25 Januari 2009

Memaafkan Seseorang

Setiap manusia pasti pernah mengecap rasa marah, baik kepada orang asing maupun pada orang yang dikasihi. Setiap orang juga pasti pernah memuntahkan rasa marah tersebut kepada si penyebab rasa marah yang biasanya dilakukan secara berlebihan dan kemudian menyadari bahwa menuruti nafsu marah itu justru membawa luka yang lebih dalam pada hubungan dengan orang tersebut. Lalu bagaimanakah sebaiknya mengelola rasa marah tersebut agar tidak kembali memukul kita dibelakang?

Apakah Anda sering marah kepada orang yang seharusnya dikasihi, seperti pasangan atau orang tua? kemarahan yang begitu tak tertahankan karena penyebab kemarahan itu selalu diulang-ulang? Merasa tidak berdaya atas keadaan Anda, merasa tidak dianggap, kemudian frustasi dan melampiaskan kemarahan itu dengan kata-kata kasar berharap orang terkasih itu menjadi mengerti kekalutan hati Anda, namun yang terjadi biasanya justru sebaliknya. Kemarahan hampir selalu dibalas dengan kemarahan, kesedihan, kebencian, dan terburuk... rasa dendam!

Melampiaskan bara kemarahan itu ibarat api yang melahap segala yang ada, hanya abu kehampaan dan penyesalan yang menanti. Tetapi menelan sendiri kemarahan itu hanya justru menyebabkan rasa semakin sesak di dada, meracuni kepala dengan imajinasi destruktif dan berpotensi menumbuhkan penyakit hati. Lantas apa yang bisa kita dilakukan? Menghindari rasa marah justru tidak mungkin, karena bahkan petapa yang hidup menyendiri di pegunungan juga bisa terkena rasa marah. Bersikap tidak peduli pada segala sesuatu juga tidak bisa membantu, karena rasa marah tidak bisa hilang dengan ketidakpedulian. Satu-satunya kekuatan yang bisa menaklukan rasa marah itu adalah rasa Cinta.

Sudah banyak lagu yang mengeksploitasi kata cinta, tetapi banyak dari kita yang selalu bersenandung syair cinta justru kalah ketika rasa cinta itu diuji dengan kemarahan. Sudah banyak pula dari kita yang merasakan anugerah Cinta sejati dan terheran-heran akan definisi cinta, namun ketika dihadapkan dengan kemarahan justru banyak dari kita kembali kesifat dasar kita yang selalu mementingkan diri sendiri diatas pengorbanan cinta kemudian bertekuk lutut pada amarah yang memburu. Sudah lupakah kita pada janji kita dulu pada diri kita sendiri, bahwa kita akan selalu memberikan yang terbaik bagi orang yang kita kasihi, mengabdikan waktu kita demi kebahagiaannya? Namun apa yang terjadi, semudah itukah kita menyerah kalah?

Tak tahukah kita, bahwa bibit rasa marah yang ditanamkan di dada kita itu adalah bagian dari rencana Tuhan, sebagaimana hidup kita. Bahwa kehidupan kita dengan orang yang kita kasihi itu justru akan semakin berwarna apabila dengan rasa marah itu kita bisa lebih saling memahami, alih-alih saling menyalahkan. Bahwa dengan dengan rasa marah itu Tuhan ingin kita menyadari, seberapa tuluskah kita mengkasihi, seberapa jujurkah janji kita pada diri kita sendiri. Bahwa Tuhan itu sangat peduli pada kita dengan memberikan rasa marah itu. Karena Tuhan ingin kita menjadi orang yang hebat dalam kehidupan ini dengan menaklukan nafsu pelampiasan kemarahan itu. Bayangkan saja jika kekuatan cinta itu tidak diuji dengan kemarahan, tentu ia menjadi biasa saja dan sungguh membosankan bila hari-hari selalu monoton dengan kebahagiaan selamanya.
(Meskipun "live happily ever after" itu selalu menjadi tema roman percintaan, namun pada prakteknya sungguh tidak masuk akal)

Lebih lanjut lagi, memaafkan seseorang (termasuk orang yang kita cintai) tidak membuktikan bahwa kita dipihak yang salah, lemah, kalah, dan tidak berdaya. Karena apa yang dibisikan hati ketika kita marah adalah tidak benar karena cenderung sudah terkontaminasi dengan kekuatan negatif. Satu hal yang pasti, memaafkan orang yang kita cintai, meskipun itu tampaknya adalah perbuatan yang tak termaafkan membuktikan seberapa besar jiwa kita, seberapa lapang rasa ikhlas kita. Bukan demi orang yang kita kasihi, namun sebagai bukti bagi diri kita sendiri. Ada peribahasa bahwa Manusia akan menunjukan sifat aslinya ketika ia marah, karena itu buktikanlah pada diri kita sendiri, seberapa tangguhkah rasa cinta kita ketika diuji dengan kemarahan.

Bahkan manusia tersuci seperti Nabi Muhammad pun pernah marah, namun sejarah tidak pernah mencatat beliau pernah menyerahkan kemarahan itu pada bisikan syetan. Itu karena Beliau mengerti dan berharap kita bisa belajar darinya, bahwa kemarahan selayaknya rasa cinta dan kebahagian adalah bagian dari ujian kita di dunia. Jika kita berharap akan menjadi orang besar maka bersikaplah seperti orang besar, yang dikagumi orang lain akan kebesaran hatinya.


Akhir kata, Memaafkan seseorang itu butuh jiwa yang besar, melampaui rasa marah dengan kasih sayang itu lebih sulit lagi, maka tidak banyak yang bisa melakukannya. Namun bagi yang mampu, Tuhan sudah menjanjikan baginya kehidupan yang lebih baik...


(aku tulis curahan hati ini setelah berhasil mengelola kemarahan luar biasa pada orang tuaku yang membuatku frustasi, yang hampir saja membuatku kehilangan akal terbaikku untuk menyerahkan mulut dan sikap pada bisikan jahat)

3 komentar:

sukma87 mengatakan...

makasih ya untuk artikelnya, sangat membantu diriku di saat-saat seperti ini,.....

dan salam kenal ya,

sukma, ^_^

ira afsri mengatakan...

berat....
memaafkan bisa...melupakan susah ...

Anonim mengatakan...

thx mas...

ijin copy pastenya..
semoga ku bisa memaafkan dengan ikhlas..