masing dari kita sudah tahu jawabannya, hanya saja keberanian utuk tetap konsisten memegang sikap tersebut dalam setiap kesempatan itulah yang membuat keengganan kita untuk bertahan. Sepanjang tahun 2008, menurutku sikapku yang paling tidak produktif adalah sikap malas, terlalu menggampangkan sesuatu hal dan sikap tidak produktif lainnya. Aku sadari aku sering membandingkan diri ini dengan orang lain yang justru berada dibawah diposisiku, sehingga memberikanku alasan untuk berleha-leha dan menjadi tidak produktif lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatlah, Tuhan memberikan cobaan dalam hidup ini sesuai dengan kadar resisten kita sendiri-sendiri. Masalah kecil, diperuntukkan bagi orang-orang kecil. Masalah-masalah besar, diperuntukkan bagi orang-orang besar. Tidak akan ada kesalahan dalam alokasi ukuran masalah itu. Jika kita merasa sedang dihadapi permasalahan besar, itu tandanya Tuhan sedang merencanakan kita untuk menjadi orang besar. Jika kita mampu mengatasinya artinya kita telah layak untuk naik kelas, jika tidak maka kita harus mengulang ujian tersebut dilain waktu. Karena itu Hidup yang mengalir itu sungguh membosankan, karena kita tidak sempat merasakan berbagai tantangan dan gelombang dalam hidup yang dapat membentuk dan mengembangkan karakter kita lebih baik lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini aku belajar bahwa Hidup itu harus Besar, Luas, Hebat dan Bermanfaat bagi Orang Lain. Kongkritnya dalam melakukan hal itu tiada lain adalah menjadi orang sukses. Sukses bukan dari segi materi tetapi juga tingkat kualitas pribadi dan tingkat keimanan. Kesuksesan itu dilahirkan dari sikap, dimulai dengan usaha yang gigih dan ditutup dengan pola pikir positif. Berbahagialah kita semua jika dalam memulai perjalanan menuju kesuksesan dalam hidup kita dimulai dari situasi yang tidak kondusif. Entah karena penolakan keluarga, kekurangan modal, ketidakpercayaan diri, lemahnya fisik, dan alasan-alasan lainnya. Karena Kesukesan dari dimulai dari ketidakmampuan diri itu namanya adalah sukses sejati, karena kita bisa merubah keadaan tersebut menjadi jauh lebih baik. Jika kita dilahirkan dari lingkungan yang serba mendukung dan dilengkapi oleh berbagai fasilitas, maka menjadi sukses itu bukanlah suatu pilihan, melainkan sesuatu yang wajar. Justru jika dengan segala sarana tersebut kita malah gagal maka itulah yang dinamakan kebodohan (kecerobohan)….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sebagai penutup, Ini adalah penggalan kisah dari Mario Teguh untuk kita renungi bersama maknanya:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya semua kemenangan dalam permainan kartu ditentukan oleh kualitas kartu yang dipegang oleh seseorang, maka teknik paling penting dalam permainan kartu adalah teknik membagi kartu - bukan memainkannya. Lalu, segera setelah seseorang menerima pilihan kartu yang buruk, dia harus segera menyerah. Dan rekannya yang mendapatkan pilihan kartu yang baik - harus segera melompat berdiri dan mengumumkan kemenangannya.Tetapi apakah memang begitu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemenangan dalam kehidupan ini, persis seperti permainan kartu -yaitu, bukan kartu yang Anda pegang yang menentukan kemenangan Anda, tetapi bagaimana Anda memainkan kartu apa pun yang ada pada Anda. Kualitas yang prima tidak menjamin keberhasilan bagi siapa pun, tetapi penggunaan yang bersungguh-sungguh dari kualitas apa pun yang kita miliki - itu lah jalan terbaik menuju jaminan yang Anda inginkan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5746649461231290204-8632704691567073032?l=adhityamencarimakna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/feeds/8632704691567073032/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5746649461231290204&amp;postID=8632704691567073032&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/8632704691567073032'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/8632704691567073032'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/2009/01/catatan-awal-tahun.html' title='Catatan Awal Tahun'/><author><name>Adhitya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13803213516125201732</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_y6MPqq5kf9o/SP1iBud8aFI/AAAAAAAAAAU/S6qVzwAoXto/S220/100_0085.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5746649461231290204.post-5817374105549093959</id><published>2008-12-21T13:52:00.000+07:00</published><updated>2009-02-03T19:21:08.782+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Self Contemplation'/><title type='text'>The Power of Cinta</title><content type='html'>Sudah beberapa lama terlintas dipikiranku, setelah kubaca beberapa literatur akhirnya mengusik hati untuk segera kutulis.&lt;br /&gt;Satu pertanyaan terbesarku saat menjalani ramadhan:&lt;br /&gt;Apa tujuan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Allah azza wa jalla&lt;/span&gt; menciptakan semuanya ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja dalam kitab suci disebutkan untuk mengabdikan seluruh hidup kita kepada Allah. Seperti yang diajarkan Rasulullah tentunya. Ya, selama berabad-abad para ulama tidak mempersoalkannya. Toh kita kan hanya hamba. Tapi saat ku termenung beberapa waktu silam, aku sebagai manusia berpikir ...apa untungnya bagi allah ?... dalam pemikiran manusiaku ada beberapa opini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Apakah Allah menciptakan alam semesta beserta isinya, materi, waktu, ruang, makhluk, surga dan neraka hanya untuk mengusir kebosanan? Aku berpikir “seandainya” aku di posisi allah, alangkah bosannya menjadi zat yang tunggal, memiliki kekuatan tak terbatas dilauar kungkungan waktu dan ruang. Lalu apa yang kulakukan? Ya aku menciptakan semuanya ini untuk mengusir kebosanan. Toh tidak ada ruginya karena kekuatanku tak terhingga. Lalu kuciptakan manusia sebagai lakon cerita utama untuk mengatasi berbagai rintangan untuk akhirnya dapat hidup di surga, puncak segala kenikmatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Apakah Allah menciptakan semuanya ini untuk mengenalkan dirinya kepada makhluk agar mereka beribadat dan mengakui kebesarannya. Lagi2, jika dianalogikan ibarat seorang raja kuat tanpa pengikut. Tidak ada yang mengakui kehebatannya, tidak ada yang memujanya, tidak ada yang memohon pertolongannya. Lagi2, faktor kesepian dan kebosanan. Tentu saja dua opini ini adalah opini dari sudut pikiran seorang mahluk yang sangat terbatas tingkat pemahamannya terhadap sesuatu yang diluar akal pikirannya bisa mencerna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Apakah Allah menciptakan karena faktor x lain? Karena allah tidak membutuhkan makhluk, tidak punya keuntungan apa2 jika mahlukNYA menyembahnya, meminta pertolongan atau malah mendurhakainya, mencacinya dan menghianatinya. Allah juga tidak punya keperluan apa2 terhadap materi, waktu, dan ruang sebagaimana hambanya. Jika seandainya ada faktor kebosanan dan kesepian, maka itu bukannya sifat dari makhluk yang menandakan kecacatan dari kesempurnaan. &lt;br /&gt;Hal itu seperti analogi : bisakah Allah menciptakan materi yang sebegitu masif beratnya sehingga Ia tidak sanggup mengangkatnya?. Sebuah kecacatan silogisme, absurd !. lalu apakah faktor x tersebut? Menurutku Itulah kekuatan CINTA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa harus cinta, kenapa tidak ada yang lain? Seperti yang diajarkan bahwa manusia memiliki beberapa sifat allah termasuk cinta sehingga kita bisa merasakan keindahannya. Lalu apa definisi cinta? Cinta adalah suatu perasaan yang membuat kita melakukan apa saja demi menyenangkan orang yang kita cintai, kebahagiannya adalah kebahagian kita, kesedihannya adalah kesedihan kita. Satu hal yang masuk diakal bagiku dalah cinta. Allah tidak memeliki kepentingan apapun, lalu mengapa masih peduli pada makhluknya sedemikian besarnya sehingga mengirim rasul dan kitab suci. Bukankah kalau Ia bosan atau jengkel dengan sikap makhluknya, tinggal di “delete” saja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta pada makhluk&lt;br /&gt;Cinta adalah anugerah terbesar yang diberikan tuhan terhadap menusia. Maka beruntunglah bagi orang yang memiliki cinta, karena hanya dengan cintalah hidup akan terasa lebih mudah. Cinta itu tidak dicari, tetapi ditumbuhkan. Kita bisa memberi tanpa menCintai, tetapi tidak mencintai tanpa memberi. Jadi pastikan dulu kita pantas untuk mencintai dengan memberikan yang terbaik dari waktu kita di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mereka yang tidak menyukainya menyebutnya tanggung jawab,&lt;br /&gt;Mereka yang bermain dengannya, menyebutnya sebuah permainan,&lt;br /&gt;Mereka yang tidak memilikinya, menyebutnya sebuah impian,&lt;br /&gt;Mereka yang mencintai, menyebutnya takdir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang Tuhan yang mengetahui yang terbaik, akan memberi kesusahan untuk menguji kita. Kadang Ia pun melukai hati, supaya hikmat-Nya bisa tertanam dalam. &lt;br /&gt;Jika kita kehilangan cinta, maka pasti ada alasan di baliknya. Alasan yang kadang sulit untuk dimengerti, namun kita tetap harus percaya bahwa ketika Ia mengambil sesuatu, Ia telah siap memberi yang lebih baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa menunggu?&lt;br /&gt;Karena walaupun kita ingin mengambil Keputusan, kita tidak ingin tergesa-gesa.&lt;br /&gt;Karena walaupun kita ingin cepat-cepat, kita tidak ingin sembrono.&lt;br /&gt;Karena walaupun kita ingin segera menemukan orang yang kita cintai, kita tidak ingin kehilangan jati diri kita dalam proses pencarian itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ingin berlari, belajarlah berjalan dahulu,&lt;br /&gt;Jika ingin berenang, belajarlah mengapung dahulu,&lt;br /&gt;Jika ingin dicintai, belajarlah mencintai dahulu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya, lebih baik menunggu orang yang kita inginkan, ketimbang memilih apa yang ada.&lt;br /&gt;Tetap lebih baik menunggu orang yang kita cintai, ketimbang memuaskan diri dengan apa yang ada.&lt;br /&gt;Tetap lebih baik menunggu orang yang tepat, Karena hidup ini terlampau singkat untuk dilewatkan bersama pilihan yang salah, karena menunggu mempunyai tujuan yang mulia dan misterius. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu kau ketahui bahwa Bunga tidak mekar dalam waktu semalam,&lt;br /&gt;Kota Roma tidak dibangun dalam sehari,&lt;br /&gt;Kehidupan dirajut dalam rahim selama sembilan bulan,&lt;br /&gt;Cinta yang agung terus bertumbuh selama kehidupan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan hal yang indah dalam hidup memerlukan waktu yang lama, Dan penantian kita tidaklah sia-sia. &lt;br /&gt;Walaupun menunggu membutuhkan banyak hal - iman, keberanian, dan pengharapan - penantian menjanjikan satu hal yang tidak dapat seorangpun bayangkan. &lt;br /&gt;Pada akhirnya. Tuhan dalam segala hikmat-Nya, meminta kita menunggu, karena alasan yang penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5746649461231290204-5817374105549093959?l=adhityamencarimakna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/feeds/5817374105549093959/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5746649461231290204&amp;postID=5817374105549093959&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/5817374105549093959'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/5817374105549093959'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/2008/12/power-of-cinta.html' title='The Power of Cinta'/><author><name>Adhitya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13803213516125201732</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_y6MPqq5kf9o/SP1iBud8aFI/AAAAAAAAAAU/S6qVzwAoXto/S220/100_0085.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5746649461231290204.post-9014498169222953668</id><published>2008-12-21T12:30:00.000+07:00</published><updated>2009-02-03T19:20:41.507+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Self Contemplation'/><title type='text'>Analisis Cinta</title><content type='html'>Beribu-ribu manusia mengeja cinta sebagai keagungan rasa, banyak yang membenci karenanya, lebih banyak lagi yang memujanya. Kecintaan kepada manusia adalah rasa sayang yang dibalut kepedulian melebihi keegoan dirinya, berani membunuh rasa senangnya demi yang dicintainya. Tetapi lebih dalam lagi, menurutku sebenarnya cinta itu tak berperasaan seperti waktu. Ia tak peduli siapa dan mengapa orang mencinta, ia tak peduli menjadi ramuan obat atau racun bagi siapapun yang menenggaknya. Ia hadir sebagai karma, bagi setiap insan yang terlanjur jatuh pada keindahan raga. Ia adalah magnet yang menarik siapa saja yang terlalu dekat padanya, dan menolak siapa saja yang tidak tulus kepadanya. Intinya, cinta itu adalah alat, alat untuk manusia memahami keagungan sang Maha, alat yang bila tak mengerti cara memanfaatkannya hanya akan menjerumuskannya kepada sesal dan dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika seseorang jatuh cinta maka ia melihat dunia dengan kacamata cinta seburuk apapun keadaannya, begitu juga dengan seseorang yang sedang membenci akan memakai kacamata kebencian itu untuk melihat isi dunia secerah apapun keadaannya. Tetap saja kesemuanya adalah permainan perasaan, namun bila kamu sanggup mencopot kacamata itu apapun yang sedang kamu rasakan pasti kamu akan melihat sesuatu yang lain, sesuatu yang mampu merubah suasana menjadi lebih baik, sesuatu yang membantu mu menjadi seseorang yang lebih baik......percayalah !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta kepada lawan jenis adalah takdir setiap manusia. Setiap jiwa selalu cenderung kepada belahan jiwanya, dan akhirnya saling mengikatkan diri dalam janji pernikahan. Orang bilang bercinta (sex) adalah puncak keindahan cinta. Makanya banyak yang memotong jalur resmi demi mengejar kenikmatan ini. Akhirnya banyak yang tergoda untuk mencicipi hadiah pernikahan ini tanpa prosesi seharusnya. Tidakkah mereka sadar, bahwa bercinta itu sekedar penambah rasa, bumbu yang seharusnya mengikatkan bahan utama masakan, yaitu cinta. Bukankah aneh jika kita lebih memilih memakan bumbu tanpa ada masakan utamanya? Semata-mata demi pemuas rasa. Bukankah itu hanya membuat mereka semakin lapar mata, sehingga semakin memburu mencari pemuas dahaga lainnya. Okey, bercinta itu berjuta rasanya. Tak ada yang menyanggah argumen ini, apalagi melakukannya dengan kekasih hari. Tetapi bukankah itu menjadi sia-sia jika tidak diikat dalam pernikahan. Ibarat mengendari motor, siapa saja (orang dewasa) bisa mengendarai motor, tetapi apakah setiap pengendara motor memiliki SIM dan STNK (juga BPKB) ?. yang berpikir praktis tentu bisa saja membantah argumentasi ini, tetapi jika terjadi sesuatu di jalan, bukankah Surat-surat itu yang membantu menyelamatkan kita dari terkaman preman berbaju hijau (polisi?) dan bisa membantu kita jika terjadi masalah hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke analisis cinta, hal terakhir yang ingin ku bagi adalah pelarian dari masalah cinta. Aku tak habis pikir kenapa banyak manusia tak lagi menggunakan kesempurnaannya untuk menyelesaikan masalah hidupnya (dan juga masalah percintaannya), mereka malah pergi ke paranormal, dukun, bahkan memohon bantuan jin dan setan. Padahal bila kita berpikir dari sudut pandang yang berbeda begitu banyak karunia tersembunyi yang ada dalam tubuh dan jiwa kita untuk dikelola dan dimanfaatkan. Mereka malah pasrah dan ambil jalan pintas menyelesaikan masalah (dan lebih ekstrim lagi “bunuh diri”). Aku percaya Tuhan takkan pernah menciptakan sesuatu sia-sia meskipun itu akan menyakitkan kita, aku yakin pasti ada akhlak mulia disetiap peristiwa, agar kita belajar, agar kita sadar, agar kita mawas dan semua demi kebaikan kita sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tobe continued…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moral word :&lt;br /&gt;1.Kita tidak bisa menghindari setiap lubang yang ada dalam perjalanan hidup kita. Begitu pula kita tidak bisa menghindari setiap orang yang tidak kita sukai. Hambatan itu selalu ada kemanapun kita menghindar, sama seperti orang yang tidak kita senangi. Yang bisa kita lakukan adalah menyiapkan diri agar bila kita jatuh dalam satu lubang, pastikanlah bahwa kita belajar dari pengalaman itu agar tidak jatuh di lubang lainnya. Kita pun tidak bisa selalu menghindari orang yang tidak kita sukai. Yang bisa kita lakukan adalah beradaptasi, berubah dan selalu belajar. Karena lagu kebangsaan dari hidup ini adalah perubahan, dan satu-satunya yang tidak berubah didunia ini adalah perubahan itu sendiri.&lt;br /&gt;2.Kebalikannya, kita pun tidak bisa mengharapkan yang baik-baik selalu datang kepada kita. Kita tidak bisa mengharapkan orang yang kita sukai akan suka kepada kita. Harapan dan kenyataan bukanlah dua sisi koin yang sama, harapan adalah dua sisi koin yang sama dengan kegagalan. Jika koin itu dilempar, hanya ada dua kemungkinan yang mungkin muncul dan kemungkinan itulah yang kita definisikan sebagai kenyataan. Bagaimana kita menerima kenyataan menentukan bagaimana kita bersikap. Dan bagaimana kita bersikap adalah penentu bagaimana kita bisa menarik harapan tersebut kedalam kenyataan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5746649461231290204-9014498169222953668?l=adhityamencarimakna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/feeds/9014498169222953668/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5746649461231290204&amp;postID=9014498169222953668&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/9014498169222953668'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/9014498169222953668'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/2008/12/life-is-game.html' title='Analisis Cinta'/><author><name>Adhitya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13803213516125201732</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_y6MPqq5kf9o/SP1iBud8aFI/AAAAAAAAAAU/S6qVzwAoXto/S220/100_0085.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5746649461231290204.post-2691482927540656431</id><published>2008-11-19T23:02:00.000+07:00</published><updated>2009-02-03T19:19:31.043+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Self Contemplation'/><title type='text'>Lapar Pengakuan</title><content type='html'>Kepada siapa aku marah&lt;br /&gt;Apakah kepada mu ataukah&lt;br /&gt;Justru kepada kebodohanku&lt;br /&gt;Atas semua pilihan bodoh itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada siapa kutumpahkan kesal ini&lt;br /&gt;Apakah kau bahkan peduli &lt;br /&gt;Justru saat kupercayakan harapan&lt;br /&gt;Atas kepercayaan kau menusukku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada siapa kuadukan masalah ini&lt;br /&gt;Apakah ada sahabat yang peduli&lt;br /&gt;Kekesalan ini membunuhku pelan&lt;br /&gt;Siapa, siapa, siapa disana yang peduli?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya aku tiba di gerbang kesimpulan&lt;br /&gt;Bahwa tiada yang peduli padaku selain aku&lt;br /&gt;Tiada yang penting bagiku selain hidupku&lt;br /&gt;Ke egoisan diri kini merasukiku, dingin...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moral lesson...&lt;br /&gt;Egoisme adalah hakekat menjadi manusia, setiap manusia pasti mementingkan yang lebih baik bagi dirinya. Oleh karena itu jangan marah bila melihat orang egois, toh dirimu sendiri juga sama (dengan memaksakan kehendakmu thd orang lain)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solusinya adalah, tiada lain selain memberi... memberi dengan ikhlas dan senyum&lt;br /&gt;Rasa pamrih hanya akan membuat ketulusan di wajamu luntur.&lt;br /&gt;Manusia yang egois itu ibarat perut yang lapar. Lapar terhadap pengakuan orang lain, lapar terhadap pemenuhan eksistensinya di muka bumi, dan lapar terhadap persetujuan akan kebutuhannya. Orang yang sedang lapar cenderung tidak peduli terhadap apapun kecuali memenuhi rasa laparnya. Percuma saja melawan rasa lapar dengan rasa yang sama. Bila lawan bicaramu lapar maka jangan lawan dengan kelaparan yang sama. Logikanya, Berikanlah makanan kepada perut yang lapar, karena perut yang kenyang membuat pikiran tenang dan telinga mau mendengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering kali lawan bicara kita menuntut sesuatu bukan berarti ia membutuhkan sesuatu tersebut, tetapi lebih kepada pemenuhan kebutuhan akan pengakuan egoisme. Maka dari itu, berikanlah sesuatu yang dapat mengenyangkan rasa laparnya, baru membicarakan apa yang kamu mau....&lt;br /&gt;di buku-buku self-help sering diulas: give and take. You have to give first than you can claim what you desire. or something like that lah intinya....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5746649461231290204-2691482927540656431?l=adhityamencarimakna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/feeds/2691482927540656431/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5746649461231290204&amp;postID=2691482927540656431&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/2691482927540656431'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/2691482927540656431'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/2008/11/lapar-pengakuan.html' title='Lapar Pengakuan'/><author><name>Adhitya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13803213516125201732</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_y6MPqq5kf9o/SP1iBud8aFI/AAAAAAAAAAU/S6qVzwAoXto/S220/100_0085.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5746649461231290204.post-3775903540467880504</id><published>2008-11-19T22:17:00.000+07:00</published><updated>2009-02-03T19:18:29.022+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='uneg-uneg'/><title type='text'>Promosi yang menjerat</title><content type='html'>Pepatah "telitilah sebelum membeli" sering kali dilupakan konsumen bila melihat bujuk rayuan sales menggoda iman kita merogoh dompet.banyak yang terjebak tetapi ada juga yang merasa puas dengan janji-janjinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini Sedikit syaring pengalaman saja dengan yang namanya "Sales"...&lt;br /&gt;Ini sudah kesekian kalinya aku termakan omongannya sales, sudah makan ati berkali-kali buntutnya.&lt;br /&gt;Ceritanya begini, kasus yang paling sering adalah ketika sedang jalan-jalan, datang sales dengan senyum palsunya (dan kalau SPG kecantikannya) menawarkan produk/jasa ini-itu. Setelah muter-muter pembicaraan sering kali kepincut dengan produk yang ditawarkan.&lt;br /&gt;Tapi ternyata setelah sepakat membeli produk tersebut, setelah dicoba sering kali kecewa dengan apa yang dijanjikan oleh sales. Segala omongan manis yang memuji-muji produk tersebut sering kali berbuntut kekecewaan karena imajinasi yang kita bayangkan jauh dari panggang dari api.&lt;br /&gt;Parahnya lagi, sering kali setelah di komplain, sering kali diberi muka masam dan mengatakan yang intinya "barang yang sudah dibeli tidak bisa dikembalikan", atau yang lebih manis "tanyakan saja ke bagian ini-itu"&lt;br /&gt;Duh, jengkelnya bila sudah begini. Seharusnya menurutku ya sales ybs yang menjelaskan karena kita kan awal tertariknya dari dia tho?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, this is the Lesson:&lt;br /&gt;1. Beli yang dibutuhkan, bedakan yang merupakan kebutuhan dan keinginan, yang urgent dan yang sangat urgent. Kadang kala bila kita membawa uang tunai (atau setidaknya merasa memiliki uang) sering kali mudah tergoda dengan bius seorang sales, atau lapar mata melihat benda-benda yang flashy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Selalu tanamkan sugesti ke otak bawah sadar kita bahwa apapun yang disumpalkan sales ke otak "lugu" kita adalah belum tentu benar. Bukannya memupuk rasa curiga dan antipati, tetapi nasi yang sudah menjadi bubur sudah menjadi lagu lama bila terjadi.&lt;br /&gt;Logikanya begini, Sales itu dipekerjakan untuk mengasilkan penjualan sebesar mungkin, dan perusahaan yang mempekerjakannya sering kali tidak mau tahu metode apa yang dilakukannya, pokoknya jual...jual..jual... Dari pernyataan ini kita bisa menarik asumsi. Pertama, sales akan melakukan segala cara agar setidaknya target penjualan tercapai dan sukur-sukur dapat bonus tambahan.&lt;br /&gt;Kedua,bila barang sudah terjual (tekhnikly) artinya sudah bukan tanggung jawab sales lagi apa yang terjadi setelahnya dengan konsumen. Artinya, apa yang terjadi pada konsumen atau barang yang sudah dijual sudah bukan urusan saya... (karena ada target baru lagi yang harus dicapai)&lt;br /&gt;Ketiga, konsumen yang sudah terlanjur termakan omongan sales tentu kecewa dengan kenyataan yang diterimanya karena banyak yang tidak sesuai harapannya. Artinya, konsumen pasti mengadu kepada sales yang bersangkutan untuk mendengar penolakan-penolakan dan alasan ini-itu yang akhirnya membuat konsumen tambah kecewa lagi.&lt;br /&gt;Kesimpulannya, sebenarnya kita sebagai konsumen juga tidak bisa menyalahkan sales yang sudah menjadi pekerjaannya seperti itu. Walaupun secara etika dan moral seharusnya sales juga tidak menutup sebelah mata terhadap yang satu ini. Yang harus kita waspadai adalah kredibilitas perusahaan dibaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Sebagai Konsumen yang pintar kita harus selalu prioritaskan hal-hal berikut :&lt;br /&gt;   - Seberapa jauh kebutuhan kita terhadap produknya sales tersebut&lt;br /&gt;   - Utamakan "After Sales" sebagai ban serep jika ada masalah dikemudian hari&lt;br /&gt;     Ini berkaitan dengan kredibilitas perusahaan tersebut di masyarakat. After sales&lt;br /&gt;     bisa berwujud garansi atau layanan komplain, yang penting bukan sekedar isapan&lt;br /&gt;     jempol belaka.&lt;br /&gt;   - Kualitas barang apakah sesuai dengan uang yang dikeluarkan, berbanding lurus   &lt;br /&gt;     dengan seberapa besar manfaat yang dapat kita ambil dengan memilih untuk &lt;br /&gt;     membelinya.&lt;br /&gt;   - Jangan mudah termakan omongan sales begitu saja. Karena apa yang baik menurut &lt;br /&gt;     sales belum tentu sesuai dengan apa yang kita inginkan, dan yang kita butuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Perusahaan tempat sales bekerja yang sudah mapan pun bukan menjamin layanan purna jualnya juga bonafit. Sudah hukum alam bila yang kuat (cenderung) menindas yang lemah. Lihat posisi kita dimata perusahaan tersebut, apakah kita pihak yang membutuhkan atau sebaliknya. biasanya bila kita di pihak yang lemah maka bersiaplah ditodong dengan perjanjian baku dengan klausula eksonerasi ini-itu. Contoh gampangnya adalah sales kredit bank. Bila menawarkan bukan main manisnya tapi bila telat bukan main galaknya. Bukannya telat itu perbuatan terpuji bagi pengutang, tetapi kan semua bisa dibicarakan baik-baik tanpa harus pakai centeng dan pasang muka masam. Sebaliknya, lihatlah pelayanan deposito bank. Lihat betapa manisnya sales merayu dan mengelola dana kita, seolah-olah khawatir dana kita takut diambil tiba-tiba. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kira-kira begitu yang ingin aku sampaikan ke rekan-rekan semua, tolong komentnya ya...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5746649461231290204-3775903540467880504?l=adhityamencarimakna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/feeds/3775903540467880504/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5746649461231290204&amp;postID=3775903540467880504&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/3775903540467880504'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/3775903540467880504'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/2008/11/promosi-yang-menjerat.html' title='Promosi yang menjerat'/><author><name>Adhitya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13803213516125201732</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_y6MPqq5kf9o/SP1iBud8aFI/AAAAAAAAAAU/S6qVzwAoXto/S220/100_0085.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5746649461231290204.post-5516744087128206406</id><published>2008-11-19T20:49:00.000+07:00</published><updated>2009-02-03T19:18:29.023+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='uneg-uneg'/><title type='text'>No Body care</title><content type='html'>ini adalah keluh kesah ngeblog untuk pertama kalinya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;baru beberapa bulan ini aku belajar ngeblog sekarang baru tahu angin yang berhembus ternyata cukup besar, apalagi bila niatnya mencari uang lewat blog (itu bukan angin lagi tapai badai...)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. ternyata mencari trafic itu susah juga ya. mungkin karena aku nol pengalaman soal urusan internet beginian. ibarat toko yang baru buka (dengan semangat yang menggebu) lalu setelah beberapa bulan ternyata tidak ada yang membeli (melihat-lihat) membuat yang mpunya patah arang. Oh well namanya juga newbee, asal tidak patah arang pasti ada saja jalannya. Perahu yang bernama pencarian makna ini akhirnya sampai pada pemberhentian pertamaku yaitu "keputusasaan", sejauh mana aku bisa menangani hal ini menentukan dimana pemberhentianku berikutnya. What a tiring journey indeed...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. setelah ngeblog baru aku sadari betapa luasnya dunia internet ini. ada berjuta-juta blog yang sering direview orang-orang. dan mungkin lebih banyak lagi blog yang sepi pengunjung ( seperti punyaku ini). Mengapa mereka tidak mau melihat punyaku? Perasaan ini sering membuat aku down (thingking my self about how insignificant I am in this world). Ada tiga asumsi yang aku punya. pertama, mereka tidak tertarik dengan isinya. kedua, mereka tidak tahu eksistensi blog ini. Ya gimana bisa tahu kalo di gugle aj g ketemu, blogwalking aja g tau. Ketiga, menurutku apa urusannya orang-orang melihat blogku, bila memang tidak menarik?.&lt;br /&gt;Well, semua memang butuh proses dan tidak perlu protes bila blog sepi pengunjung. masih banyak yang perlu diperbaiki, masih banyak yang perlu ku bagi agar orang-orang tertarik bertandang kemari. lagi pula, No body can run before they can walk. Yang artinya, semua orang juga pasti mengalami hal yang sama seperti aku saat membuat blog pertama kali. Jadi whats the poin of sulking and crying ??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. ternyata persepsi awal yang dipengaruhi semangat menggebu untuk ngeblog sering salah kaprah. yang penting disini konsistensi dan promosi (itu yang coba aku pelajari sekarang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LESSONS :&lt;br /&gt;Anyway, inilah beberapa poin yang penting yang aku pelajari dari kesalahanku untuk diketahui oleh newbee blogger bila ingin sukses ngeblog&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. pilih namanya yang singkat, padat, jelas dan mencerminkan isinya. Sudah tabiat orang indonesia bila mencari informasi di internet pengen gampangnya saja. tinggal buka gugle lalu ketik apa yang dimau. boro-boro menghapal alamat blog kita, memanfaatkan fasilitas bookmark dan RSS aja belum semua ngerti.... (at least thats how my experience did)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. isi blog kamu dengan sesuatu yang mungkin dicari orang-orang. Logikanya, ngapain capek2 bikin diary yang di online-kan bila kamu malu bila dibaca orang. lagi pula, ngapain juga orang-orang ngeliatin blog kamu bila isinya "g penting" buat yang baca. Kasarannya, Sapa Loe... Seleb bukan, Pejabat apa lagi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.sering-sering blog walking dan tinggalin komen. sapa tau aja ada yang nyangkut ke blog kamu. dan siapa tau juga om gugle ngelirik blog kamu untuk dimasukan di listing mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d.work with heart. inti dari blog adalah pencurahan perasaan dan pikiran. jadi bisa dibilang self powered by hoby and motovation. Perkara tidak dilirik orang bukan masalah jika niat awalnya adalah untuk sharing pengetahuan, bukan mencari popularitas (apalagi uang). Menurutku popularitas dan teman itu bisa didapat sendiri bila kita rajin ngeblog dan bertandang ke blog orang lain juga.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5746649461231290204-5516744087128206406?l=adhityamencarimakna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/feeds/5516744087128206406/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5746649461231290204&amp;postID=5516744087128206406&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/5516744087128206406'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/5516744087128206406'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/2008/11/no-body-care.html' title='No Body care'/><author><name>Adhitya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13803213516125201732</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_y6MPqq5kf9o/SP1iBud8aFI/AAAAAAAAAAU/S6qVzwAoXto/S220/100_0085.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5746649461231290204.post-3323189519219614612</id><published>2008-11-19T09:12:00.001+07:00</published><updated>2009-02-03T19:17:25.902+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='uneg-uneg'/><title type='text'>Individualisme di negeri Sosialisme</title><content type='html'>Masih ingatkah dulu kita diingatkan untuk mendahulukan kepentingan bersama diatas kepentingan individu? Sepertinya saat ini rasa itu sudah hilang. Semakin banyak saja orang yang egois dan tidak peduli pada sekitarnya. Realitas yang dulu hanya terdapat pada kota metropolitan besar kini semakin jamak saja dijumpai di tempat lain&lt;br /&gt;Menurutku ada beberapa faktor yang menyebabkan hal ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, pengaruh gaya hidup, iklan, dan terutama TELEVISI. Kotak ajaib yang sering menjadi racun bila kita tidak memfilter dengan akal sehat. Gaya hidup yang serba instan dan cepat melunturkan semangat tekun dan sabar, saat ini kita cenderung lebih suka melakukan segala sesuatu dengan proses instan. Bukan berarti ini jelek, hanya saja ada proses tertentu yang harus ditempuh bila ingin hasil lebih. Contohnya adalah budaya mengantri dan mendahulukan orang yang lebih tua. Coba saja lihat di fasilitas umum, kita sering melihat orang berebut antrian dan berdesak-desakan, padahal apabila kita tertib satu persatu maka tidak perlu pakai emosi dan kekerasan, toh apa bila berebut bukan berarti lebih cepat, yang ada hanyalah merampas hak orang lain (ciri-ciri orang tidak berpikiran maju). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula iklan yang selalu mencekoki hidup kita kemanapun mata kita melihat di tempat-tempat umum. Iklan yang hampir pasti selalu menipu, menjanjikan fantasi dan utopia bagi jiwa-jiwa yang tidak memfilternya lebih dahulu. Bila kita sudah termakan iklan, bisa dipastikan akan terjebak pada budaya konsumtif, tidak produktif dan hanya menjadi sapi perah bagi industri iklan. Pesan yang ingin disampaikan hanya satu, ”telitilah sebelum membeli”. Apa yang baik menurut iklan belum tentu baik untuk kita, apa yang menjanjikan menurut iklan belum tentu sesuai kebutuhan kita. Jangan diperbudak oleh iklan, jadilah smart buyer&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Televisi, hmmm..... mau dibilang apa lagi dengan benda yang satu ini.... TV adalah inti moderenitas (selain listrik tentunya), inti pusat hiburan masyarakat dan inti tempat cuci otak manusia. Satu dari dua orang yang bekerja pasti memiliki TV, ia sudah sedemikian pentingnya sehingga kita sering kecanduan tanpa kehadirannya. Coba perhatikan tayangan televisi nasional kita, apakah isinya ada yang benar-benar bermanfaat? Menurutku hanya 10% yang bisa diambil manfaatnya, sisanya program sampah yang hanya untuk memenuhi rating dan popularitas. Bahkan program berita pun sudah terkontaminasi dengan eksploitasi kekerasan, komersialisasi kriminalitas dan komentator yang tidak memberi pesan yang bermutu. Bicara soal sinetron? Tidak ada untungnya menonton acara ini. Dengan jumlah waktu yang sama, kita bisa melakukan hal lain yang lebih produktif. Kuis? Hanya 30% yang bisa kita serap ilmunya, sisanya adalah penjualan imajinasi kepada penonton. Film? Bila untuk hiburan, boleh-boleh saja. Tetapi bila harus ditunggu-tunggu, nanti dulu... toh bila ketinggalan bisa menonton di lain waktu, lagi pula bisa mencarinya di rental kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, pengaruh teman pergaulan dan keinginan menjadi trendseter yang sering kali salah kaprah. Apa yang sering menjadi trend adalah sesuatu yang berbeda, yang nyeleneh dan sering kali justru menghancurkan nilai-nilai budaya. contoh gampangnya adalah fashion. coba deh diperhatikan (terutama fashion wanita) akhir akhir ini. ditempat publik terutama mall sudah sering kita lihat perempuan memakai busana kurang bahan, entah kekecilan. dan mereka tidak malu untuk menunjukkannya. bila dipikir-pikir, ini pemandangan yang menyejukkan pandangan kaum pria. Namun apa benar demikian? menurutku itu justru menurunkan nilai kekaguman terhadap perempuan itu, menurunkan nilai kecantikannya dan menghilangkan rasa hormat terhadapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, pengaruh globalisasi dan global warming. Globalisasi membuat impor budaya tidak pakai kran lagi. Bila kita tidak membentengi diri dengan budaya kita sendiri bisa-bisa kita tersapu oleh arus gobalisasi ini, yang sering kali berlawanan dengan nilai moral yang kita akui. Sedangkan Global warming membuat iklim menjadi panas, dan panas membuat orang sering tidak sabar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penutup, apa yang aku sampaikan ini bukan sebagai keluhan atau mempersalahkan sistem yang sudah ada. Kita sudah terlanjur tercebut dalam masalah ini bersama-sama. Toh tidak bisa menghindari air yang sudah terkena di badan. Yang bisa kita lakukan adalah melakukan perubahan pada diri sendiri. Ya, pada diri sendiri, bukan pada orang lain. Karena dengan memberi contoh kepada diri sendiri kita dapat menginspirasi orang lain untuk berbuat yang sama. Jauh lebih efisien daripada menyuruh orang lain tanpa memberi contoh terlebih dahulu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5746649461231290204-3323189519219614612?l=adhityamencarimakna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/feeds/3323189519219614612/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5746649461231290204&amp;postID=3323189519219614612&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/3323189519219614612'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/3323189519219614612'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/2008/11/individualisme-di-negeri-sosialisme.html' title='Individualisme di negeri Sosialisme'/><author><name>Adhitya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13803213516125201732</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_y6MPqq5kf9o/SP1iBud8aFI/AAAAAAAAAAU/S6qVzwAoXto/S220/100_0085.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5746649461231290204.post-1272102781847790594</id><published>2008-11-19T09:12:00.000+07:00</published><updated>2009-02-03T19:16:08.688+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Self Contemplation'/><title type='text'>Kebebasan sebagai fitrah</title><content type='html'>Seandainya saja manusia tidak memiliki kebebasan maka tidak ada surga dan neraka. Salah satu alasan Tuhan memperkenalkan “institusi” surga dan neraka kepada manusia adalah agar manusia mengerti bahwa manusia itu adalah mahluk yang memiliki pilihan. Dalam agama kita diajarkan bahwa manusia dari awalnya sudah dilahirkan untuk melihat dua sisi yang saling bertolak belakang. Manusia ditakdirkan untuk menentukan pilihan, atau lebih tepatnya memiliki kebebasan untuk memilih. Buktinya, ada surga dan neraka. Seandainya kita tidak diberi anugerah untuk memilih berdasarkan kehendak bebas prbadi  tentu tidak perlu ada surga dan neraka, karena jalan hidup manusia sudah pasti arahnya. Karena manusia memiliki pilihan itulah berarti manusia memiliki kebebasan. Dan karena dalam kebebasan itu ada tanggung jawab, maka Tuhan pun memperkenalkan dosa dan pahala sebagai timbangan untuk menakar tanggung jawab manusia.&lt;br /&gt;    Lalu apa signifikansinya mengetahui hal ini? Toh dalam dunia yang semakin liberal ini pengetahuan semacam ini sudah mahfum diketahui. Ada beberapa ide yang ingin aku gelontorkan untuk menjadi pemikiran kita semua. &lt;br /&gt;    Pertama, adalah dampak langsungnya. Di alam demokrasi indonesia ada berbagai macam ide dan gagasan yang melahirkan beraneka ragam Organisasi Masyarakat (ormas). Masing-masing ormas mengklaim bahwa idenya yang paling tepat dan benar untuk diterapkan sebagai solusi ajaib yang dapat mengeluarkan indonesia dari ketertindasan. Padahal Allah sendiri tidak memaksakan bagaimana teknis pelaksanaannya. Al-Quran sebagai rekaman pesan Allah hanya berisi garis besar mencari jalan keselamatan. Allah tidak mengendaki jalan kebenaran itu harus lewat mana saja. Kata Quraishihab, jadilah muslim yang liberal. Dalam artian jangan berfikir sempit. Bukalah wawasan dalam agama dan muamalah dan cari jalan tengahnya. Islam tidak mengajarkan jalan menuju surga harus lewat jalan A. tetapi boleh lewat jalan B, C, D dst. (asalkan tidak keluar dari syarat yang telah ditetapkan)&lt;br /&gt;    Kedua, sebenarnya hidup ini mengikuti pilihan yang diikuti oleh manusia. Manusia mengikuti apa yang dilihat dan dipikirkannya dan membungkusnya kedalam realitas. Kita selalu mendefinisikan hidup yang dijalani dengan pilihan benar atau salah. Apa yang benar menurut kita selalu menjadi petunjuk arah yang kita tuju. Tetapi persepsi tersebut bisa saja berbeda dengan orang lain, oleh karena itu ada yang disebut kebenaran komunal. Kebenaran bersama yang dianggap sebagai sesuatu yang umum diketahui oleh orang banyak, maka lahirlah norma dan kemudian termanifestasikanlah hukum. Lalu apa kaitannya dengan bahasan ini?. Inti yang mau disampaikan adalah, Pilihan yang kita buat bisa jadi pilihan yang sama dibuat oleh orang lain, tetapi apa yang kita anggap baik belum tentu baik menurut orang lain. Jadi, memilih sesuatu dari sesuatu yang lain adalah hak asasi yang paling hakiki. Kita tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain apabila kita tidak ingin diperbuat yang sama. &lt;br /&gt;    Tidak ada batasan dalam alam pikiran, baik menyangkut kreasi seni maupun ilmu pengetahuan. Alam pikiran manusia terus berkembang seperti berkembangnya alam semesta. Ideologi lahir, berkembang kemudian digantikan ideologi lainnya. Apa yang benar menurut kita saat ini bisa saja salah di masa depan. Kita terus merevisi pemikiran kita (manusia) sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dari tanggung jawab itu lahirlah dosa.....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5746649461231290204-1272102781847790594?l=adhityamencarimakna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/feeds/1272102781847790594/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5746649461231290204&amp;postID=1272102781847790594&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/1272102781847790594'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/1272102781847790594'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/2008/11/kebebasan-sebagai-fitrah.html' title='Kebebasan sebagai fitrah'/><author><name>Adhitya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13803213516125201732</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_y6MPqq5kf9o/SP1iBud8aFI/AAAAAAAAAAU/S6qVzwAoXto/S220/100_0085.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5746649461231290204.post-8348429245947789102</id><published>2008-10-21T12:28:00.000+07:00</published><updated>2009-02-03T19:16:08.688+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Self Contemplation'/><title type='text'>Retorika</title><content type='html'>Sekarang aku mengerti apa arti hidup ini buatku. Aku tidak bisa merangkainya dengan kata puisi. Bagiku Hari ini arti hidup adalah untuk terus mencari makna dibalik setiap peristiwa. Kebijaksanaan didapat hanya dengan merenungkan perbuatan, bukan dari menyalahkan keaadaan. Mencari Jawaban memang perlu dilakukan dengan menyelesaikan setiap persoalan hidup, namun kebijaksanaan didapat dengan merenungkan makna dibalik setiap jawaban. Tapi mengapa kita perlu mencari kebijaksanaan?. Jawabanya bergantung kepada siapa orang yang ditanya. Bagiku, hanya dengan mencari kebijaksanaanlah hidup ini menjadi lebih bermakna, dan memang hanya kebijaksanaanlah yang bisa.&lt;br /&gt;Aku masih ingat sebuah iklan yang mengatakan menjadi tua itu pasti, namun menjadi dewasa itu adalah pilihan. Manusia adalah mahluk bembelajar, manusia mempunyai kemampuan untuk menentukan kehendak bebas dengan kesadaran disertai akal sehat. Apabila seseorang selalu reaktif terhadap setiap peristiwa yang dialaminya, dan selalu menyalahkan semua kecuali dirinya adalah orang yang tidak mau bersikap dewasa (karena demikianlah aku waktu dulu). Kedewasaan itu penting karena kita tidak dapat menentang umur. Setiap detik kita bertambah tua, jika kita lebih memilih untuk tidak beranjak dewasa itu sama saja memasrahkan jalan hidup kita kepada keadaan, kita akan terombang-ambing oleh masalah dan tren yang ada. Kita tidak dapat melakukan langkah antisipatif dan prefentif, bukakah itu sama saja kita diperbudak oleh jaman?&lt;br /&gt;Tapi apa arti kedewasaan itu?. Bagiku, kedewasaan adalah kemauan untuk menerima tanggung jawab dan mengamanatkannya dengan baik, dan bertanggung jawab bila lalai.  Berhati-hati bila berucap namun tangkas dalam mencerna pembicaraan.&lt;br /&gt;Kalau kupikir-pikir, aku telah menghabiskan masa laluku dengan menyalahkan, meratapi semua hal buruk dan memalukan yang telah kulakukan, selalu rendah diri, dan menutup diri dari segala kebaikan yang tersebar di bumi ini dengan merasa akulah orang termalang yang bernafas di planet ini.  Kuterus mempecundangi diriku dengan mencekoki jiwa ini dengan segala hal negatif yang menampar mukaku. Hingga hitam sudalah hati ini. Kumerasa seperti pesakitan yang hidup enggan matipun takut, takut untuk mempertanggungjawabkan semua dosa yang berlumuran di tangan yang hina ini. Bahkan bernafaspun seperti menghirup gas beracun. Semua itu kulakukan entah mengapa, setiap kesalahan kecil yang kulakukan akan selalu mengiang-ngiang ditelinga seperti guntur, menyambar keras setiap aku melamun. Dan itu kulakukan terus menerus hingga tidak ada hawa kebahagian lagi yang mau hinggap di dada ini. Alangkah malangnya nasibku, itulah yang menjadi kata favorit sepanjang hari. Bahkan kini rasa seperti itu masih tetap tersimpan meski kadarnya sudah kucoba untuk terus dikurangi. Penyesalan adalah makanan bagi jiwaku dan mimpi palsu adalah kemana mataku tertuju setiap harinya. Begitulah perasaanku selama ini yang membusuk jauh dilubuk hatiku. Sampai suatu hari....&lt;br /&gt;Entah kapan, beberapa tahun lalu kumemutuskan sesuatu yang takpernah kusesali seumur hidupku hingga hari ini. Kuberkata pada diriku, “ Duhai jiwaku, mengapa kau lakukan terus semua ini? Buat apa kau terus menikam dirimu dengan kepahitan yang sudah berlalu. Siapa yang diuntungkan? Bukankah kau akan menyesal sendiri hingga akhir hayatmu? Hidup harus terus berjalan, suka tau tidak, dunia ini tidak peduli akan kemalanganmu, tidak juga temanmu, terlagi keluargamu. Meraka semua akan terus berjalan kedepan, tak peduli kau mau terus menoleh kebelakang, tak ada yang peduli !!! Lalu buat apa semua ini? Kayu yang sudah terbakar menjadi arang takkan kembali lagi, meski kau tangisi hingga air matamu menjadi danau asin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5746649461231290204-8348429245947789102?l=adhityamencarimakna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/feeds/8348429245947789102/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5746649461231290204&amp;postID=8348429245947789102&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/8348429245947789102'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/8348429245947789102'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/2008/10/retorika.html' title='Retorika'/><author><name>Adhitya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13803213516125201732</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_y6MPqq5kf9o/SP1iBud8aFI/AAAAAAAAAAU/S6qVzwAoXto/S220/100_0085.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5746649461231290204.post-3508644165691216229</id><published>2008-10-21T12:21:00.000+07:00</published><updated>2009-02-03T19:15:16.337+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='uneg-uneg'/><title type='text'>Kesalahanku terhadap mimpiku</title><content type='html'>Kupikir mimpi itu penting, karena mimpilah yang menyelamatkan kita dari kegilaan hari-hari. Dengan mimpi aku merasa lebih ringan menjalani kehidupan ini. Maka entah sejak kapan ku mulai menyelubungi hari hariku dengan mimpi- mimpi. Setiap ada hal baru yang menawan hatiku kujadikan mimpi. Kuterus mencekoki akal sehat ini dengan mimpi – mimpi dan kata- kata “seandainya....”.Kupikir itu bagus mengingat kondisiku yang tidak memungkinkan untuk memiliki mimpi itu.&lt;br /&gt;Hingga saat ini kumenyadari bahwa itu salah. Ku tergugah saat membaca opini Sultan Hamengkubuwono dikoran kompas tentang kontroversi parkir alun- alun utara. Ternyata pola pikirku tak ubahnya dengan percaya klenik dan tahayul seperti yang masih menjangkit masyarakat jawa pada umumnya. Sultan mengatakan bahwa percaya klenik tidak akan merubah kenyataan. Alun alun utara yang dipercaya memiliki kosmologi religius telah disalah artikan sebagai tahayul bahwa tidak boleh mengubah apalagi membangun sesuatu diatas maupun dibawahnya. Kondisi kumuh diatas alun alun adalah realita yang harus diselesaikan. Namun karena tahayul yang ada maka terjadi pro kontra kalau seandainya dibuatkan parkir dibawah tanah alun-alun.&lt;br /&gt;Anyway, aku menjadi sadar bahwa ternyata dengan bermimpi tidak akan menghapuskan kenyataan pahit yang ada didepanku. Ku ingat kalau ku tertimpa persoalan yang kulakukan pertama adalah berkhayal (“Seandainya saja,,,,”) sampai akhirnya aku kehilangan kesempatan untuk memperbaikinya. Sama seperti klenik, ketika ada masalah yang berhubungan dengn hal mistis, pasti yang dipercayai adalah tahayul yang berhubungan dengan masalah tersebut, bukan segera mencari penyelesaiannya secara logis. Contohnya, ketika seseorang terkena sakit yang aneh, pasti langkah pertama adalah membawanya ke dukun, bukan kedokter. Padahal bila dinalar secara logis, dukun hanya bermodalkan mantra-mantra saja bukan pengetahuan yang bisa dinalar secara logika.&lt;br /&gt;Bila dipikir – pikir kasusku hampir sama dengan percaya tahayul. Selama ini yang kulakukan adalah terus berkhayal sehingga lupa dengan masalah sebenarnya yang ada didepanku. Sehingga pandanganku berubah menjadi tidak masuk akal, kuberjalan dengan arah menuju khayalanku dan membuang masalah sebenarnya entah kemana, sampai akhirnya aku tersandung dengan masalah yang lebih rumit lagi. Dengan kata lain, aku adalah tipe delayer alias penunda nunda.&lt;br /&gt;Yang kuingat dibuku, masalah adalah bola salju yang menggelining kencang kebawah, jika kita tidak mengantisipasinya sekarang, maka lama kelamaan bola salju itu akan semakin membesar hingga akhirnya menghancurkan hidup kita. Dan hidup ini penuh bola bola salju yang menerjang kedalam kehidupan kita setiap harinya. Pilihan kita adalah, menghentikannya sekarang atau mengabaikannya sampai bola salju itu benar-benar menghimpit kita. Hidup memang demikian, suka atu tidak. Disitulah peran mimpi sebenarnya, agar kita tidak menelan getir sendirian. Hmmm, alangkah bijaksananya jika hal ini aku lakukan....&lt;br /&gt;Tapi itulah kebiasaan burukku, selalu menunda nunda, baru bergerak kalau sudah kepepet sehingga memaksa otak diporsir penuh (walaupun sampai sekarang aku masih bisa bertahan). Kubenamkan waktu hidupku dilayar komputer, menyendiri sibuk dengan hal-hal yang kusadari remeh sekali dibanding masalah utamaku. Teman-temanku menjadi jauh karena jarang bertemu, dan kumakin sibuk pada hal hal tidak penting, membuang-buang waktu dan menghancurkan hidup dan masa mudaku, oh alangkah malangnya....&lt;br /&gt;Tadi sore aku bermimpi aneh, entah apa tapi membuat hatiku galau hingga akhirnya kutulis disini. Aku merasa hampa, sebenarnya setiap tengah malam aku terbenam akan masalah ini. Mau kemana aku ini? Sebenarnya apa yang aku tuju? Masa depan seperti apa yang aku inginkan? Pentingkah jika kulakukan semua ini? Wah, pokoknya banyak pertanyaan dasar yang sebenarnya terus menghantui hatiku.&lt;br /&gt;Tapi diatas semua itu, satu pertanyaan yang membuat risau hatuku adalah, sampai kapankah harus kulalui semua ini. Perasaan hampa ini, kesendirianku ini, kesedihan dan amarah ini. Jika kuingat ingat sebenarnya hidupku jauh lebih baik jika kuturuti saja nasehat yang ada didalam buku-buku yang menjejali rak ditembok kamarku. Toh aku bukan orang yang kekurangan (meski bukan kelebihan kecuali berat badan dan dosa  ) dan orang tuaku juga adalah orang-orang yang berprestasi dan penuh perjuangan pada masa mudanya. Tapi entah mengapa setiap kali aku memikirkan itu yang ada dikepalaku hanya penundaan dan mimpi lainnya, sentah sampai kapan aku terbebas dai penjara lingkaran setan ini.&lt;br /&gt;Saat ku ngobrol dengan eyangku, ku diingatkan lagi bahwa keluarga besarku penuh perjuangan saat mudanya hingga akhirnya sekarang semuanya sukses, seharusnya aku juga demikian. Apa lagi yang kutunggu? Haruskah kuhabiskan masa muda ini hanya untuk bermimpi dan menghamburkan waktu hingga ketika datang masa tuaku yang tersisa di pelupukku hanyalah air mata penyesalan? Dan orang orang yang ku sayangi harus menderita karena keterbatasanku, karena ku tak mampu penuhi harapan mereka. Lalu saat kuingin merubah sebagalanya yang tertinggal adalah tubuh renta yang tak pernah kuajari penderitaan. Akhirnya saat malaikat maut merenggut nafas terakhirku kumenangis dalam pengibaan, “Ya Allah, berilah hambamu satu kesempatan lagi”.&lt;br /&gt;Kalau sudah begitu, mau apa lagi? Bukankah Allah.swt sudah mewanti wanti ;&lt;br /&gt;“Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: “Wahai Rabb kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan”. Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.” (Fathir: 37)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5746649461231290204-3508644165691216229?l=adhityamencarimakna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/feeds/3508644165691216229/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5746649461231290204&amp;postID=3508644165691216229&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/3508644165691216229'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/3508644165691216229'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/2008/10/kesalahanku-terhadap-mimpiku.html' title='Kesalahanku terhadap mimpiku'/><author><name>Adhitya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13803213516125201732</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_y6MPqq5kf9o/SP1iBud8aFI/AAAAAAAAAAU/S6qVzwAoXto/S220/100_0085.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5746649461231290204.post-2401167207449751292</id><published>2008-10-21T12:08:00.000+07:00</published><updated>2009-02-03T19:16:08.689+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Self Contemplation'/><title type='text'>What is life ?</title><content type='html'>• Life is a game, yeah.... aku pernah mendengar kata itu, dan baru aku sadari sekarang maknanya, mungkin bisa diteruskan menjadi ; Hidup ini hanya sebuah permainan belaka, sebagai permainan.... pilihan ada ditanganmu apakah kamu mau ikut bermain atau kau malah dipermainkan oleh `permainan` ini. Karena sebenarnya dalam permainan menang kalah, senang sedih, adalah resiko yang harusnya menjadi semacam motivasi untuk menuntaskan misi yang diberi di setiap level. Lalu apa misi ku sebenarnya ?.....Entahlah, karena aku sendiri juga masih mencari karena misi (menurutku) berbeda dengan obsesi, tapi secara umum...misi setiap orang ditentukan dari mana dia mulai `start` which is   related to the background familly and surounding also education and emotional condition. Itu semua terserah kamu, apakan kamu mau enjoy the life atau mau painstakinly the life.&lt;br /&gt;• Life is........ about fact and fake Relativity........ about Unpredictable Nature behavior........ about “hwo am I”........ about fear........ about hope........ about love........ about memory........ about playing chess........ about birth and death........ about scrolling a dice........ about the good and the bad........ about Universe from atom........about the question and the answer .......about finding conection ........ about learn, aplicate, and forget........ about The thing we should to relize that God does exist and He is all the might.......... but why we usualy doesn`t care........&lt;br /&gt;• Hidup Ini.... ibarat suatu event yang disponsori oleh suatu perusahaan (yang dalam pengertianku ini adalah Tuhan) yang mengadakan suatu kontest recruitment anggota untuk menguji `seberapa loyal dan sanggupkah mereka` untuk lulus dan mendapatkan skor tertinggi (yang dalam pengertianku ini adalah pahala) karena itu akan menentukan posisi, gaji, dan gengsi dimata pimpinan. Bila mereka dianggap sudah cukup memenuhi kriteria, mereka (kita) akan dijemput untuk menempuh perjalanan menuju ujian yang diadakan oleh pak direktur (Tuhan) yaitu dimulai dengan memasuki gerbang terdepan kompleks perusahaan yaitu sebuah kedewasaan, berbagai ujian telah disiapkan oleh `takdir` dari level terendah setahap demi setahap, dari yang disadari maupun tidak, dari yang menyenangkan, mengharukan,  sampai yang menyedihkan, dari yang nyata maupun yang terselubung, dan dari yang diharapkan dan yang tak diharapkan. Hebatnya....sang pemateri benar benar telah sempurna menyelebungi nikmat dan dosa seakan tipuan sihir yang selalu membuat kita merasa terpana, terlena, dan lupa akan testnya....benar benar mampu mengendalikan akal, malu, nafsu, keyakinan, dan hati pengikut test (dalam pengertianku semua manusia) larut dalam hingar bingar godaan (dunia). Lalu, gimana dengan materi (jerih payah) yang harus ditebus agar dapat lulus dalam permainan ini ?, jawabannya untuk sementara ini adalah `waktu`, karena setiap pemain memiliki modal yaitu waktu yang diberikan apakah dipergunakan untuk berlehaleha, menulis contekan(kode cheat), belajar keras, dsb. Ibarat sebuah kertas HVS putih dan kosong, kita mulai mencoret coretnya dengan pengalaman kita yang ditulis oleh pena usia sejak kita dilahirkan dan akan mulai diperhitungkan ketika test sudah dimulai (dalam pengertianku adalah akil baligh). Apakah tulisan tersebut rapih, bengkok, atau cakar ayam, itu tidak masalah, karena yang penting adalah apa yang kita tulis dan apa yang kita manfaatkan dari tulisan itu untuk diri sendiri maupun untuk orang lain, karena itulah yang akan keluar di writen &amp;amp;oral test nanti. Sampai nanti, kertas itu menjadi tidak muat lagi untuk ditulis dan kita menjadi lupa akan yang dulu pernah kita tulis dulu karena sangking tidak jelasnya tulisan itu. Lalu di tambah dengan mulai macetnya pena kita, pertanda tinta nafas yang sudah tinggal sedikit dan bila sudah waktunya, kita akan berangkat menempuh gerbang kedua dari kompleks perusahaan yaitu kematian ujian dan kertas HVS tersebut adalah materi yang diujikan kepada kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa  renungan....&lt;br /&gt;1. Takutlah pada kematian sehingga kamu mengerti indahnya kehidupan, namun lebih takutlah pada apa yang akan terjadi setelahnya sehingga kamu mawas diri dari apa yang kamu lakukan.&lt;br /&gt;2. Keyakinan adalah milik manusia yang paling pribadi, siapa yang merenggutnya berarti membunuh nurani, apa yang terjadi diawal milenium hingga sekarang adalah contohnya, betapa keyakinan banyak orang telah diabaikan oleh keyakinan lainnya, padahal belum tentu keyakinannyalah yang paling mutlak, paling benar, paling segalanya dibanding yang lainnya, karena keyakinan adalah pegangan terakhir manusia ketika rasio tak mampu lagi berkata.&lt;br /&gt;3. Sepertinya kenyataan (fakta) bukanlah lagi mata keadilan ketika kebijaksanaan tidak lagi menopang nurani, ketika hukum alam kembali menduduki kesadaran manusia, ckk....alangkah sayangnya menyiakan kesempurnaan seleksi alam yang telah di berikan kepada kita .....&lt;br /&gt;4. Jangan biarkan perasaanmu terlalu larut dalam suasana, semakin dalam kamu tenggelam dalam larut semakin jauh harus berjuang berenang kepermukaan. Sedih, senang, cinta, rindu, benci, cemburu, hampa, semua hanya bumbu, tak lebih dari itu....coba pikirkan bagaimana selanjutnya, mengapa, dan apa, dibalik semua itu karena itu adalah menu utamanya. Bila menemukannya berarti kamu adalah salah satu orang yang beruntung.....benar benar beruntung (so keep it steady)&lt;br /&gt;5. Ketika seseorang jatuh cinta maka ia melihat dunia dengan kacamata cinta seburuk apapun keadaannya, begitu juga dengan seseorang yang sedang membenci akan memakai kacamata kebencian untuk melihat isi dunia secerah apapun keadaannya. Tetap saja kesemuanya adalah permainan perasaan, namun bila kamu sanggup mencopot kacamata itu apapun yang sedang kamu rasakan pasti kamu akan melihat sesuatu yang lain, sesuatu yang mampu merubah suasana menjadi lebih baik, sesuatu yang membantu mu menjadi seseorang yang lebih baik......percayalah !&lt;br /&gt;6. TeVe.....sebuah kotak hebat yang mampu merubah dunia.....sebuah kotak berbicara yang menawarkan gaya hidup, pola pikir, hiburan, informasi, dan pelayanan atau lebih tepatnya pemberhalaan...... sebuah budaya baru; budaya `Teve Junky`.&lt;br /&gt;7. SeX adalah (seperti) ganja pada tubuh penuh  cinta, sekedar penambah rasa. Untuk itu cinta lebih agung dibanding sekedar ganja.&lt;br /&gt;&lt;created&gt;8. Kenapa aku tak pernah habis pikir kenapa banyak manusia tak lagi menggunakan kesempurnaannya untuk menyelesaikan masalah hidupnya, mereka malah pergi ke paranormal, dukun, bahkan memohon bantuan jin dan setan. Padahal bila kita berpikir dari sudut pandang yang berbeda begitu banyak karunia tersembunyi yang ada dalam tubuh dan jiwa kita untuk dikelola dan dimanfaatkan. Mereka malah pasrah dan ambil jalan pintas menyelesaikan masalah (dan lebih ekstrim lagi “bunuh diri”). Aku percaya Tuhan (Allah.swt) takkan pernah menciptakan sesuatu sia-sia meskipun itu akan menyakitkan kita, aku yakin pasti ada akhlak mulia disetiap peristiwa, agar kita belajar, agar kita sadar, agar kita mawas dan semua demi kebaikan kita sendiri.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5746649461231290204-2401167207449751292?l=adhityamencarimakna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/feeds/2401167207449751292/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5746649461231290204&amp;postID=2401167207449751292&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/2401167207449751292'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/2401167207449751292'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/2008/10/what-is-life.html' title='What is life ?'/><author><name>Adhitya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13803213516125201732</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_y6MPqq5kf9o/SP1iBud8aFI/AAAAAAAAAAU/S6qVzwAoXto/S220/100_0085.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5746649461231290204.post-5376297263527969302</id><published>2008-10-21T11:52:00.000+07:00</published><updated>2009-02-03T19:16:08.689+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Self Contemplation'/><title type='text'>Kehidupan ?</title><content type='html'>Apa itu kehidupan? Kenapa kita selalu mempertanyakannya? Lalu apa yang kita cari dan yang mau kita tinggalkan di kehidupan ini? Apa yang terjadi kemudian? Mengapa bisa begitu? Kemana perginya kehidupan ini?….Ah Diamlah, terlalu banyak pertanyaan…..tapi apakah benar terlalu banyak pertanyaan?, bukannya pertanyaan itu tak ada jawaban pastinya? Lalu buat apa kita mesti mempertanyakannya? Kalau begitu pertanyaannya apa dong ???. Aku pikir mempertanyakan apa yang patut dipertanyakan dari apa yang ada dalam kehidupan adalah hakikat kehidupan itu sendiri. Bukankah karena itu kita selalu mengangap diri kita superior dibanding mahluk lain di alam semesta ini? Kita mempertanyakan segala sesuatu bukan hanya untuk mencari jawaban, tetapi lebih untuk memuaskan nafsu keingintahuan kita pada semua yang ada. Satu jawaban menelurkan seratus pertanyaan baru. Menjadi bilangan tak terhingga hingga menjadi lupa alasan buat apa kita mempertanyakannya. Dan semua bersumber dari satu pertanyaan. Pertanyaannya adalah “apa ?”.  Lalu kenapa aku menulis ini semua? Well,..I think it might be usefull some day.&lt;br /&gt;Orang bijak bilang kehidupan itu tidaklah perlu terlalu hebat dan cepat. Yang terpenting adalah merasa puas dan bersyukur. Bukan berarti tidak berambisi, tapi hanya jangan menancap gas mobil kehidupan terlalu dalam. Teruslah maju namun jangan melupakan melihat pemandangan di sekitar itulah yang penting. “Taukah engkau ‘puncak kehidupan tercapai ketika kita amat bahagia menjadi orang biasa ?’, kata seorang bijak padaku. Memang sulit sekali menempuh jalan seperti itu. Ya…hidup itu memang sulit, benar-benar sulit. Tapi bukan berarti harus memusuhinya apalagi menambah kesulitan dengan berlebihan menyalahkan diri sendiri. “Orang salah itu biasa, tapi memetik pelajaran itu luar biasa”, kata Roosevelt. “Masa kita mau kalah dengan keledai? Jatuh dilubang yang sama berkali-kali.  Karenanya tertawalah seikhlas jantungmu berdenyut. Itu bisa menjadi kesenangan pelipur lara. “Hidup ini penuh guyonan konyol tentang manusia”. Ya, begitulah kehidupan….Jangan terlalu dianggap serius, nanti bisa dibikin mabuk padanya hingga takmau berpisah darinya.&lt;br /&gt;Ngomongin soal Kehidupan takkan terlepas pada Alam. Kita bernafas pada ruang yang bernama “Bumi”. Karnanya Kita tunduk pada Hukumnya. “Apa itu?”. Contohnya Hukum alam mengatur bahwa Orang Kaya pasti sedikit, dan Orang Miskin (Baca Gagal) pasti banyak. Mengapa kedua golongan ini selalu berselisih? Masalahnya mungkin adalah bahwa Orang kaya perlu mengerti kehidupan orang miskin dan Orang miskin perlu mengetahui sistem kerja orang kaya. Well, Jujur saja semua orang tidak mau hidup miskin. Terlepas dari materialisme dan dogma agama, manusia perlu materi untuk menghidupi tubuh dan egonya. Masalahnya, kenapa banyak orang gagal meraihnya? Aku pikir masalahnya bukan terletak dari hasrat menggebu, tapi dari impian. Impian adalah bahan bakar ramah lingkungan yang bisa terus menghidupi semangat, ambisi dan konsistensi dalam merubah kehidupan. So what?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5746649461231290204-5376297263527969302?l=adhityamencarimakna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/feeds/5376297263527969302/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5746649461231290204&amp;postID=5376297263527969302&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/5376297263527969302'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/5376297263527969302'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/2008/10/kehidupan.html' title='Kehidupan ?'/><author><name>Adhitya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13803213516125201732</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_y6MPqq5kf9o/SP1iBud8aFI/AAAAAAAAAAU/S6qVzwAoXto/S220/100_0085.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5746649461231290204.post-1321214564323710087</id><published>2008-10-21T11:37:00.000+07:00</published><updated>2009-02-03T19:16:25.772+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='uneg-uneg'/><title type='text'>akhirnya punya juga blog</title><content type='html'>akhirnya punya juga blog pribadi. setelah memendam keinginan bertahun-tahun pengen punya blog sendiri tapi terkendala gaptek internet, sekarang keinginanku terwujud.&lt;br /&gt;this is my first ever blog, so please dont judge me so harshly my dear fellow blogger.&lt;br /&gt;wish you visit my blog...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5746649461231290204-1321214564323710087?l=adhityamencarimakna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/feeds/1321214564323710087/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5746649461231290204&amp;postID=1321214564323710087&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/1321214564323710087'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5746649461231290204/posts/default/1321214564323710087'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhityamencarimakna.blogspot.com/2008/10/akhirnya-punya-juga-blog.html' title='akhirnya punya juga blog'/><author><name>Adhitya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13803213516125201732</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_y6MPqq5kf9o/SP1iBud8aFI/AAAAAAAAAAU/S6qVzwAoXto/S220/100_0085.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
